Sunday, December 22, 2019


ASPEK TEKNIS OPERASIONAL, STRATEGI DAN PENDEKATAN LAYANAN

Tercapainya kegiatan bimbingan dan konseling kelompok yang sukses dan bermanfaat sangat ditentukan oleh kualitas prencanaan dan aplikasinya oleh konselor selaku inisiator dan sekaligus pemimpin kelompok saat kegiatan. Konselor/pemimpin kelompok harus mencurahkan banyak waktu untuk merinci arah kegiatan bimbingan kelompok dan/atau konseling kelompok.
A.    ASPEK TEKNIS OPERASIONAL LAYANAN
Hal-hal yang perlu diperhatikan oleh guru Bk/Konselor dalam aspek teknis operasional layanan bimbingan dan konseling kelompok,yaitu: mulai dari merekrut anggota, melakukan penyaringan dan pemilihan anggota, menentukan ukuran dan durasi dari kegiatan kelompok, memprediksi frekuensi dan waktu pertemuan, membuat struktur dan format kelompok, memilih metode atau pendekatan, melakukan pengategorian kelompok sampai dengan prosedur tindak lanjut dan evaluasi. (Corey, & Corey, 2010: 113).
1.      Pembentukan Kelompok
Perhatian yang cermat dalam tahap pembentukan kelompok memiliki keterkaitan yang penting dengan hasil-hasil yang akan dicapai oleh kegaitan bimbingan dan konseling kelompok. Menurut Prayitno, (2012 : 165) bahwa kelompok untuk layanan bimbingan kelompok dan/atau konseling kelompok dapat dibentuk melalui pengumpulan sejumlah individu (siswa dan individu lainnya) yang berasal dari:
a.       Satu kelas siswa yang dibagi ke dalam beberapa kelompok.
b.      Kelas-kelas siswa yang berbeda dihimpun dalam sau kelompok, dan;
c.       Peserta dari lokasi dan kondisi ynag berbeda di kumpulkan menjadi satu kelompok.
Pengelompokan individu itu dibentuk dengan memperhatikan aspek-aspek relatif homogenitas dan heterogenitassesuai dengan tujuan layanan. Dan hasil instrumentasi instrumentasi, himpunan data dan sumber-sumber lainnya dapat menjadi perimbangan dalam pembentukan kelompok. Penempatan seseorang dalam kelompok tertentu dapat merupakan penugasan, penetapan secara acak, ataupun pilihan bebas individu yang bersangkutan. Dalam pada itu, seseorang atau lebih dapat ditempatkan dalam kelompok tertentu untuk secara khusus memperoleh layanan bimbingan kelompok dan/atau konseling kelompok.
2.      Jarak dan Posisi Duduk
Brown (1994: 64) menyatakan bahwa tempat duduk harus senyaman mungkin tanpa meja sebagai pengahalang. Jarak tempat duduk anatar anggota satu dengan yang lainnya diupayakan tidak terlalu lebar atau terlalu rapat.
Jarak duduk ideoal dalam kegaitan bimbingan dan konseling kelompok adalah ± 30 cmdiukur dari jarak bahhu antar anggota kelompok dan dapat disesuaikan dengan kondisi-kondisi tertentu. Layanan bimbingan kelompok dan konseling kelompok dilakukan dengan cara duduk melingkar. Adapun tujuan dari duduk melingkar yaitu:
a.       Dapat merespon pendapat teman dalam anggota kelompok dengan tepat;
b.      Dapat menimbulkan rasa empati sesama anggota kelompok
c.       Saling menumbuhkan motivasi, dan;
d.      Menimbulkan emosi dan semnagat anatar anggota kelompok.
3.      Besaran Peserta

Ukuran dan jumlah yang diinginkan untuk kegiatan bimbingan dan konseling kelompok tergnatung pada faktor-faktor seperti usia konseling, tingkat pendidikan, jenis maslah, dan lain-lain sebagainya. Secara umum, kelompok harus memiliki cukup banyak orang untuk menciptakan interaksi yang mendalam anataranggota kelompok.

Corey, (2017: 75) menjelaskan bahwa jumlah peserta bimbingan dan konseling kelompok yang ideal adalah 8 (delapan) orang dan kelompok-kelompok dengan anak kecil dilakukan seperti 3-4 (tiga sampai empat) orang. Sementara itu menurut Prayitno (2012 : 158) menyebutkan jumlah peserta yang lebih efektif dalam kegiatan bimbingan dan konseling kelompok yaitu sebanyak 10 (sepuluh) orang.                                                                                                           
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa peserta kegiatan bimbingan dan konseling kelompok yaitu sebanyak 8-10 (delapan samapai 10) orang.          
