ASPEK
TEKNIS OPERASIONAL, STRATEGI DAN PENDEKATAN LAYANAN
Tercapainya
kegiatan bimbingan dan konseling kelompok yang sukses dan bermanfaat sangat
ditentukan oleh kualitas prencanaan dan aplikasinya oleh konselor selaku
inisiator dan sekaligus pemimpin kelompok saat kegiatan. Konselor/pemimpin
kelompok harus mencurahkan banyak waktu untuk merinci arah kegiatan bimbingan
kelompok dan/atau konseling kelompok.
A. ASPEK
TEKNIS OPERASIONAL LAYANAN
Hal-hal yang perlu diperhatikan oleh guru
Bk/Konselor dalam aspek teknis operasional layanan bimbingan dan konseling
kelompok,yaitu: mulai dari merekrut anggota, melakukan penyaringan dan pemilihan
anggota, menentukan ukuran dan durasi dari kegiatan kelompok, memprediksi
frekuensi dan waktu pertemuan, membuat struktur dan format kelompok, memilih
metode atau pendekatan, melakukan pengategorian kelompok sampai dengan prosedur
tindak lanjut dan evaluasi. (Corey, & Corey, 2010: 113).
1. Pembentukan
Kelompok
Perhatian
yang cermat dalam tahap pembentukan kelompok memiliki keterkaitan yang penting
dengan hasil-hasil yang akan dicapai oleh kegaitan bimbingan dan konseling
kelompok. Menurut Prayitno, (2012 : 165) bahwa kelompok untuk layanan bimbingan
kelompok dan/atau konseling kelompok dapat dibentuk melalui pengumpulan
sejumlah individu (siswa dan individu lainnya) yang berasal dari:
a. Satu
kelas siswa yang dibagi ke dalam beberapa kelompok.
b. Kelas-kelas
siswa yang berbeda dihimpun dalam sau kelompok, dan;
c. Peserta
dari lokasi dan kondisi ynag berbeda di kumpulkan menjadi satu kelompok.
Pengelompokan individu itu dibentuk
dengan memperhatikan aspek-aspek relatif homogenitas dan heterogenitassesuai
dengan tujuan layanan. Dan hasil instrumentasi instrumentasi, himpunan data dan
sumber-sumber lainnya dapat menjadi perimbangan dalam pembentukan kelompok.
Penempatan seseorang dalam kelompok tertentu dapat merupakan penugasan,
penetapan secara acak, ataupun pilihan bebas individu yang bersangkutan. Dalam
pada itu, seseorang atau lebih dapat ditempatkan dalam kelompok tertentu untuk
secara khusus memperoleh layanan bimbingan kelompok dan/atau konseling
kelompok.
2. Jarak
dan Posisi Duduk
Brown
(1994: 64) menyatakan bahwa tempat duduk harus senyaman mungkin tanpa meja
sebagai pengahalang. Jarak tempat duduk anatar anggota satu dengan yang lainnya
diupayakan tidak terlalu lebar atau terlalu rapat.
Jarak duduk ideoal dalam
kegaitan bimbingan dan konseling kelompok adalah ± 30 cmdiukur dari jarak bahhu
antar anggota kelompok dan dapat disesuaikan dengan kondisi-kondisi tertentu.
Layanan bimbingan kelompok dan konseling kelompok dilakukan dengan cara duduk
melingkar. Adapun tujuan dari duduk melingkar yaitu:
a. Dapat
merespon pendapat teman dalam anggota kelompok dengan tepat;
b. Dapat
menimbulkan rasa empati sesama anggota kelompok
c. Saling
menumbuhkan motivasi, dan;
d. Menimbulkan
emosi dan semnagat anatar anggota kelompok.
3. Besaran
Peserta
![]() |
Ukuran dan jumlah yang diinginkan untuk kegiatan bimbingan dan konseling kelompok tergnatung pada faktor-faktor seperti usia konseling, tingkat pendidikan, jenis maslah, dan lain-lain sebagainya. Secara umum, kelompok harus memiliki cukup banyak orang untuk menciptakan interaksi yang mendalam anataranggota kelompok.
![]() |
Corey, (2017: 75) menjelaskan bahwa jumlah peserta bimbingan dan konseling kelompok yang ideal adalah 8 (delapan) orang dan kelompok-kelompok dengan anak kecil dilakukan seperti 3-4 (tiga sampai empat) orang. Sementara itu menurut Prayitno (2012 : 158) menyebutkan jumlah peserta yang lebih efektif dalam kegiatan bimbingan dan konseling kelompok yaitu sebanyak 10 (sepuluh) orang.
Dengan demikian
dapat disimpulkan bahwa peserta kegiatan bimbingan dan konseling kelompok yaitu
sebanyak 8-10 (delapan samapai 10) orang.
4.
