Sunday, September 29, 2019

TUGAS PERKEMBANGAN DEWASA AWAL




Pengertian Masa Dewasa Awal Definisi Perkembangan Ciri Menurut Para Ahli Hurlock dan Santrock Pengertian Dewasa Awal - Masa dewasa awal dimulai pada umur 18 tahun sampai kira-kira umur 40 tahun. Saat perubahan-perubahan fisik dan psikologis yang menyertai berkurangnya kemampuan reproduktif (Hurlock, 1996). Definisi dewasa awal  merupakan periode penyesuaian diri terhadap pola-pola kehidupan yang baru dan harapan-harapan sosial baru. Orang dewasa awal diharapkan memaikan peran baru, seperti suami/istri, orang tua, dan pencari nafkah, keinginan-keingan baru, mengembangkan sikap-sikap baru, dan nilai-nilai baru sesuai tugas baru ini (Hurlock, 1996).
A.    Karakteristik Dewasa Awal
 Banyak diantara karakteristik penting dalam masa dewasa awal ini merupakan kelanjutan dari karakteristik yang terdapat dalam masa remaja. Namun demikan, beberapa diantaranya menunjukkan penonjolan karakteristik yang membedakan dengan masa-masa sebelumnya yakni masa remaja. Karakteristik yang menonjol dalam masa dewasa awal yang membedakannya dengan masa kehidupan yang lain, nampak dalam adanya peletakan dasar dalam banyak aspek kehidupannya, melonjaknya persoalan hidup yang dihadapi dibandingkan dengan remaja akhir dan terdapatnya ketegangan emosi. Berikut merupakan karakteristik pada masa dewasa awal, yakni:
1.          Usia Reproduktif
 Bagi sebagian besar orang-orang dewasa muda atau dewasa awal, menjadi orang tua atau sebagai ayah / ibu merupakan satu diantara peranannya yang sangat penting dalam hidupnya. Berperan sebagai orang tua, nampak lebih nyata dibandingkan pria, yang walaupun sekarang ini nampaknya pria banyak pula mengambil bagian secara aktif dalam mendidik anak-anak dibandingkan dengan apa yang nampak pada waktu-waktu yang lalu. Apabila seseorang telah mulai memasuki hidup berrumah tangga dalam akhir masa remaja, maka orang dewasa yang bersangkutan menyyiapkan diri mengambil peranannya sebagai orang dewasa sejak usia dua puluh-an sampai akhir usia tiga puluh-an. Ada pula beberapa orang dewasa awal yang tidak kawin sampai mereka menyelesaikan pendidikan dan memulai karier mereka dalam suatu lapangan tertentu. Hal yang demikian nampak sekali terjadi dalam keluarga-keluarga besar, dimana wanita-wanita dewasa yang banyak adik berperan sebagai “orang tua” dalam membimbing adik-adik mereka.
2.          Usia Memantapkan Letak Kedudukan
Jika pada masa kanak-kanak dan remaja disebut sebagai masa pertumbuhan, maka masa dewasa merupakan usia pemantapan letak kedudukan. Sejak seseorang telah mulai memainkan peranannya sebagai orang dewasa, seperti sebagai pemimpin rumah tangga dan sebagai orang tua. Dalam usia pertengahan tiga puluh-an, rata-rata individu telah memiliki kemantapan dalam pola-pola hidup, denga sedikit perubahan-perubahan kecil, yang dijadikan latar sandaran dalam hidup sebagai orang dewasa. Adanya upenyelesaian segera terhadap persoalan hidup seseorang, khusus dalam hal diperolehnya kemantapan kedudukan dalam masa dewasa ini, akan dapat mendatangkan kepuasan sepanjang hidup oran dewasa yang bersangkutan.
3.          Usia Banyak Masalah
Dalam masa dewasa awal banyak persoalan  yang baru dialami. Persoalan-persoalan itu berbeda dengan persoalan yang pernah dialami masa-masa kanak-kanak mereka. Beberapa diantara persoalan tersebut merupakan kelanjutan atau pengembangan  persoalan yang dialami dalam masa remaja akhir. Segera setelah seseorang dewasa awal menyelesaikan pendidikan sekolah mereka, maka menghadang pula persoalan yan berhubungan dengan pekerjaan dan jabatan. Persoalan yang berhubungan dengan pemilihan teman hidup, merupakan satu diantara persoalan sangat penting dalam masa dewasa awal ini. Persoalan lain yang menonjol dirasakan dalam masa dewasa awal ini adalah berbuhungan dengan hal-hal keuangan. Persoalan ini mencakup aspek usaha mendapatkannya dan aspek pegelolaannya dalam pembelanjaan.
4.          Usia Tegang Dalam Hal Emosi
Ketegangan-ketegangan emosi yang terjadi dalam masa dewasa awal, terutama sering dialami dalam parohan awal masa ini. Banyak diantara dewasa muda ini mengalami ketegangan emosi yang berhubungan dengan persoalan-persoalan yang dialaminya seperti persoalan jabatan, perkawinan, keuangan dan sebagainya. Akan tetapi, apabila seseorang dewasa awal memiliki haraoan yang terlalu tinggi, dapat menyebabkannya harus “mendaki” dengan sekuat tenaga untuk mencapai harapan-harapannya itu. bahayanya adalah, jika harapan-harapan yang tinggi tidak selaras dengan kemmapuan individu yang bersangkutan, sehingga individu tersebut mengalami “kapayahan dalam pendakian” dan bahkan kegagalan yang sangat membuatnya kecewa. Kekecewaan itulah yang selanjutnya dapat menimbulkan kekacauan-kekacauan psikologis atatu masalah-masalah psikosomatis. (Andi Mappiare. 1983. 20-26)
5.          Usia Keterasingan Sosial
Dengan berakhirnya pendidikan formal dan terjunnya seseorang ke dalam pola kehidupan orang dewasa yakni karier, perkawinan dan rumah tangga, hubungan denga teman-teman kelompok sebaya masa remaja menjadi renggang, dan berbarengan dengan itu keterlibatan dalam kegiatan kelompok di luar rumah akan terusberkurang. Keterasingan diintensifkan dengan adanya semangat bersaing dan hasrat kuat untuk majudalam karier dan mereka juga harus mencurahkan sebagian besartenaga mereka untuk pekerjaan mereka, sehingga merek hanya dapat menyisihkan waktusedikit untuk sosialisasi yang diperlukan  untukmembina hubungan-hubungan yang akrab. Akibatnya mereka menjadi egosentris dan ini tentunya menambah kesepian mereka.
6.          Usia Perubahan Nilai
Banyak nilai masa kanak-kanak dan remaja berubah karena pengalaman dan hubungan sosial yang lebih luas dengan orang-orang yang berbeda usia dan nilai-nilai itu kini dilihat dari kaca mata orang dewasa. Ada beberapa alasan yang menyebabkan perubahan nilai pada masa dewasa dini, diantaranya yang sangat umum adalah: pertama, jika orang muda dewasa ingin diterima oleh anggota kelompok orang dewasa, maka harus menrima nilai-nilai kelompok ini. Kedua, orang-orang muda itu segera menyadari bahwa kebanyakan kelompok sosial berpedoman pada nilai-nilai konvensional dalam hal keyakinan-keyakinan dan perilaku seperti juga halnya dalam penampilan.
7.          Usia Penyesuaian Diri Dengan Cara Hidup Baru
Diantara berbagai penyesuaian diri yang harus dilakukan orang muda terhadap gaya hidup baru, yang paling umum adalah penyesuaian diri pada polaperan seks tradisional, serta pola-pola baru bagi kehidupan keluarga. Penyesuaian diri merupakan faktor penting dalam kehidupan manusia.
8.          Usia Komitmen
Sewaktu menjadi dewasa orang-orang muda mengalami perubahan tanggung jawab dari seorang pelajar yang sepenuhnya tergantung pada orang tua menjadi orang dewasa mandiri, maka mereka menentukan pola hidup baru, memikul tanggung jawab baru, dan membuat komitmen-komitmen baru.
9.          Usia Kreatif
Orang muda banyak yang bangga karena lain dari yang umum dan tidak menganggap hal ini sebagai suatutanda kekurangan. Bentuk kreatifitas yang akan terlihat sesudah ia dewasa akan tergantung pada minat dan kemampuan individual. (Sunarso. 2007. 51)