4.      Variasi Peserta
      Perubahan yang intensif dan mendalam memerlukan sumber-sumber yang bervariasi. Layanan bimbingan dan konseling kelompok memerlukan anggota kelompok yang dapat menjadi sumber-sumber yang bevariasi untuk membahas suatu topik atau memecahkan masalah tertentu.
      Dahulu ada anggapan bahawa bimbingan kelompok atau konseling kelompok harus diikuti oleh para peserta yang berkondisi sama dan mengalami masalah yang sama. Dewasa ini pendapat itu tidak lagi relevan. Dinamika kelompok yang kaya dan bersemangat meemerlukan kondisi anggota kelompok yang relatif heterogen, sehingga terjadi proses saling memberi dan menerima, saling mengasah, saling merangsang dan merespon berkenaan dengan materi yang bervariasi. Dengan dinamika yang demikian itu setiap anggota kelompok diharapkan memperoleh hal-hal baru bagi peningkatan kualitas dirinyasebagai hasil layanan.
      Menurut Corey, (2012:75) bahwa konselor/pemimpin kelompok harus mempu memutuskan komposisi peserta kegiatan bimbingan dan konseling kelompok yang diselenggarakan. Kegiatan bimbingan dan konseling kelompok wajib memperhatikan aspek homogenitas dan heterogenitas peserta kegaitan. Homogenitas yaitu terdiri dariorang-orang yang memiliki kesamaan, misalnya usia (anak-anak, remaja, atau untuk orang tua), atau berdasarkan kepentingan bersama atau maslaah. Maksud dari pembentukan kelompok homogen yaitu untuk mendorong terciptanya ikatan yang kuat antaranggota kelompok.
      Heterogen kelompok memwakili mikrokosmos struktur sosial yanga dadi dunia sehari-hari dan menawarkan peserta kesempatan untuk bereksperimen dengan perilaku baru, mengembangkan keterampilan sosial, dan mendapatkan umpan balik dari banyak sumber yang beragam. Jika simulasi kehidupan sehari-hari yang diinginkan, sangat baik untuk memiliki berbagai usia, ras, latar belakang etnis dan budaya, gender dan identitas seksual, dan berbagai maslah. Heterogenitas dalam kelompok akan menjadi sumber yang lebih kaya untuk pencapaian tujuan layanan. Pembahasan dapat ditinjau dari berbagai sesi, tidak monoton, dan terbuka. Heterogenitas dapat mendobrak dan memecahkan kebekuan ynag terjadi akibat homogenitas anggota kelompok.
      Heterogenitas yang dimaksud tentu buka asal beda. Untuk tingkat oerkembangan atau pendidikan, hendaklah jang dicampurkan siswa SD, dan SLTP atau SLTA dalam satu kelompok; demikian juga orang dewasa dengan anak-anak dalam satu kelompok. Dalam kedua aspek ini diperlukan kondisi yang relatif homogen untuk menghindari kesenjangan yang terlalu besar dalam kinerja kelompok.
      Setelah homogenitas relatif terpenuhi, maka kondisi heterogen diupayakan, terutama terkait dengan permasalahan yang hendak dibahas dalam kelompok. Apabila yang hendak diahas adalah permaslahan “tinggal kelas” misalnya, maka peserta kelompk hendaklah campuran dari mereka yang tinggal kelas dan tidak tinggal kelas. Dengan kondisi seperti itu, mereka ynag tinggal kelas akan mendapat bahasan dan masukan dari mereka yang tidak tinggal kelas,sedangkan mereka yang tidak tinggal kelas di satu sisi, dan di sisi lain dapat mengantisipasi serta meneguhkan diri untuk tidak tinggal kelas. Demikian juga untuk berbagai permasalahan, memerlukan kondisi heterogenitas anggota kelompok dalam layanan bimbingan kelompok dan konseling kelompok (Prayitno, 2012:160).
5.      Tempat Pelaksanaan
      Aspek teknis operasional yang tidak kalah penting dalam kegaitan bimbingan dan konseling kelompok yaitu menyangkut tempat pelaksaan kegiatan. Menurut Prayitno (2012: 183) bimbingan dan konseling kelompok diselenggarakan di tempat-tempat yang cukup nyaman bagi para peserta, baik di dalam ruangan maupundi luar ruangan.
      Dalam memilih tempat pelaksanaan bimbingan dan konseling kelompok konselor/pemimpin kelompok harus mempertimangkan keamanan (fisik), tingkat kenyamanan (psikologis) dan sedapat-dapatnya menjamin asas-asas alayanan bikbingan dan konseling kelompok utaamanya asas kerahasiaan.