Variasi
Peserta
Perubahan yang intensif dan mendalam
memerlukan sumber-sumber yang bervariasi. Layanan bimbingan dan konseling
kelompok memerlukan anggota kelompok yang dapat menjadi sumber-sumber yang bevariasi
untuk membahas suatu topik atau memecahkan masalah tertentu.
Dahulu ada anggapan bahawa bimbingan
kelompok atau konseling kelompok harus diikuti oleh para peserta yang
berkondisi sama dan mengalami masalah yang sama. Dewasa ini pendapat itu tidak
lagi relevan. Dinamika kelompok yang kaya dan bersemangat meemerlukan kondisi
anggota kelompok yang relatif heterogen, sehingga terjadi proses saling memberi
dan menerima, saling mengasah, saling merangsang dan merespon berkenaan dengan
materi yang bervariasi. Dengan dinamika yang demikian itu setiap anggota
kelompok diharapkan memperoleh hal-hal baru bagi peningkatan kualitas
dirinyasebagai hasil layanan.
Menurut Corey, (2012:75) bahwa
konselor/pemimpin kelompok harus mempu memutuskan komposisi peserta kegiatan
bimbingan dan konseling kelompok yang diselenggarakan. Kegiatan bimbingan dan
konseling kelompok wajib memperhatikan aspek homogenitas dan heterogenitas
peserta kegaitan. Homogenitas yaitu terdiri dariorang-orang yang memiliki
kesamaan, misalnya usia (anak-anak, remaja, atau untuk orang tua), atau
berdasarkan kepentingan bersama atau maslaah. Maksud dari pembentukan kelompok
homogen yaitu untuk mendorong terciptanya ikatan yang kuat antaranggota
kelompok.
Heterogen kelompok memwakili mikrokosmos
struktur sosial yanga dadi dunia sehari-hari dan menawarkan peserta kesempatan
untuk bereksperimen dengan perilaku baru, mengembangkan keterampilan sosial,
dan mendapatkan umpan balik dari banyak sumber yang beragam. Jika simulasi
kehidupan sehari-hari yang diinginkan, sangat baik untuk memiliki berbagai
usia, ras, latar belakang etnis dan budaya, gender dan identitas seksual, dan
berbagai maslah. Heterogenitas dalam kelompok akan menjadi sumber yang lebih
kaya untuk pencapaian tujuan layanan. Pembahasan dapat ditinjau dari berbagai
sesi, tidak monoton, dan terbuka. Heterogenitas dapat mendobrak dan memecahkan
kebekuan ynag terjadi akibat homogenitas anggota kelompok.
Heterogenitas yang dimaksud tentu buka
asal beda. Untuk tingkat oerkembangan atau pendidikan, hendaklah jang
dicampurkan siswa SD, dan SLTP atau SLTA dalam satu kelompok; demikian juga
orang dewasa dengan anak-anak dalam satu kelompok. Dalam kedua aspek ini
diperlukan kondisi yang relatif homogen untuk menghindari kesenjangan yang
terlalu besar dalam kinerja kelompok.
Setelah homogenitas relatif terpenuhi, maka
kondisi heterogen diupayakan, terutama terkait dengan permasalahan yang hendak
dibahas dalam kelompok. Apabila yang hendak diahas adalah permaslahan “tinggal
kelas” misalnya, maka peserta kelompk hendaklah campuran dari mereka yang
tinggal kelas dan tidak tinggal kelas. Dengan kondisi seperti itu, mereka ynag
tinggal kelas akan mendapat bahasan dan masukan dari mereka yang tidak tinggal
kelas,sedangkan mereka yang tidak tinggal kelas di satu sisi, dan di sisi lain
dapat mengantisipasi serta meneguhkan diri untuk tidak tinggal kelas. Demikian
juga untuk berbagai permasalahan, memerlukan kondisi heterogenitas anggota
kelompok dalam layanan bimbingan kelompok dan konseling kelompok (Prayitno,
2012:160).
5.
Tempat
Pelaksanaan
Aspek teknis operasional yang tidak kalah
penting dalam kegaitan bimbingan dan konseling kelompok yaitu menyangkut tempat
pelaksaan kegiatan. Menurut Prayitno (2012: 183) bimbingan dan konseling
kelompok diselenggarakan di tempat-tempat yang cukup nyaman bagi para peserta,
baik di dalam ruangan maupundi luar ruangan.
Dalam memilih tempat pelaksanaan bimbingan
dan konseling kelompok konselor/pemimpin kelompok harus mempertimangkan
keamanan (fisik), tingkat kenyamanan (psikologis) dan sedapat-dapatnya menjamin
asas-asas alayanan bikbingan dan konseling kelompok utaamanya asas kerahasiaan.
Pada
umumnya pemilihan tempat di dalam ruangan untuk kegaitan konseling kelompok,
sedangkan di luar ruangan untuk kegiatan bimbingan kelompok.