B.     TUGAS PERKEMBANGAN MASA DEWASA DINI
Tugas-tugas perkembangan masa dewasa dini dipusatkan pada harapan-harapan masyarakat yang mencakup mendapatkan suatu pekerjaan, memilih seorang teman hidup, belajar hidup bersama dengan suami atau isteri membentuk suatu keluarga, membesarkan anak-anak, mengelola sebuah rumah tangga, menerima tanggung jawab sebagai warga negara dan bergabung dalam suatu kelompok sosial yang cocok. Tingkat penguasaan tugas-tugas ini pada tahun-tahun awal masa dewasa akan mempengaruhi tingkat keberhasilan mereka ketika mencapai puncak keberhasilan pada waktu setengahbaya - apakah puncak itu di bidang pekerjaan, pengakuan sosial, atau kehidupan keluarga. Tingkat penguasaan ini juga akan menentukan kebahagiaan mereka saat itu maupun selama tahun-tahun akhir kehidupan mereka. Keberhasilan dalam menguasai tugas-tugas perkembangan masa dewasa dini sangat dipengaruhi oleh jenis dasar yang telah diletakkan sebelumnya. Meskipun demikian, faktor-takor tertentu dalam kehidupan orang dewasa akan mempermudah penguasaan tugas-tugas ini. Faktor-faktor tersebut berupa bantuan untuk menguasai tugas-tugas perkembanga diantaranya:
1.      Efisiensi Fisik
Puncak efisiensi fisik biasanya dicapai pada usia pertongahan 20-an, sesudah mana terjadi nenurunan lambat laun hingga awal usia  40-an. Dengan demikian dalam periode penyesuaian, secara fisik orang mampu menghadapi dan mengatasi masalah-masalah yang selain sukar juga paling banyak jumlahnya dalam periode ini
2.      Kemampuan Motorik
Orang-orang muda mencapai puncak kekuatannya antara usia 20-an dan 30-an. Kecepatan respons maksimal terdapat antara usia 20 dan 25 tahun dan sesudah itu kemampuan ini sedikit demi sedikit menurun. Dalam belajar menguasai keterampilan-keterampilan motorik yang baru, orang-orang muda usia 20-an lebih mampu daripada mereka yang mendekati usia setengah umur. Selain itu orang-orang muda dapat mengandalkan kemampuan motorik ini dalam situasi-situasi tertentu, hal mana tidak dapat mereka lakukan semasa remaja karena pertumbuhan yang cepat dan tidak seimbang saat itu menyebabkan mereka kurang luwes dan kaku.
3.      Kemampuan Mental
Kemampuan mental yang diperlukan untuk nempelajari dan menyesuaikan diri pada situasi-situasi baru, Seperti misalnya mengingat hal-hal yang dulu pernah dipelajari, penalaran analogis dan berpikir kreatif, mencapai puncaknya dalam usia 20-n, kemudian sedikit demi sedikit menurun. Meskipun orang-orang muda ini tidak belajar secepat dulu kualitas belajarnya tidak merosot.
4.      Motivasi
Apabila remaja mencapai usia dewasa secara hukum, mereka berkeinginan kuat untuk dianggap sebagai orang-orang dewasa yang mandiri oleh kelompok sosial mereka. Hal ini menjadi motivasi bagi orang-orang muda untuk menguasai tugas-tugas perkembangan yang diperlukan agar dapat dianggap mandiri.
5.      Model Peran
Remaja yang bekerja setelah menamatkan sekolah lanjutan mempunyai model peran untuk diteladani. Karena berinteraksi dengan orang dewasa mereka memperoleh motivasi untuk mencontoh perilaku sesuai garis-garis yang dianut masyarakat dewasa, agar. mereka sendiri juga dianggap dewasa. Sebaliknya, remaja yang tetap bersekolah atau kuliah sesudah mereka secara hukum dewasa masih berada dalam lingkungan teman-teman sebaya meraka. dan akan terus mengikuti garis-garis perilaku remaja dan bukan pola perilaku dewasa. Jika mereka tetap dalam status kelergantungan ini, mereka hampir tidakmemperoleh kesempatan.  atau motivasi untuk menguasai tugas-tugas perkembangan orang dewasa.
Havighurst (Dalam Mappiare, 1983: 252) menyebutkan bahwa tugas-tugas perkembangan pada masa dewasa awal adalah sebagai berikut:
1.      Memilih teman bergaul (sebagai calon suami atau istri)
Pada umumnya, pada masa dewasa awal ini individu sudah mulai berpikir dan memilih pasangan yang cocok dengan dirinya, yang dapat mengerti pikiran dan perasaannya, untuk kemudian dilanjutkan dengan pernikahan (menjadi pasangan hidupnya)
2.      Belajar hidup bersama dengan suami istri
Masing-masing individu mulai menyesuaikan baik pendapat, keinginan, dan minat dengan pasangan hidupnya. Mulai hidup dalam keluarga atau hidup berkeluarga
3.      Mulai hidup dalam keluarga atau hidup berkeluarga
Dalam hal ini masing-masing individu sudah mulai mengabaikan keinginan atau hak-hak pribadi, yang menjadi kebutuhan atau kepentingan yang utama adalah keluarga
4.      Dituntut adanya kesamaan cara serta faham
Hal ini dilakukan agar anak tidak merasa bingung harus mengikuti cara ayah atau ibunya. Maka dalam hal ini pasangan suami istri harus menentukan bagaimana cara pola asuh dalam mendidik anak-anaknya.
5.      Mengelola rumah tangga
Dalam mengelola rumah tangga harus ada keterusterangan antara suami istri, hal ini untuk menghindari percekcokan dan konflik dalam rumah tangga.
6.      Mulai bekerja dalam suatu jabatan
Seseorang yang sudah memasuki masa dewasa awal dituntut untuk dapat memenuhi kebutuhannya sendiri, yaitu dengan jalan bekerja. Dalam pekerjaannya tersebut, individu dituntut untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
7.      Mulai bertanggung jawab sebagai warga Negara secara layak
Seseorang yang dikatakan dewasa sudah berhak untuk menentukan cara hidupnya sendiri, termasuk dalam hal ini hak dan kewajibannya sebagai warga dari suatu Negara.
8.      Memperoleh kelompok sosial yang seriama dengan nilai-nilai atau fahamnya.
Setiap individu mempunyainilai-nilai dan faham yang berbeda satu sama lain. Pada masa ini seorang individuakan mulai mencari orang-orang atau kelompok yang mempunyai faham yang sama atau serupa dengan dirinya.