Pada umumnya pemilihan tempat di dalam ruangan untuk kegaitan konseling kelompok, sedangkan di luar ruangan untuk kegiatan bimbingan kelompok.
6.      Penggunaan dan Pemiluhan Bahasa
      Dalam pelaksaan kegiatan layanan bimbingan dan konseling kelompok maka konselor/pemimpin kelompok perlu memperhatikan penggunaan dan pemilihan bahasa. Hal tersebut sangat terkait dengan nilai, rsa dan bahasa itu semdiri dikemas dan disajikan kepada konseli/anggota kelompok demi menyukseskan kegiatan layanan bimbingan kelompok atau konseling kelompok.
      Bahasa dengan istilah-istilah “asing” atau ”akademik” mungkin cocok dengan konseli/anggota kelompok dalam rentang usia dewasa dan mengenyam pendidikan yang baik. Sebaliknya, konselor/pemimpin kelompok tidak cocok menyajikan istilah-istilah tersebut bagi karakteristik konseli/anggoa kelompok yang kurang bahkan tidak memahmi hal tersebut. Apabila istilah-istilah “asing” atau “akademik” memang harus untuk disebukan, sebaiknya konselor/pemimpin kelompok juga menjelaskan arti dari atau makna (kalau bisa dengan contoh konkritnya) dari istilah tersebut agar mudah dipahami oleh konseli/anggota kelompok.
7.      Alokasi Waktu
      Layanan bimbingan kelompok atau konseling kelompok dapat diselnggagarakan pada sembarang waktu, sesuai dengan kesepakatan anatara konselor/pemimpin kelompom dengan para anggota kelompok, baik terjadwal maupun tidak terjadwal.
      Waktu penyelenggaraan untuk layanan bimbingan kelompok atau konseling kelompok sekitas 1-2 jam/pertemuan. Pertemuan pertama (sesi pertama) bimbingan kelompom atau konseling kelompok biasanya memakan waktu yang lebih lama untuk tahap pembentukan, dan sesi-sesi berikutnya lebih didominasi oleh tahapan kegaiatan.
      Waktu penyelenggaraan sebesar ± 120 menit harus dapat dipilih dengan baik oleh konselor/pemimpin kelompok. Dalam kurun waktu tersebut semua penahapan kegaitan bimbingan kelompok atau konseling kelompom harus terdistribusi dengan baik. Adapun (estimasi) distribusi waktu per penahapan kegaitan dalam layanan bimbingan kelompok dilihat pada Tabel 4.1 dan layanan konseling kelopok pada Tabel 4.2 berikut.

Tabel 4.1

Estimasi Penggunaan Waktu Layanan Bimbingan Kelompok
Tabel 4.2

Estimasi Penggunaan Waktu Layanan Konseling Kelompok
Estimasi waktu di atas tidaklah bersifat mutlak melainkan dapat di kondisikan sesuai dengan kebutuhan anggota kelompok dan karakteristik masalah/topik bahasan yang sedang dibahas dalam kegiatan layanan bimbingan kelompok dan konseling kelompok. Banyaknya sesi untuk penyelenggaraan layanan bimbingan kelompok atau konseling kelompok tergantung pada keperluan dan kesempatan yang tersedia. Untuk pencapaian tujuan yang lebih lengkap dan menyeluruh, dapat diselenggarakan kegiatan kelompok maraton, yaitu kegiatan bimbingan kelompok dan/atau konseling kelompok dengan jumlah sesi (3-8 sesi) secara terus menerus dengan selingan istirahat seperlunya.
Dengan kegiatan maraton ini diselenggarakan satu hari penuh atau lebih, banyak topik dan masalah dapat dibahas dan/atau diupayakan pengentasaanya. Sedapat-dapatnya semua topik dan masalah yang dikemukakan/dialami masing-masing anggota kelompok dapat dilakukan dan diupayakan pengentasannya.
8.      Mitra Kegiatan (co-leader)
           Dalam memimpin kegiatan kelompok, bimbingan kelompok dan/atau konseling kelompok, konselor/pemimpin kelompok dapat diabntu oleh seorang mitra. Mitra konselor/pemimpin kelompok ini (co-leader) berfungsi membantu konselor/pemimpin kelompok untuk lebih mengefektifkan dan memperkaya dinamika kelompok. Keuntungan memiliki co-leader, yaitu: anggota kelompok dapat memperoleh dari sudut pandang dua pemimpin; mempertegas sudut pandang terhadap topik bahasan yang sedang dibahas, membantu konselor/pemimpin kelompok melakukan pengawasan terhadap anggota kelompok yang kurang fokus, membantu konselor/pemimpin kelompok selama pelatihan (jika ada), dan menyediakan umpan balik bagi anggota kelompok. Mitra ini dapat menambah apa-apa yang dikemukakan oleh konselor/pemimpin kelompok, tetapi tidak boleh mengatasi atau menangani, apalagi menandingi konselor/pemimpin kelompok. Aspek-aspek administratif dapat ditangani oleh mitra konselor/pemimpin kelompok. (Corey, & Corey, 2010; Prayitno, 2012).