6.
Penggunaan
dan Pemiluhan Bahasa
Dalam pelaksaan kegiatan layanan bimbingan
dan konseling kelompok maka konselor/pemimpin kelompok perlu memperhatikan penggunaan
dan pemilihan bahasa. Hal tersebut sangat terkait dengan nilai, rsa dan bahasa
itu semdiri dikemas dan disajikan kepada konseli/anggota kelompok demi
menyukseskan kegiatan layanan bimbingan kelompok atau konseling kelompok.
Bahasa dengan istilah-istilah “asing” atau
”akademik” mungkin cocok dengan konseli/anggota kelompok dalam rentang usia
dewasa dan mengenyam pendidikan yang baik. Sebaliknya, konselor/pemimpin
kelompok tidak cocok menyajikan istilah-istilah tersebut bagi karakteristik
konseli/anggoa kelompok yang kurang bahkan tidak memahmi hal tersebut. Apabila
istilah-istilah “asing” atau “akademik” memang harus untuk disebukan, sebaiknya
konselor/pemimpin kelompok juga menjelaskan arti dari atau makna (kalau bisa dengan
contoh konkritnya) dari istilah tersebut agar mudah dipahami oleh
konseli/anggota kelompok.
7.
Alokasi
Waktu
Layanan bimbingan kelompok atau konseling
kelompok dapat diselnggagarakan pada sembarang waktu, sesuai dengan kesepakatan
anatara konselor/pemimpin kelompom dengan para anggota kelompok, baik terjadwal
maupun tidak terjadwal.
Waktu penyelenggaraan untuk layanan
bimbingan kelompok atau konseling kelompok sekitas 1-2 jam/pertemuan. Pertemuan
pertama (sesi pertama) bimbingan kelompom atau konseling kelompok biasanya
memakan waktu yang lebih lama untuk tahap pembentukan, dan sesi-sesi berikutnya
lebih didominasi oleh tahapan kegaiatan.
Waktu penyelenggaraan sebesar ± 120 menit
harus dapat dipilih dengan baik oleh konselor/pemimpin kelompok. Dalam kurun
waktu tersebut semua penahapan kegaitan bimbingan kelompok atau konseling
kelompom harus terdistribusi dengan baik. Adapun (estimasi) distribusi waktu per
penahapan kegaitan dalam layanan bimbingan kelompok dilihat pada Tabel 4.1 dan
layanan konseling kelopok pada Tabel 4.2 berikut.
Tabel 4.1
![]() |
Estimasi Penggunaan Waktu Layanan Bimbingan Kelompok
Tabel 4.2
![]() |
Estimasi Penggunaan Waktu Layanan Konseling Kelompok
Estimasi waktu di
atas tidaklah bersifat mutlak melainkan dapat di kondisikan sesuai dengan
kebutuhan anggota kelompok dan karakteristik masalah/topik bahasan yang sedang
dibahas dalam kegiatan layanan bimbingan kelompok dan konseling kelompok.
Banyaknya sesi untuk penyelenggaraan layanan bimbingan kelompok atau konseling
kelompok tergantung pada keperluan dan kesempatan yang tersedia. Untuk
pencapaian tujuan yang lebih lengkap dan menyeluruh, dapat diselenggarakan
kegiatan kelompok maraton, yaitu kegiatan bimbingan kelompok dan/atau konseling
kelompok dengan jumlah sesi (3-8 sesi) secara terus menerus dengan selingan
istirahat seperlunya.
Dengan kegiatan
maraton ini diselenggarakan satu hari penuh atau lebih, banyak topik dan masalah
dapat dibahas dan/atau diupayakan pengentasaanya. Sedapat-dapatnya semua topik
dan masalah yang dikemukakan/dialami masing-masing anggota kelompok dapat
dilakukan dan diupayakan pengentasannya.
8.
Mitra
Kegiatan (co-leader)
Dalam memimpin kegiatan kelompok,
bimbingan kelompok dan/atau konseling kelompok, konselor/pemimpin kelompok
dapat diabntu oleh seorang mitra. Mitra konselor/pemimpin kelompok ini (co-leader) berfungsi membantu
konselor/pemimpin kelompok untuk lebih mengefektifkan dan memperkaya dinamika
kelompok. Keuntungan memiliki co-leader, yaitu:
anggota kelompok dapat memperoleh dari sudut pandang dua pemimpin; mempertegas
sudut pandang terhadap topik bahasan yang sedang dibahas, membantu
konselor/pemimpin kelompok melakukan pengawasan terhadap anggota kelompok yang
kurang fokus, membantu konselor/pemimpin kelompok selama pelatihan (jika ada),
dan menyediakan umpan balik bagi anggota kelompok. Mitra ini dapat menambah
apa-apa yang dikemukakan oleh konselor/pemimpin kelompok, tetapi tidak boleh mengatasi
atau menangani, apalagi menandingi konselor/pemimpin kelompok. Aspek-aspek
administratif dapat ditangani oleh mitra konselor/pemimpin kelompok. (Corey,
& Corey, 2010; Prayitno, 2012).