Penelitian secara spesifik memilih wanita bekerja dengan batasan usia 30 tahun ke atas sebagai subyek penelitian karena pada usia tersebut terdapat peningkatan tekanan untuk menikah dan menetap (Santrock, 2004: 123). Usia 30 tahun merupakan masa dimana banyak orang dewasa yang masih lajang membuat keputusan setelah  melalui pertimbangan yang matang untuk menikah  atau tetap melajang (Santrock,2004: 123). Jika seorang wanita ingin mengalami fase menjadi seorang ibu dan mengasuh anak dia akan merasa mulai dikejar waktu ketika mencapai usia 30 tahun. Seperti yang kita ketahui, secara medis kehamilan pada wanita berusia diatas 30 tahun mempunyai banyak sekali resiko. Dan semakin lanjut usia seorang wanita pada waktu hamil semakin meningkat probabilitas terjadinya “bahaya” pada sang jabang bayi nantinya. 

Santrock (2004) dalam bukunya mengutip komentar seseorang laki-laki berusia 30 tahun. Dia mengatakan, “Hal ini adalah kenyataan. Kita memang seharusnya sudah menikah ketika mencapai usia 30, ini merupakan standart di masyarakat. Hal ini merupakan bagian dari hidup, dimana kita harus melakukan apa yang harus kita lakukan menurut standart umum (dalam bahasa ilmiah kita menyebutnya sebagai tugas perkembangan). Kita mulai mempunyai karier dan mempertanyakan siap sebenarnya diri kita pada waktu kita berusia dua puluhan. Pada usia tiga puluhan, seorang individu harus melanjutkannya dengan tugas lain. Agar tetap dianggap berada di jalur, pada usia ini kita harus mulai membuat rencana masa depan, mapan secara financial, dan mulai membentuk keluarga. Tetapi dalam jangka waktu 30 tahun ke depan selanjutnya, menikah menjadi kurang penting dibandingkan membeli rumah atau property lain (Santrock, 2004: 122).

Bagi seorang perempuan yang belum menikah, usia 30an adalah usia kritis dan banyak pilihan seperti di persimpangan jalam. Bila diamati stress lebih sering dialami seorang wanita ketika menginjak usia ini. Sebagian perempuan, malah semakin berkurang keinginannya menikah ketika melewati batas usia 30an, karena mereka semakin pesimis menggapai keinginan mereka yang satu ini. Meski demikian mereka, apalagi perempuan metropolis, masih memiliki keinginan-keinginan yang akhirnya membawa mereka mencari kesibukan lain dalam mengisi masa kesendiriannya (Amanah, Edisi Agustus 2002: 12).
Referensi :
Desmita. 2009. Psikologi Perkembangan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Hurlock, B. Elizabeth. 1980. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga.
Mappiare, Andi. 1983. Psikologi Orang Dewasa. Surabaya: Usaha Nasional.
Monks. 2006. Psikologi Perkembangan. Yogyakarta: GADJAH MADA UNIVERSITY PRESS.
Santrock, W. John. 2002. Life-Span Development. Jakarta: Erlangga.