B.     STRATEGI LAYANAN BMB3
Strategi layanan bimbingan kelompok atau konseling kelompok sangat berkaitan dengan dinamika perkembangan individu dalam hal menyerap materi pembelajaran yang difasilitasi oleh konselor/pemimpin kelompok. Melalui proses pembelajaran peserta didik menerima berbagai materi pembelajaran dari topik pembahasan dari kegiatan bimbingan kelompok atau masalah anggota kelompok yang dijadikan pembahasan dalam kegaitan konseling kelompok. Dengan membahas topik/masalah dalam kegiatan bimbingan kelompok atau konseling kelompok diharapkan anggota kelompok dapat belajar banyak hal terutama hal-hal yang bergna bagi pengembangan dirinya secara optimal.
Sesungguhnya, apabila peserta didik memang belajar dari apa yang mereka terima itu, maka mereka akan memperoleh dan menguasai sesuatu yang baru, yang bermakna dan berguna bagi pribadi mereka yang hidup dan menghidupka; berkembang, sejahtera dan bahagia dalam kategori karakter-cerdas. Sebaliknya, alangkah menyedihkan apabila hasil pendidikan itu justru berujung pada kehidupan; berkembang, sejahtera dan bahagia dalam kategori karakter-ceras. Sebaliknya, alanglah menyedihkan apabila hasil pendidikan itu justru berujung pada kehidupan yang bertentangan dengan kehidupan yang berkarakter-cerdas (Prayitni, 2010:79).
Strategi pembelajaran melalui layanan bimbingan kelompok dan konseling kelompok sedapat-dapatnya menggunakan strategi transfoormasional yaitu proses perubahan yang terjadi pada diri seseorang (dalam hal ini anggota kelompok) sebagai akibat dari rangsangan dan/atau perlakuan dari seseorang dan/atau lingkungan (dalam hal ini konselor/pemimpin kelompok dan/atau anggota kelompok lainnya) yang berdapak terjadinya perubahan yang positif pada diri anggota kelompok. Konselor/pemimpin kelompok wajib menghindari strategi transaksional yang berarti pemindahan sesuatu dari seseorang (dalam hal ini konselor/pemimpin kelompok dan/atau berasal dari anggota kelompok lainnya) ke orang lain (dalam hal ini anggota kelompok). Proses pembelajarang yang berpola tranfer of knowledge merupakan proses yang sekedar bersifat transaksional.
Untuk dapat menajalankan strategi transformasional, maka layanan bimbingan dan konseling kelompok haruslah dijalankan dengan manganut dinamika dasar kehidupan manusia pada umumnya. Menurut Prayitno, (2015: 40) bahwa gerak energi dasar kehidupan yang ada pada diri setiap individu manusia itu, terselenggarakan dengan muatan dinamika kehidupan dalam arah dan bentuk: berpikir, merasa, bersikap, bertindak dan bertanggung jawab (BMB3). Dinamika BMB3 ini besinergi/berkimiawi, selain dengan energi dasar, juga dengan unsur-unsur harkat dan martabat manusia sebagimana arah fungsional.
Pelaksanaan kegiatan bimbingan kelompok dan konseling kelompok merupakan medan yang sangat baik untuk dikembangkan kemampuan BMB3 melalui aktualisasi dinamika kelompok yang dapat terjadi secara intensif dan efektif pada layanan bimbingan kelompok dan konseling kelompok. Konselor secara piawai mengembangkan kemampuan BMB3 di anatara setiap anggota kelompok.
Dalam menghadapi segenap sasaran atau fokus kehidupan sehari-hari, sepanjang hidupnya, aktivitas kehidupan individu manusia sesungguhnya diwarnai oleh dinamika BMB3 yang ada pada dirinya. Konselor/pemimpin kelompok wajib memanfatkan hal tersebut untuk mewarnai pelaksaan kegiatan bimbingan dan konseling kelompok agar tecipta kondisi optimal dinamika BMB3 yang diharapkan sebagaimana yang dikemukakan oleh Prayitno, (2015: 41) adlah dalam keadaan 5-AS yaitu: (1) berikir yang cerdas, (2) merasa dalam kondisi yang terkemas, (3) bersikap yang mawas diri, (4) bertindak yang tangkas, dan (5) bertanggung jawab dengan tuntas.