B. STRATEGI LAYANAN BMB3
Strategi layanan bimbingan kelompok atau
konseling kelompok sangat berkaitan dengan dinamika perkembangan individu dalam
hal menyerap materi pembelajaran yang difasilitasi oleh konselor/pemimpin
kelompok. Melalui proses pembelajaran peserta didik menerima berbagai materi
pembelajaran dari topik pembahasan dari kegiatan bimbingan kelompok atau
masalah anggota kelompok yang dijadikan pembahasan dalam kegaitan konseling
kelompok. Dengan membahas topik/masalah dalam kegiatan bimbingan kelompok atau
konseling kelompok diharapkan anggota kelompok dapat belajar banyak hal
terutama hal-hal yang bergna bagi pengembangan dirinya secara optimal.
Sesungguhnya, apabila peserta didik memang
belajar dari apa yang mereka terima itu, maka mereka akan memperoleh dan
menguasai sesuatu yang baru, yang bermakna dan berguna bagi pribadi mereka yang
hidup dan menghidupka; berkembang, sejahtera dan bahagia dalam kategori
karakter-cerdas. Sebaliknya, alangkah menyedihkan apabila hasil pendidikan itu
justru berujung pada kehidupan; berkembang, sejahtera dan bahagia dalam kategori
karakter-ceras. Sebaliknya, alanglah menyedihkan apabila hasil pendidikan itu
justru berujung pada kehidupan yang bertentangan dengan kehidupan yang
berkarakter-cerdas (Prayitni, 2010:79).
Strategi pembelajaran melalui layanan
bimbingan kelompok dan konseling kelompok sedapat-dapatnya menggunakan strategi
transfoormasional yaitu proses perubahan yang terjadi pada diri seseorang
(dalam hal ini anggota kelompok) sebagai akibat dari rangsangan dan/atau
perlakuan dari seseorang dan/atau lingkungan (dalam hal ini konselor/pemimpin
kelompok dan/atau anggota kelompok lainnya) yang berdapak terjadinya perubahan
yang positif pada diri anggota kelompok. Konselor/pemimpin kelompok wajib
menghindari strategi transaksional yang berarti pemindahan sesuatu dari
seseorang (dalam hal ini konselor/pemimpin kelompok dan/atau berasal dari
anggota kelompok lainnya) ke orang lain (dalam hal ini anggota kelompok).
Proses pembelajarang yang berpola tranfer
of knowledge merupakan proses yang sekedar bersifat transaksional.
Untuk dapat menajalankan strategi
transformasional, maka layanan bimbingan dan konseling kelompok haruslah
dijalankan dengan manganut dinamika dasar kehidupan manusia pada umumnya.
Menurut Prayitno, (2015: 40) bahwa gerak energi dasar kehidupan yang ada pada
diri setiap individu manusia itu, terselenggarakan dengan muatan dinamika
kehidupan dalam arah dan bentuk: berpikir, merasa, bersikap, bertindak dan
bertanggung jawab (BMB3). Dinamika BMB3 ini besinergi/berkimiawi, selain dengan
energi dasar, juga dengan unsur-unsur harkat dan martabat manusia sebagimana
arah fungsional.
Pelaksanaan kegiatan bimbingan kelompok
dan konseling kelompok merupakan medan yang sangat baik untuk dikembangkan
kemampuan BMB3 melalui aktualisasi dinamika kelompok yang dapat terjadi secara
intensif dan efektif pada layanan bimbingan kelompok dan konseling kelompok.
Konselor secara piawai mengembangkan kemampuan BMB3 di anatara setiap anggota
kelompok.
Dalam menghadapi segenap sasaran atau
fokus kehidupan sehari-hari, sepanjang hidupnya, aktivitas kehidupan individu
manusia sesungguhnya diwarnai oleh dinamika BMB3 yang ada pada dirinya.
Konselor/pemimpin kelompok wajib memanfatkan hal tersebut untuk mewarnai
pelaksaan kegiatan bimbingan dan konseling kelompok agar tecipta kondisi
optimal dinamika BMB3 yang diharapkan sebagaimana yang dikemukakan oleh
Prayitno, (2015: 41) adlah dalam keadaan 5-AS yaitu: (1) berikir yang cerdas,
(2) merasa dalam kondisi yang terkemas, (3) bersikap yang mawas diri, (4)
bertindak yang tangkas, dan (5) bertanggung jawab dengan tuntas.
Tabel 4.3
Garis Besar Penjabaran Strategi BMB3 dan
Layanan Bimbingan dan Konseling Kelompok.