Hurlock, E. B. (1994). Psikologi Perkembangan, Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta : Erlangga.


Sunday, September 22, 2019

TUGAS PERKEMBANGAN MASA REMAJA


Masa remaja termasuk masa yang sangat menentukan karena pada masa ini anak-anak mengalami banyak perubahan pada psikis dan fisiknya. Terjadinya perubahan kejiwaan menimbulkan kebingungan dikalangan remaja, mereka mengalami penuh gejolak emosi dan tekanan jiwa sehingga menyimpang dari aturan dan norma-norma sosial yang berlaku dikalangan masyrakat.
“Menurut hukum di Amerika Serikat saat ini, individu dianggap telah dewasa apabila telah mencapai usia delapan belas tahun, bukan dua puluh satu tahun seperti sebelumnya”. Perpangjangan masa remaja, setelah individu matang secara seksual dan sebelum diberi hak serta tanggungjawab orang dewasa mengakibatkan kesenjangan antara apa yang secara populer dianggap budaya remaja dan budaya dewasa. Budaya kawula mudah menekankan kesegaran dan kelengahan terhadap tanggungjawab dewasa. Budaya ini memiliki hirarki sosialnya sendiri, keyakinannya sendiri, gaya penampilannya sendiri, nilai – nilai dan norma perilakunya sendiri.

·         CIRI-CIRI MASA REMAJA
1.      Remaja sebagai Periode yang Penting
 Ada beberapa periode yang lebih penting daripada beberapa periode lainnya, karena akibatnya yang langsung terhadap sikap dan perilaku, dan ada lagi yang penting karena akibat jangka panjangnya. Pada periode remaja,  baik akibat langsung maupun akibat jangka panjang tetap penting. Ada periode yang penting karena akibat fisik dan ada lagi karena akibat psikologis. Pada periode remaja kedua-duanya sama-sama penting.
2.      Masa Remaja sebagai Periode Peralihan
Peralihan tidak berarti terputus dengan atau berubah dari apa yang telah terjadi sebelumnya, melainkan lebih-lebih sebuah peralihan dari satu tahap  perkembangan ke tahap berikutnya.  Artinya,  apa yang telah terjadi sebelumnya akan meninggalkan bekasnya pada apa yang terjadi sekarang dan yang akan datang. Bila anak-anak beralih dari masa kanak-kanak ke masa dewasa, anak-anak harus "meninggalkan segala sesuatu yang bersifat kekanak-kanakan" dan juga harus mempelajari pola perilaku dan sikap baru untuk menggantikan perilaku dan sikap yang sudah ditinggalkan.
3.      Masa Remaja sebagai Periode Perubahan
Tingkat perubahan dalam sikap dan perilaku selama masa remaja sejajar dengan tingkat perubanan fisik. Selama awal masa remaja, ketika perubahan fisik terjadi dengan pesat, perubahan perilaku dan sikap juga berlangsung pesat. Kalau perubahan fisik menurun maka perubahan sikap dan perilaku menurun juga.
Ada empat perubahan yang sama yang hampir bersifat universal.
a.       Meningginya emosi, yang intensitasnya bergantung pada tingkat perubahan fisik dan psikologis yang terjadi. Karena perubahan emosi biasanya terjadi lebih cepat selema masa awal remaja, maka meningginya emosi lebih menoljol pada masa awal periode akhir masa remaja.
b.      Perubahan tubuh, minat dan peran yang diharapkan oleh kelompok sosial untuk dipesankan, menimbulkan masalah baru. Bagi remaja muda, masalah baru yang timbul tarmpaknya lebih banyak dan lebih sulit diselesaikan dibandingkan masalah yang dihadapi sebelumnya. Remaja akan tetap merasa ditimbuni masalah, sampai ia sendiri menyelesaikannya menurut kepuesannya.
c.       Dengan berubahnya minat dan pola perilaku, maka nilai-nilai juga berubah. Apa yang pada masa kanak-kanak dianggap penting, sekarang setelah hampir dewasa tidak penting lagi. Misalnya, sebagian besar. remaja tidak lagi menganggap bahwa banyaknya teman merupakan petunjuk popularitas yang lebih penting daripada sifat-sifat yang diKagumi dan dihargai oleh teman-teman sebaya. Sekarang mereka mengerti bahwa kualitas lebih penting daripada kuantitas.
d.      Sebagian besar remaja bersikap ambivalen terhadap setiap perubahan. Mereka menginginkan dan menuntut kebebasan tetapi mereka sering takut bertanggung jawab akan akibatnya dan meragukan kemampuan mereka untuk dapat mengatasi tanggung jawab tersebut.
4.      Masa Remaja sebagai Usia Bermasalah
ada 2 alasan bagi kesulitan itu.
a.       Pertama, sepanjang masa kanak-kanak, masalah anak-anak sebagian diselesaikan olen orang tua dan guru-guru, sehingga kebanyakan remaja tidak berpengalaman dalam mengatasi masalah.
b.       Kedua, karena para remaja merasa diri mandiri, sehingga mereka ingin mengatasi masalannya sendiri, menolak bantuan orang tua dan guruguru.
Karena ketidakmampuan mereka untuk mengatasi sendiri masalahnya menurut cara yang mereka yakini, banyak remaja akhirnya menemukan bahwa penyelesaiannya tidak selalu sesuai dengan harapan mereka. Seperti dijeiaskan oleh Anna
Freud, "Banyak kegagalan, yang seringkali disertai akibat yang tragis, bukan karena ketidakmampuan individu tetapi karena kenyataan bahwa tuntutan yang diajukan kepadanya justru pada saat semua tenaganya telah dihabiskan untuk mencoba mengatasi masalah pokok yang disebabkan oleh pertumbuhan dan perkembangan seksuai yang normal
  1. Pada tahun-tahun awal masa remaja, penyesuaian diri dengan kelompok masih tetap penting bagi anak laki-laki dan perempuan. Lambat laun mereka mulai mendambakan identitas diri dan tidak puas lagi dengan menjadi sama dengan temann-teman dalam segaia hal, seperti sebelumnya.
Tetapi status remaja yang mendua dalam kebudayaan Amerika saat ini menimbuikan suatu dilema yang menyebabkan "krisis identitas" ataumasalah identitas-ego pada remaja. Salah satu cara untuk mencoba mengangkat diri sendiri sebagai individu adalah dengan menggunakan simbol status dalam bentuk mobil, pakaian dan pemilikan barang-barang lain yang mudah terlihat. Dengan cara ini, remaja menarik perhatian pada diri sendiri den agar dipandang sebagai individu, sementara pada saat yang sama ia mempertahankan identitas dirinya terhadap kelompok sebaya. Pentingnya simbol status pada masa remaja.
6.      Masa Remaja sebagai Usia yang Menimbulkan ketakutan
Seperti ditunjukkan oleh Majeres, Banyak angnapan populer Tentang remaja yang mempunyai arti yang bernilai, dan sayangnya, banyak di antaranya yang bersitat negatif. Anggepan Stereotip budaya bahwa remaja adalah anak-anak yang tidak rapih, yang tidak dapat dipercaya dan cenderung merusak dan berperilaku merusak, menyebabkan orang dewasa yang harus membimbing dan mengawasi kehidupan remaja muda takut bertanggung jawab dan bersikap tidak simpatik terhadap perilaku remaja yang normal.
Stereotip populer juga mempengaruhi konsep diri dan sikap. remaja terhadap dirinya sendir. Dalam membahas masalah stereotip budaya remaja, Anthony menjelaskan, "Stereotip juga bertungsi sebagai cermin yang ditegakkan masyarakat bagi remaja, yang menggambarkan citra diri remaja sendiri. Ciri yang lambat laun dianggap sebagai gambaran yang asli dan reimaja membentuk perilakunya sesuai dengan gambaran ini". Masa Remaja sebagai Masa yang Tidak Realistik
7.      Masa Remaja sebagai Ambang Masa Dewasa
Dengan semakin mendekatnya usia kematangan yang sah, para remaja menjadi gelisah untuk meninggalkan stereotip belasan tahun dan untuk dewasa. Berpakaian dan bertindak seperti orang memberikan kesan bahwa mereka sudah hampir dewasa ternyata belumlah cukup. Oleh karena itu, remaja mulai memusatkan diri pada perilaku yang dihubungkan dengan status dewasa, yaitu merokok, minum minuman keras, menggunakan obat-obatan, dan terlibat dalam perbuatan seks. Mereka menganggap bahwa perilaku ini akan memberikan citra yang mereka inginkan.