Tabel 4.3
Garis Besar Penjabaran Strategi BMB3 dan Layanan Bimbingan dan Konseling Kelompok.
No
Dinamika Kehidupan
Bimbingan Kelompok
Konseling Kelompok
Arah Pengembangan dan Analisis
1
Berfikir
Anggota kelompok diminta untuk memikirkan secara cerdas segala sesuatu yang berkenaan dengan topik bahasan
Anggota kelompok diminta untuk memikirkan secara cerdas segala sesuatu yang berkenaan denga masalah yang dialami oleh anggota kelompok yang maslahnya dibahas
What?.. Apa?
Where?.. Dimana?
When?.. Kapan?
Who?.. Siapa?
Whay?..Mengapa?
How?.. Bagaimana?
2
Merasa
Anggota kelompok diminta untuk mengemas perasaan secara mendalam terkait topik bahasan
Anggota kelompok diminta untuk mengamas perassan secara mendalam terkait masalah yang dialami oleh anggota kelompok yang maslahnyya sedang dibahas
What?.. Apa?
Where?.. Dimana?
When?.. Kapan?
Who?.. Siapa?
Whay?..Mengapa?
How?.. Bagaimana?
3
Bersikap
Anggota kelompok diminta untuk bersikpa yang tepat (mawas) terkait topik bahasan
Anggota kelompok diminta untuk bersikap (mawas) terkiat maslah yang dialami oleh anggota kelompok ynag maslahnya sedang dibahas
What?.. Apa?
Where?.. Dimana?
When?.. Kapan?
Who?.. Siapa?
Whay?..Mengapa?
How?.. Bagaimana?
4
Bertindak
Anggota kelompok diminta mengambil tindakan dengan tangkas terkait topik bahasan
Anggota kelompok diminta mengambil tindakan dengan tangkas terkiat menghadapi maslah yang dialami oleh anggota kelompok yang maslahnya sedang dibahas.
What?.. Apa?
Where?.. Dimana?
When?.. Kapan?
Who?.. Siapa?
Whay?..Mengapa?
How?.. Bagaimana?
5
Bertanggung Jawab
Anggota kelompok diminta untuk menunaikan dengan tuntas segala aspek yang berkenaan dengan topik bahasan
Anggota kelompok diminta untuk melakukan realisasi konkrit dan tutas segala sesuatu yang membantu terentaskan-nya masalah yang dialami oleh anggota kelompok yang masalahnya sedang dibahas
What?.. Apa?
Where?.. Dimana?
When?.. Kapan?
Who?.. Siapa?
Whay?..Mengapa?
How?.. Bagaimana?

Dengan melihat Garis Besarnya Penjabaran Strategi BMB3 dan arah pengembangan analisis dalam layanan bimbingan kelompok dan/atau konseling kelompok, maka konselor/ pemimpin kelompok dapat merangsang anggota kelompok, untuk:
1.      Berpikir, dalam kondisi cerdas untuk menelaah, mendalami, merenungkan maslah/topik pembahasan dalam bimbingan kelompok atau konseling kelompok.
2.      Merasa, dalam kondisi terkemas terhadap apa yang dirasakan dan dialami oleh orang lain terkait masalah/topik pembahasan dalam bimbingan kelompok atau konseling kelompok.
3.      Bersikap, dalam kondisi mawas terhadap potensi-potensi yang menghambat, merugikan, mengurangi nilai-nilai kehidupan seseorang berdasarkan masalah/topik pembahasan dalam bimbingan kelompok atau konseling kelompok.
4.      Bertindak, dalam kondisi tangkas terhadap situasi yang berkembangn baik yang terjadi di dalam maupun di luar kehidupan pribasi anggota kelompok.
5.      Bertanggung Jawab,  dalam kondisi tuntas terhadap segala sesuatu hal yang menjadi wilayah kehidupan dan komitmen yang dibuatnya.
Dinamika Berfikir, Merasa, Bersikap, Bertindak dan Bertanggung Jawab dalam kegiatan bimbingan kelompok atau konseling kelompok haruslah bersinergi satu sama dalam mengurai masalah/topik bahasan. Konselor/pemimpin kelompok memfasilitasi, mengisi, menjebatani dan mendorong anggota kelompok untuk ber-BMB3 dengan sebaik-mungkin. Hal-hal yang sifatnya penting (primer—masalah pokok/inti) untuk diuraikan terlebih dahulu sesegera mungkin di MBM3-kan kemudian dicari spesifikasinya. Terkadang ditemui konseli/anggota kelompok yang sulit untuk diajak ber-BMB3, untuk itu konselor/pemimpin kelompor tak henti-hentinya memberikan dukungan untuk mulai ber-BMB3 walaupun dari hal yang sifatnya sangat sederhana dan ada di sekitas kehidupan konseli/anggota kelompok.