No
|
Dinamika
Kehidupan
|
Bimbingan
Kelompok
|
Konseling
Kelompok
|
Arah
Pengembangan dan Analisis
|
1
|
Berfikir
|
Anggota
kelompok diminta untuk memikirkan secara cerdas segala sesuatu yang berkenaan
dengan topik bahasan
|
Anggota
kelompok diminta untuk memikirkan secara cerdas segala sesuatu yang berkenaan
denga masalah yang dialami oleh anggota kelompok yang maslahnya dibahas
|
What?.. Apa?
Where?..
Dimana?
When?.. Kapan?
Who?.. Siapa?
Whay?..Mengapa?
How?..
Bagaimana?
|
2
|
Merasa
|
Anggota
kelompok diminta untuk mengemas perasaan secara mendalam terkait topik
bahasan
|
Anggota kelompok
diminta untuk mengamas perassan secara mendalam terkait masalah yang dialami
oleh anggota kelompok yang maslahnyya sedang dibahas
|
What?.. Apa?
Where?..
Dimana?
When?.. Kapan?
Who?.. Siapa?
Whay?..Mengapa?
How?..
Bagaimana?
|
3
|
Bersikap
|
Anggota kelompok
diminta untuk bersikpa yang tepat (mawas) terkait topik bahasan
|
Anggota
kelompok diminta untuk bersikap (mawas) terkiat maslah yang dialami oleh
anggota kelompok ynag maslahnya sedang dibahas
|
What?.. Apa?
Where?..
Dimana?
When?.. Kapan?
Who?.. Siapa?
Whay?..Mengapa?
How?..
Bagaimana?
|
4
|
Bertindak
|
Anggota
kelompok diminta mengambil tindakan dengan tangkas terkait topik bahasan
|
Anggota
kelompok diminta mengambil tindakan dengan tangkas terkiat menghadapi maslah
yang dialami oleh anggota kelompok yang maslahnya sedang dibahas.
|
What?.. Apa?
Where?..
Dimana?
When?.. Kapan?
Who?.. Siapa?
Whay?..Mengapa?
How?..
Bagaimana?
|
5
|
Bertanggung
Jawab
|
Anggota
kelompok diminta untuk menunaikan dengan tuntas segala aspek yang berkenaan
dengan topik bahasan
|
Anggota
kelompok diminta untuk melakukan realisasi konkrit dan tutas segala sesuatu
yang membantu terentaskan-nya masalah yang dialami oleh anggota kelompok yang
masalahnya sedang dibahas
|
What?.. Apa?
Where?..
Dimana?
When?.. Kapan?
Who?.. Siapa?
Whay?..Mengapa?
How?..
Bagaimana?
|
Dengan melihat Garis Besarnya Penjabaran
Strategi BMB3 dan arah pengembangan analisis dalam layanan bimbingan kelompok
dan/atau konseling kelompok, maka konselor/ pemimpin kelompok dapat merangsang
anggota kelompok, untuk:
1. Berpikir, dalam kondisi cerdas untuk menelaah,
mendalami, merenungkan maslah/topik pembahasan dalam bimbingan kelompok atau
konseling kelompok.
2. Merasa, dalam kondisi terkemas terhadap apa yang
dirasakan dan dialami oleh orang lain terkait masalah/topik pembahasan dalam
bimbingan kelompok atau konseling kelompok.
3. Bersikap, dalam kondisi mawas terhadap potensi-potensi
yang menghambat, merugikan, mengurangi nilai-nilai kehidupan seseorang
berdasarkan masalah/topik pembahasan dalam bimbingan kelompok atau konseling
kelompok.
4. Bertindak,
dalam kondisi tangkas
terhadap situasi yang berkembangn baik yang terjadi di dalam maupun di luar
kehidupan pribasi anggota kelompok.
5. Bertanggung
Jawab, dalam kondisi tuntas terhadap segala sesuatu
hal yang menjadi wilayah kehidupan dan komitmen yang dibuatnya.
Dinamika Berfikir, Merasa, Bersikap, Bertindak dan
Bertanggung Jawab dalam kegiatan
bimbingan kelompok atau konseling kelompok haruslah bersinergi satu sama dalam
mengurai masalah/topik bahasan. Konselor/pemimpin kelompok memfasilitasi,
mengisi, menjebatani dan mendorong anggota kelompok untuk ber-BMB3 dengan
sebaik-mungkin. Hal-hal yang sifatnya penting (primer—masalah pokok/inti) untuk diuraikan terlebih dahulu sesegera
mungkin di MBM3-kan kemudian dicari spesifikasinya. Terkadang ditemui
konseli/anggota kelompok yang sulit untuk diajak ber-BMB3, untuk itu
konselor/pemimpin kelompor tak henti-hentinya memberikan dukungan untuk mulai
ber-BMB3 walaupun dari hal yang sifatnya sangat sederhana dan ada di sekitas
kehidupan konseli/anggota kelompok.