·         Perkembangan sosial remaja
Percepatan perkembangan remaja dalam masa remaja yang berhubungan dengan permasalahan seksualitas, juga mengakibatkan suatu perubahan dalam perkembangan sosial remaja. Sebelum masa remaja sudah ada saling hubungan yang lebih erat antara anak-anak yang sebaya. Sering juga timbul kelompok-kelompok anak, perkumpulan-perkumpulan untuk bermain bersama atau membuat rencana bersama, misalnya untuk lemah, atau saling tukar pengalaman, merencanakan aktivitas bersama misalnya aktivitas terhadap suatu kelompok lain. Aktivitas tersebut juga dapat bersifat agresif, kadang-kadang kriminal seperti mencuri, penganiayaan dan lain-lain, dalam hal ini dapat dilakukan kelompok anak nakal.
Sifat yang khas kelompok anak sebelum pubertas adalah bahwa kelompok tadi terdiri daripada sekse yang sama. Persamaan sekse ini daat membantu timbulnya identitas jenis kelamin dan yang berhubungan dengan itu ialah perasaan identifikasi yang mempersiapkan pembentukan pengalaman identitas. Pada usia 5 atau 6 tahun nampak jelas adanya sifat-sifat jenis sekse atau tingkah laku yang khas bagi jenis seksenya sendiri hingga antara usia 8/9-11 tahun anak sering menghindarkan diri dari hubungan dengan sekse yang berlawanan. Suatu sifat yang khas lagi dari kelompok anak pra-remaja ataupra-pubertas ini adalah bahwa mereka tidak menentang orang dewasa melainka justru menirukan mereka dalam olahraga, permainan dan kesibukan-kesibukan yang lain.
Dalam kedua hal tersebut di atas datanglah, sesudah mulai masa remaja, suatau perubahan yang jelas yang memberikan sifat-sifat khusus bahkan suatu kebudayaan sendiri pada kelompok anak remaja (Keniston, 1960; Baacke, 1967). Hal ini memberikan masalah-masalahnya sendiri yang akan di kupas lebih lanut.
1.      Dorongan untuk dapat berdiri sendiri dan krisis originalitas
Dalam perkembangan sosial remaja dapat dilihat adanya dua masam gerak, yaitu:
a.       Memisahkan diri dari orang tua.
b.      Menuju kearah teman-teman sebaya.
Dua macam arah gerak ini tidak merupakan dua hal yang berturutan meskipun yang satu dapat terikat pada yang lain. Hal itu yang menyebabkan bahwa gerak yang pertama tanpa adanya gerak kedua dapat menyebabkan rasa kesepian. Hal ini kadang-kadang dijumpai dalam masa remaja, dalam keadaan yang ekstrim hal ini dapat menyebabkan usaha-usaha unuk bunuh diri (Ausubel, 1963). Juga kualitas hubungan dengan orang tua memegang peranan yang sangat penting. Dalam hal ini sifat sikap lekat anak terhadap orang tua banyak menentukan. Kelekatan yang yang tidak aman (insecure attachment) bila terjadi persamaan dengan kemandirian menimbulkan perhatian yang berlebihan pada kepentingan sendiri, sedangkan kelekatan yang tidak aman bersama dengan ketergantungan menimbulkan orientasi konformistis atau isolasi penuh kecemasan. Dalam masa remaja, remaja berusaha untuk melepaskan diri dari mileu orang tua dengan makasud menemukan dirinya. Erikson menamakan proses tersebut sebagai proses mencari identitas ego. Bosma (1983) yang meneliti 300 anak muda usia 13-21 tahun menemukan adanya commitments dengan sekolah dan pekerjaan, bentuk-bentuk pengisian waktu luang, persahabatan, relasi dengan orang tua, problema politik dan sosial, hubungan yang intim, religi, self, bergaul dengan urang lain, penampilan , kebahagiaan dan kesehatan, kebebasan, uang. Konformitas kelompok remaja
2.      Remaja dalam waktu luang
Pengisian waktu luang baik dengan cara yang sesuai dengan umur remaja, masih merupakan masalah bagi kebanyakan remaja. Kebosanan, segan untuk melakukan apa saja meruapakan fenomena yang sering kita jumpai. Hal ini sering dinilai negatif sebagai tanda disentregrasi dalam diri remaja. Sebetulnya dapat pula dipandang positif. Yaitu bila hal tadi dipandang sebagai suatu tanda tidak puas terhadap tuntutan luar untuk melibatkan diri dengan aktivitas-aktivitas yang dianggapnya tidak ada artinya. Hal ini merupakan sikap penolakan terhadap tuntutan dunia luar untuk datang pada pendapat sendiri dan pada pilihan sendiri menganai kesibukan-kesibukan yang baginya lebih berarti.
3.      Remaja dalam sekolah
Di Indonesia masa remaja masih merupakan masa belajar di sekolah. Hal ini terutama berlaku pada permulaan masa tersebut: remaja pada umumnya duduk di bangku sekolah menengah pertama atau yang setingat. Di desa-desa tertama di plosok-plososk masih saja dijumpai remaja yang sudah tidak sekolah lagi, meskipun mereka pada umumnya dapat menikmati pendidikan sekolah dasar. Sesudah tamat sekolah dasar mereka membantu orang tuanya di sawah atau di ladang atau mereka mencari pekerjaan di kota. Sering juga mereka berdagang keliling. Dengan kemajuan jaman banyak orang tua di desa, yang sudah mengerti manfaat pendidikan di sekolah, banyak yang mengirimkan anaknya ke kota untuk melanjutkan sekolahnya. Berbondong-bondong mereka ke kota untuk melanjutkan pelajaran di Perguruan Tinggi dengan segala macam komplikasinya.
Remaja di kota dari keluarga yang terpelajar atau yang berada biasanya diharpakan (oleh orang tua) untuk melanjutkan sekolah di Perguruan Tinggi. Bagi mereka yang tidak dapat melanjutkan mereka berusaha untuk mendapatkan suatu pekerjaan, tetapi banyak juga yang tidak berhasil mendapatkan suatu pekerjaan hingga kemudian menambah angka pengangguran.