C.     PENDEKATAN LAYANAN
Meskipun tujuan pelayanan bimbingan dan koseling sepenuhnya menajdi kesepakatan bersama anatara anggota kelompok dengan konselor/pemimpin kelompok, namun konselor/pemimpin kelompoklah yang memutuskan apa teraik bagi para anggota kelompoknya. Untuk itu konselor/pemimpin kelompok harus secara terbuka dalam mengungkapkan kepda anggoota kelompok tujuan luhur dab arah kegiatan kelompok, termasuk pendekatan/teknik apa saja yang digunakan selama bimbingan kelompok atau konseling kelompok berlangsung. Konselor/pemimpin kelompok dalam memilih sejumlah pendekatan dalam melaksanakan bimbingan kelompok atau konseling kelompok sebagai berikut (Prayitno, 1998; Kottler, & Shepard, 2008; Corey, 2012)
1.      Psikoanalisis
Pendekatan psikoanalisis dalam kegaitan bimbingan dan konseling kelompok memusatkan perhatiannya terhadap pengaruh kehidupan mas alalu konseli/anggota kelompok dengan kehidupannya saat ini. Pengalaman selama 6 tahun pertama kehidupan dilihat sebagai akar satukonflik di masa kini.
Bagian dari proses penting dari pendekatan psikoanalaisis yaitu konselor/pemimpin kelompok menggunakan pengetahuannya untuk mempelajari tahapan perkembangan konseli/anggota kelompok untu memahami pola di mana konseli/anggota kelompok “bermasalah”. Konselor/pemimpin kelompok berfokus pda upaya untuk menciptakan kembali, menganalisis, mendiskusikan dan yang tercermin dari adanya resistensi (perlawanan) dan mekanisme pertahanan diri konseli/anggota kelompok yang beroperasi pada tingkat bawah sadarnya.
Konselor/pemimpin kelompok membantu konseli/anggota kelompok untuk mengungkapkan “rasa sakit” yang mereka rasakan yang berasal dari pengalaman masa lampunya; membantu konseli/anggota kelompok untuk mempercayai orang lain, dan sepenuhnya menerima diri mereka sendiri. Perlu dicatat bahwa setiap penggunaan teknik dalam psikoanalaisis haruslah didasarkan pada hasil tes psikologis dari tahap sebelumnya.
2.      Alderian
Pendekatan Alderian, juga dikenal sebagai pendekatan “psikologi individual” didasarkan pada apandangan “holistik” orang. Manusia dalam pendekatan ini digambarkan sebagai sebuah unit yang tidak terpisahkan. Fokusnya adalah pada pemahaman manusia seutuhnya dalam konteks sosial baik itu dalam tatanan keluarga, sekolah dan tempat bekerja. Individu terdiri atas pikiran, perasan, keyakinan, pola-pola perilaku, sifat-sifat dan karakteristik, kreativitas yang semua itu adalah bentuk keunikan seseorang.
Bagian dari proses penting dari pendekatan Alderian yaitu konselor/pemimpin kelompok membantu konseli/anggota kelompok mengubah konsep tentang diri semdiri dengan cara menstruktur dan menyadarkan life style konseli/anggota kelompok; mmengurangi penilaian negatif tentang diri sendiri dan mengatasi inferiority feeling konseli/anggota kelompok; mengoreksi persepsi konseli/anggota kelompok tentang lingkunganny dan mengembangkan tujuan-tujuan baru yang hendak dicapai melalui tingkah laku baru konseli/anggota kelompok dan membangun kembaku social interest  konseli/anggota kelompok.
Keterbatasan pendekatan Alderian yaitu konselor/pemimpin kelompok mungkin mengalami kesulitan untuk menggabungkan beberapa prosedur yang diarahkan untuk memberikan pemahaman kepada konseli/anggota kelompok terkait masalah masa kecil konseli/anggota kelompok dalam waktu yang singkat.
3.      Psychodrama
Pendekatan psychodrama bertujuan untuk mendorong kreativitas dalam individu dalam suatu kelompok. Gagasan tentang psychodrama didasarkan pda keyakinan bbahwa setiap orang dapat menajdi lebih kreatif  dan dapat memajukan kreativitas dalam diri orang lain.
Konselor/pemimpin kelompok menghiduplan kembali adegan dari masa lalu konseli/anggota kelompok keudia memberikan kesempatan kepada konseli/anggota kelompok untuk memeriksa bagaimana peristiwa itu memperngaruhi mereka pada saat itu dan bagaimana kaitan masalah pada masa lalu tersebut dengan kondisi sekarang konselor/pemimpin kelompok memutar peristiwa masa lalu tersebut “seolah-olah” terjadi di masa kini selanjutnya kepada konseli/anggota kelompok memberikan arti baru untuk setiap kejadian tersebut.