C. PENDEKATAN LAYANAN
Meskipun tujuan pelayanan bimbingan dan
koseling sepenuhnya menajdi kesepakatan bersama anatara anggota kelompok dengan
konselor/pemimpin kelompok, namun konselor/pemimpin kelompoklah yang memutuskan
apa teraik bagi para anggota kelompoknya. Untuk itu konselor/pemimpin kelompok
harus secara terbuka dalam mengungkapkan kepda anggoota kelompok tujuan luhur
dab arah kegiatan kelompok, termasuk pendekatan/teknik apa saja yang digunakan
selama bimbingan kelompok atau konseling kelompok berlangsung.
Konselor/pemimpin kelompok dalam memilih sejumlah pendekatan dalam melaksanakan
bimbingan kelompok atau konseling kelompok sebagai berikut (Prayitno, 1998;
Kottler, & Shepard, 2008; Corey, 2012)
1.
Psikoanalisis
Pendekatan
psikoanalisis dalam kegaitan bimbingan dan konseling kelompok memusatkan
perhatiannya terhadap pengaruh kehidupan mas alalu konseli/anggota kelompok
dengan kehidupannya saat ini. Pengalaman selama 6 tahun pertama kehidupan
dilihat sebagai akar satukonflik di masa kini.
Bagian
dari proses penting dari pendekatan psikoanalaisis yaitu konselor/pemimpin
kelompok menggunakan pengetahuannya untuk mempelajari tahapan perkembangan
konseli/anggota kelompok untu memahami pola di mana konseli/anggota kelompok
“bermasalah”. Konselor/pemimpin kelompok berfokus pda upaya untuk menciptakan
kembali, menganalisis, mendiskusikan dan yang tercermin dari adanya resistensi (perlawanan) dan mekanisme
pertahanan diri konseli/anggota kelompok yang beroperasi pada tingkat bawah
sadarnya.
Konselor/pemimpin
kelompok membantu konseli/anggota kelompok untuk mengungkapkan “rasa sakit” yang mereka rasakan yang
berasal dari pengalaman masa lampunya; membantu konseli/anggota kelompok untuk
mempercayai orang lain, dan sepenuhnya menerima diri mereka sendiri. Perlu
dicatat bahwa setiap penggunaan teknik dalam psikoanalaisis haruslah didasarkan
pada hasil tes psikologis dari tahap sebelumnya.
2.
Alderian
Pendekatan
Alderian, juga dikenal sebagai pendekatan “psikologi
individual” didasarkan pada apandangan “holistik”
orang. Manusia dalam pendekatan ini digambarkan sebagai sebuah unit yang tidak
terpisahkan. Fokusnya adalah pada pemahaman manusia seutuhnya dalam konteks
sosial baik itu dalam tatanan keluarga, sekolah dan tempat bekerja. Individu
terdiri atas pikiran, perasan, keyakinan, pola-pola perilaku, sifat-sifat dan
karakteristik, kreativitas yang semua itu adalah bentuk keunikan seseorang.
Bagian
dari proses penting dari pendekatan Alderian yaitu konselor/pemimpin kelompok
membantu konseli/anggota kelompok mengubah konsep tentang diri semdiri dengan
cara menstruktur dan menyadarkan life
style konseli/anggota kelompok; mmengurangi penilaian negatif tentang diri
sendiri dan mengatasi inferiority feeling
konseli/anggota kelompok; mengoreksi persepsi konseli/anggota kelompok tentang
lingkunganny dan mengembangkan tujuan-tujuan baru yang hendak dicapai melalui
tingkah laku baru konseli/anggota kelompok dan membangun kembaku social interest konseli/anggota kelompok.
Keterbatasan
pendekatan Alderian yaitu konselor/pemimpin kelompok mungkin mengalami
kesulitan untuk menggabungkan beberapa prosedur yang diarahkan untuk memberikan
pemahaman kepada konseli/anggota kelompok terkait masalah masa kecil
konseli/anggota kelompok dalam waktu yang singkat.
3.
Psychodrama
Pendekatan
psychodrama bertujuan untuk mendorong
kreativitas dalam individu dalam suatu kelompok. Gagasan tentang psychodrama didasarkan pda keyakinan
bbahwa setiap orang dapat menajdi lebih kreatif
dan dapat memajukan kreativitas dalam diri orang lain.
Konselor/pemimpin
kelompok menghiduplan kembali adegan dari masa lalu konseli/anggota kelompok
keudia memberikan kesempatan kepada konseli/anggota kelompok untuk memeriksa
bagaimana peristiwa itu memperngaruhi mereka pada saat itu dan bagaimana kaitan
masalah pada masa lalu tersebut dengan kondisi sekarang konselor/pemimpin
kelompok memutar peristiwa masa lalu tersebut “seolah-olah” terjadi di masa
kini selanjutnya kepada konseli/anggota kelompok memberikan arti baru untuk
setiap kejadian tersebut.