Berikut adalah beberapa tugas-tugas perkembangan remaja menurut Havigrust yang seharusnya dicapai pada periode remaja, yaitu sebagai berikut :
1. Menguasai kemampuan membina hubungan baru dan lebih matang dengan teman sebaya yang sama atau pun berlawanan jenis.
2.Menguasai kemampuan melaksanakan peranan sosial sesuai dengan jenis kelamin
3. Menerima keadaan fisik dan mengaktualisasikan secara efektif
4. Mencapai kemerdekaan emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya
5. Memiliki kemampuan untuk mandiri secara ekonomi.
6.Remaja yang matang memiliki dorongan untuk mencari biaya hidup sendiri. Mereka ingin berbuat sesuatu yang bisa menghasilkan uang, seperti dengan ikut kerja paruh waktu.
7.Memiliki kemampuan memilih dan mempersiapkan diri untuk karier.
8. Berkembangnya keterampilan intelektual dan konsep-konsep yang perlu untuk menjadi warga negara yang baik.
9.Memiliki keinginan untuk bertanggung jawab terhadap tingkah laku sosial.
10.  Memiliki perangkat nilai dan sistem etika dalam bertingkah laku.


REFERENSI
Hurlock, Elizabeth B.Istiwidayanti.1991.Psikologi perkembangan:Suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan.Jakarta:Erlangga
Monks, F.J.1985.Psikologi Perkembangan:Pengantar dalam berbagai bagiannya.Yogyakarta:Gadjah mada University press
Desmita.2015.Psikologi perkembangan.Bandung:PT Remaja Rosda Karya

Sunday, September 15, 2019



PERKEMBANGAN MASA BAYI SAMPAI MASA KANAK-KANAK AKHIR

A.    Masa bayi
Robert J. Havinghust (Hurlock,  1990) mengatakan bahwa tugas perkembangan adalah tugas yang muncul pada saat atau sekitar satu periode tertentu dari kehidupan individu dan jika berhasil akan menimbulkan fasr bahagia dan membawa keberhasilan dlam melaksanakan tugas - tugas berikutnya. sebaliknya jika gagal akan menimbulkan rasa tidak bahagia dan kesulitan dalam menghadapi tugas - tugas berikutnya. tugas - tugas perkembangan berikut beberapa di antaranya muncul sebagai akibat kematangan fisik, sedangkan yang lain berkembang karena adanya aspirasi budaya, sementara yang lainnya tumbuh dalam berkembang karena nilai - nilai dan aspirasi individu.