4.      Eksistensial
Pendekatan eksistensial memberikan cara untuk melihat dan memahami individu dalam kelomopok. Beberapa maslah yang dianggap tepat menggunakan pendekatan eksistensial, yaitu mencakup maslah kesadaran/pemahaman diri, penentuan tanggung jawab, kecemasan, mengalami kematian orang tercinta, rasa kehilangan, pencaian makna hidup, pencarian ketulusan dan rasa kesepian.
Konselor/pemimpin kelompok membantu konseli/anggota kelompok untuk mengatasi kekhawatiran mereka, tidak hanya secara perilaku dan intelektual, tapi juga pengalaman dengan memaksimalkan kemampuan mereka untuk mengubah diri mereka sendiri. Untuk mencapai tujuan tersebut, konselor/pemimpin kelompok mengembangkan kemitraan konseli/anggota dengan berfokus pda hubungan person-to-person. Konselor/pemimpin kelompok harus membawa subjektivitas mereka sendiri dalam pekerjaan mereka dan sangat penting bahwa mereka menunjukkan kehadiran jika konseli/anggota kelompok untuk mengembangkan hubungan kerja yang efektif dengan konseli/anggota kelompok lainnya.
5.      Person-Centered
Pendekatan person-centered lebih menekankan kualitas pribasi konselor/pemimpin kelompok bukan hanya bersandar pada teknik konseling semata. Fungsi utama dari konselor/pemimpin kelompok adalah untuk menciptakan iklam yang mendukung “aliansi therapeutic” dalam layanan bimbingan dan konseling kelompok. Konselor/pemimpin kelompok menunjukkan kemampuan merasakan, menerima terhadap diri mereka sendiri dan juga terhadap konseli/anggota kelompok. Konselor/pemimpin kelompok dituntut memiliki sikap dan ketrampilan tertentu, yaitu: mendengarkan secara aktif dan sensitif, menerima secara terbuka, menghormati, merefleksi, mengklarifikasi, meringkas berbagi pengalaman pribadi.
Beberapa masalah yang dianggap tepat menggunakan pendekatan person-centered, yaitu kebingunga, frustasi, perlawanan terhadap kepercayaan ekspresi atau eksplorasi pribadi, pengambilan risiko, kepercayaan diri, pengungkapan perasaan pribadi dan ekspresi perasaan negatif lainnya.
6.      Gestalt
Pendekatan Gestalt memandang bahwa manusia tidak dapat dipahami, kecuali dalam keseluruhan konteksnya; bagian dari lingkungannya dan hanya dapat dipahami dalam kaitanya dengan lingkungannya; manusia dalah aktor bukan reaktor, berpotensi menyadari sepenuhnya sensasi, emosi, persepsi dan pemikirannya;dapat memilih karena sadar; mampu mengarahkan diri secara efektif; hanya mampu mengalami hal-hal yang muncul sekarang (bukan masa lalu atau masa depan); dan bukan makhluk yang pada dasarnya baik atau jelek.
Konselor/pemimpin kelompok membantu konseli/anggota kelompok untuk memungkinkan konseli/anggota kelompok menemukan kebutuhan-kebutuhan dirinya;mengungkapkan bagian dirikonseli/anggota kelompok yang “tunduk” kepada lingkungan memberikan kesempatan kepada konseli/anggota kelompok untuk menyatakan bahwa dirinya berkembang dan tidak menafsirkan perilaku konseli, tetapi terfokus pada “apa” dan “bagaimana” konseli sekarang.
7.      Analisis Transaksional
Pendekatan Analisis Transaksional menekankan pda hubungan interaksional komunikasi anatara individu yang satu dengan orang lain dan juga menekankan pda aspek pengambilan keputusan tertentu. Pendekatan ini meyakini bahwa konseli/anggota kelompok mempunyai kapasitas untuk memilih dan dalam tingkat kesadaran tertentu individu dapat menajdi mandiri dalam menghadapi persoalan hidupnya.
Transaksional maksudnya ilah hubungan komunikasi anatara seseorang dengan orang lain. Adapun hal yang dianalisis oleh konselor/pemimpin kelompok yaitu meliputi bagaimana bentuk cara dan isi dari komunikasi konseli/anggota kelompok baik, dalam kegaitan konseling kelompok atau di kehidupannya yang lebih luas (keluarga, sekolah, pekerjaan dan masyarakat). Dari hasil analisis dapat ditarik kesimpulan apakah transaksi yang terjadi berlangsung secara tepat, besar dan wajar. Bentuk, cara dan isi komunikasi dapat menggambarkan apakah seseorang tersebut sedang mengalami masalah atau tidak. Analisis transaksional berpendapat bahwa dalam kepribadian seseorang terdapat unsur-unsur yang saling berkaitan. Pendekatan ini juga menekankan fungsi dan pendekatan ego.