4.
Eksistensial
Pendekatan
eksistensial memberikan cara untuk melihat dan memahami individu dalam
kelomopok. Beberapa maslah yang dianggap tepat menggunakan pendekatan
eksistensial, yaitu mencakup maslah kesadaran/pemahaman diri, penentuan
tanggung jawab, kecemasan, mengalami kematian orang tercinta, rasa kehilangan,
pencaian makna hidup, pencarian ketulusan dan rasa kesepian.
Konselor/pemimpin
kelompok membantu konseli/anggota kelompok untuk mengatasi kekhawatiran mereka,
tidak hanya secara perilaku dan intelektual, tapi juga pengalaman dengan
memaksimalkan kemampuan mereka untuk mengubah diri mereka sendiri. Untuk mencapai
tujuan tersebut, konselor/pemimpin kelompok mengembangkan kemitraan
konseli/anggota dengan berfokus pda hubungan person-to-person. Konselor/pemimpin kelompok harus membawa
subjektivitas mereka sendiri dalam pekerjaan mereka dan sangat penting bahwa
mereka menunjukkan kehadiran jika konseli/anggota kelompok untuk mengembangkan
hubungan kerja yang efektif dengan konseli/anggota kelompok lainnya.
5.
Person-Centered
Pendekatan
person-centered lebih menekankan
kualitas pribasi konselor/pemimpin kelompok bukan hanya bersandar pada teknik
konseling semata. Fungsi utama dari konselor/pemimpin kelompok adalah untuk
menciptakan iklam yang mendukung “aliansi
therapeutic” dalam layanan bimbingan dan konseling kelompok.
Konselor/pemimpin kelompok menunjukkan kemampuan merasakan, menerima terhadap
diri mereka sendiri dan juga terhadap konseli/anggota kelompok.
Konselor/pemimpin kelompok dituntut memiliki sikap dan ketrampilan tertentu,
yaitu: mendengarkan secara aktif dan sensitif, menerima secara terbuka,
menghormati, merefleksi, mengklarifikasi, meringkas berbagi pengalaman pribadi.
Beberapa
masalah yang dianggap tepat menggunakan pendekatan person-centered, yaitu kebingunga, frustasi, perlawanan terhadap
kepercayaan ekspresi atau eksplorasi pribadi, pengambilan risiko, kepercayaan
diri, pengungkapan perasaan pribadi dan ekspresi perasaan negatif lainnya.
6.
Gestalt
Pendekatan
Gestalt memandang bahwa manusia tidak dapat dipahami, kecuali dalam keseluruhan
konteksnya; bagian dari lingkungannya dan hanya dapat dipahami dalam kaitanya
dengan lingkungannya; manusia dalah aktor bukan reaktor, berpotensi menyadari
sepenuhnya sensasi, emosi, persepsi dan pemikirannya;dapat memilih karena
sadar; mampu mengarahkan diri secara efektif; hanya mampu mengalami hal-hal
yang muncul sekarang (bukan masa lalu atau masa depan); dan bukan makhluk yang
pada dasarnya baik atau jelek.
Konselor/pemimpin
kelompok membantu konseli/anggota kelompok untuk memungkinkan konseli/anggota
kelompok menemukan kebutuhan-kebutuhan dirinya;mengungkapkan bagian dirikonseli/anggota
kelompok yang “tunduk” kepada lingkungan memberikan kesempatan kepada
konseli/anggota kelompok untuk menyatakan bahwa dirinya berkembang dan tidak
menafsirkan perilaku konseli, tetapi terfokus pada “apa” dan “bagaimana”
konseli sekarang.
7.
Analisis
Transaksional
Pendekatan
Analisis Transaksional menekankan pda hubungan interaksional komunikasi anatara
individu yang satu dengan orang lain dan juga menekankan pda aspek pengambilan
keputusan tertentu. Pendekatan ini meyakini bahwa konseli/anggota kelompok
mempunyai kapasitas untuk memilih dan dalam tingkat kesadaran tertentu individu
dapat menajdi mandiri dalam menghadapi persoalan hidupnya.
Transaksional
maksudnya ilah hubungan komunikasi anatara seseorang dengan orang lain. Adapun
hal yang dianalisis oleh konselor/pemimpin kelompok yaitu meliputi bagaimana
bentuk cara dan isi dari komunikasi konseli/anggota kelompok baik, dalam
kegaitan konseling kelompok atau di kehidupannya yang lebih luas (keluarga,
sekolah, pekerjaan dan masyarakat). Dari hasil analisis dapat ditarik
kesimpulan apakah transaksi yang terjadi berlangsung secara tepat, besar dan
wajar. Bentuk, cara dan isi komunikasi dapat menggambarkan apakah seseorang
tersebut sedang mengalami masalah atau tidak. Analisis transaksional
berpendapat bahwa dalam kepribadian seseorang terdapat unsur-unsur yang saling
berkaitan. Pendekatan ini juga menekankan fungsi dan pendekatan ego.