·         Perkembangan fisik
1.      Berat
Pada usia empat bulan, berat bayi biasanya bertambah dua kali lipat. Pada usia satu tahun berat bayi rata-rata tiga kali berat pada waktu lahir atau sekitar 21 pon. Pada usia dua tahun rata-rata berat bayi Amerika adalah 25 pon. Peningkatan berat tubuh selama bayi terutama disebabkan karena peningkatan jaringan lemak.
2.      Tinggi
Pada usia empat bulan, ukuran bayi antara 23 dan 24 inci; pada usia satu tahun, antara 28 dan 30 inci, dan pada usia dua tanun, antara 32 dan 34 inci.
3.      Proporsi Fisik
Pertumbuhan kepala berkurang dalam masa bayi, sedangkan. pertumbuhan badan dan tungkai meningkat. Jadi bayi berangsur-angsur menjadi kurang berat di atas dan tampak lebih ramping dan tidak gempal pada masa akhir bayi.
·         Pola Pengendalian Motorik
1.      Pengendalian Mata
Optik nystagmus, atau reaksi mata terhadap rangkaian benda bergerak dimulai kira-kira dua belas jam setelan lahir, gerakan mata mencari, antara minggu Ketiga dan keempat: gerakan mata horisontal, antara bulan kedua dan ketiga: gerakan mata vertikal, antara bulan ketiga dan keempat: dan gerakan mata berputar beberapa bulan kemudian
2.      Tersenyum
Gerak refleks tersenyum, atau senyum sebagai reaksi terhadap rangsangan perabaan muncul dalam minggu pertama; senyum sosial atau senyum sebagai reaksi terhadap senyuman orang lain mulai antara bulan ketiga dan keempat
3.      Manahan Kepala
Dalam posisi tengkurap bayi dapat menahan kepala secara tegak pada usia satu bulan: kalau terlentang. pada lima bulan: dan dalam posisi duduk, antara empat dan enam bulan
4.      Berguling
Bayi dapat berguling samping ke belakang pada usia dua bulan dan dari tengkurap ke samping pada empat bula: pada usia enam bulan dapat berguling sepenuhnya.
5.      Duduk
Bayi dapat ditarik ke posisi duduk pada usia empat bulan. duduk dengan dibantu pada usia lima bulan. duduk tanpa dibantu sebentar pada usia tujuh bulan, dan duduk tanpa bantuan selama sepuluh menit atau lebih pada usia sembilan bulan
·         Tugas-tugas yang Terlibat dala Belajar Berbicara
1.      Pengucapan
Bayi belajar mengucapkan kata-kata sebagian melalui coba-coba tetapi terutama dengan meniru ucapan orang dewasa. Huruf mati dan campuran huruf mati lebih sulit diucapka bayi daripada huruf hidup dan diftong. Banyak ucapan bayi yang tidak dapat dimengerti sampai usia delapan belas bulan, setelah itu berangsur-angsur terjadi kemajuan yang mencolok.
2.      Membangun Kosa Kata
Mula-mula bayi belajar nama-nama orang dan benda, kemudian kata-kata kerja seperti "memberi" dan "mengambil." Sesaat sebelum masa bayi belajar beberapa kata sifat seperti "manis" dan "nakal," dan juga beberapa kata keterangan. Kata depan, kata penghubung dan kata ganti umumnya belum dipelajari sampai awal masa kanak-kanak. Kosa kata meningkat dengan bertambahnya usia.
3.      Kalimat
Kalimat bayi yang pertama muncul antara usia dua belas dan delapan belas bulan, biasanya terdiri dari satu kata yang disertai dengan isyarat. Lambat laun kata-kata merambat dalam kalimat, tetapi isyarat masih banyak digunakan sampai memasuki masa kanak-kanak.
·         Pola Emosional yang Lazim pada Masa Bayi
1.      Kemarahan
Perangsang yang lazim membangkitkan kemarahan bayi adalah campur tangan terhadap gerakan-gerakan mencoba-cobanya menghalangi keinginannya, tidak mengizinkannya mengerti sendiri, dan tidak memperkenankannya melakukan apa yang dia inginkan. Lazimnya tanggapan marah mengambil bentuk menjerit meronta-ronta, menendangkan kaki, mengibaskan tangan. dan memukul atau menendang apa saja yang ada di dekatnya. Pada tahun kedua bayi dapat juga melonjak-lonjak, berguling-guling meronta-ronta dan menahan nafas.
2.      Ketakutan
Perangsang yang paling mungkin mermbangkitkan ketakutan bayi adalah suara keras; orang, barang dan situasi asing. ruangan gelap: tempat tinggi dan binatang. Perangsang yang terjadi tiba-tiba atau tidak terduga atau yang tidak lazim bagi bayi biasanya membangkitkan rasa takut juga. Tanggapan rasa takut yang lazim pada masa bayi terdiri dari upaya menjauhkan diri dari perangsang yang menakutkan dengan merengek, menangis dan menahan nafas.
3.      Rasa Ingin Tahu
Setiap mainan atau barang baru dan tidak biasa adalah perangsang untuk keingintahuan, kecuali jika kebaruan itu begitu tegas sehingga menimbulkan ketakutan. Bila rasa takut berkurang, ia akan membuka mulut, dan menjulurkan lidah. Kemudian, bayi akan menangkap barang yang membangkitkan rasa ingin tahunya tersebut, memegang, membolak-baiik, melempar, atau memasukkannya ke mulutnya.
B. MASA KANAK-KANAK AWAL
Masa kanak kanak dimulai setelah melewati masa bayiyang penuh ketergantungan, yakni kira-kira usia 2 tahun sampai saat anak matang secara seksual, yakni kira-kira usia 13 tahun untuk perempuan dan 14 tahun untuk pria. Secara periode ini (kira-kira 11 tahun bagi wanita dan 12 tahun untuk pria) terjadi  sejumlah perubahan yang signifikan baik secara fisik maupun psikologis. Sejumlah ahli membagi masa anak-anak menjadi 2 yakni masa kanak-kanak awal dan masa kanak-kanak akhir. Masa kanak-kanak awal dimulai dari usia 2 tahun sampai 6 tahun, dan masa kanak-kanak akhir dari usia 6 sampai saat anak matang secara seksual.