8.      Behavioral
Pendekatan behaviour mengandung banyak variasi dalam sudut pandangan. Oleh, karena itu, pendekatan behaviouristik dalam konseling mengenal banyak variasi dalam prosedur, metode dan teknik yang diterapkan. Pendekatan ini meyakini bahwa masalah perilaku tepat (sesuai) atau tidak tepat (tidak sesuai) dengan situasi kehidupan sama-sama merupakan hasil belajar. Karena tingkah laku yang salah itu juga sapat dihapus dan diganti dengan tingkah laku yang tepat melalui suatu proses belajar.
Tingkah laku ditentukan oleh aturan-aturan/hukum yang artinya adalah upaya urutan terjadinya tingkah laku dalam kaitannya dengan suatu kejadian. Tingka laku juga daoat diramalkan, artinya ada upaya yang tidaj hanya menguraikan tingkah laku, namun juga untuk memprediksi tingkah laku yang akan tampil di masa yang akan datang. Tingkah laku dapat dikontrol/dikendalikan, artinya individu dapat mengantisipasi atau menetahui terlebih dahulu keluasaan aktivitas atau perilakunya.
9.      Rational Emotif Behaviour Therapy
Pendekatan Ration Emotif Behaviour Therapy (REBT) didasarkan pada keyakinan bahawa manusia mampu berbuat rasional dan tidak rasional dan dalam bentuk pikiran dan mera itu sangat dekat, bergandengan satu sama lain. Pikiran dapat menjadi perasaan dan sebaliknya. Pendekatan ini lebih menekankan pada aspek kognitif dan emotif konseli/anggota kelompok. Pandangan teori ini mengarahkan konselor/pemimpin kelompok untuk emmbantu masalah yang dialami konseli/anggota kelompok melalui upaya penggarapan kedua aspek ini melalui pembuktian-pembuktian yang logis dan rasional. Diyakini juga bahawa tidak semua masalah dapat didekati dengan cara memodifikasi dan membentuk kedua aspek tersebut, faktor masa lalu juga berpengaruh, khususnya dalam perkembangan kepribadian yang salah suai, dan juga faktor interaksi sosial anatara individu dengan lingkungannya. Dalam hal ini pendekatan REBT mengabaikan hal-hal tersebut.
10.  Counseling Reality
Penggunaan pendekatan realitas lebih cocok digunakan dalam sesi konseling kelompok. Dalam proses perkembangan hidup seseorang individu, terdapat kecenderungan dalam dirinya untuk menganut sesuatu perasaan yang disebut dengan “succes identity” atau identitas berhasil dan “failure identity” atau identitas gagal. Adapun yang menjadi tujuan pendekatan konseling kelompok realitas ialah membantu konseli/anggota kelompok mencapai “succes identity”. Konseli/anggota kelompok yang “succes identity” akan melihat dirinya sebagai orang yang sanggup memberi dan menerima cinta bagi dirinya sendiri maupun orang lain.
11.  Pancawaskita
Kerangka pendekatan konseling pancawaskita didasarkan pada pemikiran filosofis tentang Gatra, yaitu sesuatu dengan sepenuh arti/makna dan kondisinya serta merupakan isi keberadaan. Istilah “keberadaan” disini meliputi pencipta dan ciptaannya beserta segenap kondisi yang terkandung dan menyertainya.
Sebagai kerangka konseling eklektik, maka konseling pancawaskita menekankan kemampuan konseli/anggota kelompok untuk dapat memberikan arti dari luar (ADL) kepada gatra di luar diri dan kepada diri sendiri dan interaksi keduanya. Konselor/pemimpin kelompok berupaya untuk menganalisis: Ketakwaan yang terputus, Daya cipta yang lemah, Daya rasa yang tumpul, Daya karsa yang mandeg, Daya karya yang mandul, Gizi yang rendah. Pendidikan yang macet, Sikap dan perlakuan yang menolak dan kasar, Budaya yang terbelakang, Kondisi insidental yang merugikan rasa aman yang terancam, Kompetensi yang mentok, Aspirasi yang terkukung, Semangat yang layu dan kesempatan yang terbuang (Prayitno, 1998).


Sumber : Folastri, Sisca., & Rangka, Itsar B. 2016. Prosedur Layanan Bimbingan & Konseling Kelompok. Bandung : Mujahid Press.


No comments:

Post a Comment