8.
Behavioral
Pendekatan
behaviour mengandung banyak variasi
dalam sudut pandangan. Oleh, karena itu, pendekatan behaviouristik dalam
konseling mengenal banyak variasi dalam prosedur, metode dan teknik yang
diterapkan. Pendekatan ini meyakini bahwa masalah perilaku tepat (sesuai) atau
tidak tepat (tidak sesuai) dengan situasi kehidupan sama-sama merupakan hasil
belajar. Karena tingkah laku yang salah itu juga sapat dihapus dan diganti
dengan tingkah laku yang tepat melalui suatu proses belajar.
Tingkah
laku ditentukan oleh aturan-aturan/hukum yang artinya adalah upaya urutan
terjadinya tingkah laku dalam kaitannya dengan suatu kejadian. Tingka laku juga
daoat diramalkan, artinya ada upaya yang tidaj hanya menguraikan tingkah laku,
namun juga untuk memprediksi tingkah laku yang akan tampil di masa yang akan
datang. Tingkah laku dapat dikontrol/dikendalikan, artinya individu dapat
mengantisipasi atau menetahui terlebih dahulu keluasaan aktivitas atau
perilakunya.
9.
Rational Emotif Behaviour Therapy
Pendekatan
Ration Emotif Behaviour Therapy (REBT)
didasarkan pada keyakinan bahawa manusia mampu berbuat rasional dan tidak
rasional dan dalam bentuk pikiran dan mera itu sangat dekat, bergandengan satu
sama lain. Pikiran dapat menjadi perasaan dan sebaliknya. Pendekatan ini lebih
menekankan pada aspek kognitif dan emotif konseli/anggota kelompok. Pandangan teori
ini mengarahkan konselor/pemimpin kelompok untuk emmbantu masalah yang dialami
konseli/anggota kelompok melalui upaya penggarapan kedua aspek ini melalui
pembuktian-pembuktian yang logis dan rasional. Diyakini juga bahawa tidak semua
masalah dapat didekati dengan cara memodifikasi dan membentuk kedua aspek
tersebut, faktor masa lalu juga berpengaruh, khususnya dalam perkembangan
kepribadian yang salah suai, dan juga faktor interaksi sosial anatara individu
dengan lingkungannya. Dalam hal ini pendekatan REBT mengabaikan hal-hal
tersebut.
10. Counseling
Reality
Penggunaan
pendekatan realitas lebih cocok digunakan dalam sesi konseling kelompok. Dalam
proses perkembangan hidup seseorang individu, terdapat kecenderungan dalam
dirinya untuk menganut sesuatu perasaan yang disebut dengan “succes identity” atau identitas berhasil
dan “failure identity” atau identitas
gagal. Adapun yang menjadi tujuan pendekatan konseling kelompok realitas ialah
membantu konseli/anggota kelompok mencapai “succes
identity”. Konseli/anggota kelompok yang “succes identity” akan melihat dirinya sebagai orang yang sanggup
memberi dan menerima cinta bagi dirinya sendiri maupun orang lain.
11. Pancawaskita
Kerangka
pendekatan konseling pancawaskita didasarkan pada pemikiran filosofis tentang
Gatra, yaitu sesuatu dengan sepenuh arti/makna dan kondisinya serta merupakan
isi keberadaan. Istilah “keberadaan” disini meliputi pencipta dan ciptaannya
beserta segenap kondisi yang terkandung dan menyertainya.
Sebagai
kerangka konseling eklektik, maka konseling pancawaskita menekankan kemampuan
konseli/anggota kelompok untuk dapat memberikan arti dari luar (ADL) kepada
gatra di luar diri dan kepada diri sendiri dan interaksi keduanya.
Konselor/pemimpin kelompok berupaya untuk menganalisis: Ketakwaan yang
terputus, Daya cipta yang lemah, Daya rasa yang tumpul, Daya karsa yang mandeg,
Daya karya yang mandul, Gizi yang rendah. Pendidikan yang macet, Sikap dan
perlakuan yang menolak dan kasar, Budaya yang terbelakang, Kondisi insidental
yang merugikan rasa aman yang terancam, Kompetensi yang mentok, Aspirasi yang
terkukung, Semangat yang layu dan kesempatan yang terbuang (Prayitno, 1998).
Sumber : Folastri, Sisca.,
& Rangka, Itsar B. 2016. Prosedur Layanan Bimbingan & Konseling
Kelompok. Bandung :
Mujahid Press.