A. Perkembangan Fisik
            Selama masa kanak-kanak pertumbuhan fisik berlangsung lambat dibanding dengan tingkat pertumbuhan selama masa bayi. Pertumbuhan fisik yang lambat ini berlangsung sampai mulai munculnya tanda-tanda pubertas kira-kira 2 tahun menjelang matang secara seksual dan pertumbuhan fisik bertumbuh dengan pesat. Meskipun selama masa kanak-kanak pertumbuhan fisik mengalami penurunan, namun keterampilan-keterampilan motorik kasar dan halus justru berkembang pesat.
1.      Tinggi dan berat
Selama masa kanak-kanak awal, tinggi rata-rata anak bertumbuh2,5 inci dan berat bertambah antara 2,5 sampai 3,5 kg setiap tahunnya. Pada usia 3 tahun tinggi anak sekitar 38 inci dan beratnya sekitar 16,5 kg. Pada usia 5 tahun tinggi anak mencapai 43,6 inci dan beratnya 21,5 kg. Ketika anak prasekolah bertumbuh semakin besar, presentasi pertumbuhan dalam tinggi dan berat berkurang setiap tahun. Selama masa ini, baik laki-laki dan perempuan terlihat semakin langsing, sementara batang tubuh mereka semakin panjang.

2.      Perkembangan otak
Diantara perkembangan fisik yang sangat penting selama masa kanak-kanak awal ialah perkembangan otak dan sistem syaraf yang berkelanjutan. Meskipun otak terus bertumbuh pada masa pada masa awal anak-anak, namun pertumbuhannya tidak sepesat pada masa bayi. Pada saat bayi mencapai 2 tahun, ukuran otaknya rata-rata 75% dari otak orang dewasa. Dan pada usia 5 tahun ukuran otaknya telah mencapai sekitar 90% otak orang dewasa. Pertumbuhan otak selama masa anak-anak disebabkan oleh pertambahan jumlah dan ukuran urat syaraf yang berujung didalam dan diantara daerah-daerah otak.

3.      Perkembangan motorik
Perkembangan fisik pada masa anak-anak ditandai dengan berkembangannya keterampilan motorik, baik kasar maupun halus. Sekitar usia 3 tahun, anak sudah dapat berjalan dengan baik, dan sekitar usia 4 tahun anak hampir menguasai cara belajar orang dewasa. Usia 5 tahun anak sudah terampil menggunakan kakinya untuk berjalan dengan berbagai cara, seperti maju dan mundur, jalan cepat dan lamban melompat, memanjat dan sebaginya. Anak usia 5 tahun juga dapat melakukan tindakan-tindakan tertentu secara  akurat seperti menyembangkan badan diatas satu kaki, menangkap bola dengan baik,melukis, menggunting  kertas dan sebagainya.

B. Perkembangan Kognitif
1.      Perkembangan persepsi
Meskipun persepsi telah berkembang sejak awal kehidupannya, namun hingga masa kanak-kanak awal kemampuan atau kapasitas mereka untuk memperoleh informasi masih sangat terbatas.  Anak prasekolah sering mengalami kesukaran dalam menyatukan tindakan dengan penglihatan ketika berhadapan dengan stimulus yang membingungkan. Misalnya, anak-anak usia 4 tahun mungkin dapat melukis sebuah gambar dengan baik, tetapi hanya sepanjang tidak berbicara. Mereka tidak dapat melakukan pekerjaan sambil berbicara.

2.      Perkembangan Atensi
Atensi pada anak telah berkembang sejak masa bayi. Aspek-aspek atensi yang berkembang selama masa bayi ini memiliki arti yang sangat penting selama tahun-tahun pra sekolah. Penelitian telah menunjukan bahwa hilangnya atensi dan pulihnya atensi bila diukur pada 6 bulan pertama masa bayi, berkaitan dengan tingginya kecerdasan pada tahun-tahun prasekolah meskipun atensi bayi memiliki pengaruh yang besar terhadap perkembangan kognitif selama tahun-tahun pra sekolah, namun kemampuan anak unuk memusatkan perhatian berubah signifikan selama tahun-tahun pra sekolah menyangkut dimensi-dimensi yang lebih menonjol dibandingkan dengan dimensi-dimensi yang relefan untuk memcahkan masalah atau mengerjakan suatu tugas dengan baik.

3.      Perkembangan bahasa
pada masa ini anak-anak telah mengalami sejumlah nama-nama dan hubungan antara simbol-simbol. Ia juga dapat membedakan berbagai benda disekitarnya serta melihat hubungan fungsional antara benda-benda tersebut. Disamping itu, pada masa ini penguasaan kosakata anak juga meningkat pesat. Anak mengucapkan kalimat yang makin panjang dan makin bagus, menunjukan panjang pengucapan rata-rata anak telah memulai menyatakan pendapatnya dengan kalimat majemuk. Sekali-sekali ia menggunakan kata perangkai, akhirnya timbul anak kalimat.

C. MASA KANAK-KANAK AKHIR
Sejak lama kriteria bagi anak untuk dapat diterima di sekolah dasar adalah “kemasakan”. Bagi Indonesia kriteria umur memegang peran penting. Anak baru bisa diterima bila ia sudah mencapi umur 7 tahun. Kriteria umur ini sebetulnya mencakup kriteria lain yang juga berhubungan degakemasakan, yaitu:
1.       Anak harus dapat bekerjasama dalam kelompok dengan anak-anak lain, yaitu anak tidak boleh masih tergantung pada ibunya,  teman sebaya.
2.       Anak harus dapat mengamati secara analitis. Ia harus sudah dapat meneganal bagian-bagian dari keseluruhan dan dapat menyatukan kembali bagian-bagian tersebut. Jadi di sini anak harus sudah mempunyai kemampuan memisah-misahkan.
3.       Anak secara jasmaniah harus sudah mencapai bentuk anak sekolah. Petunjuk untuk ini adalah kalau sudah dapat memegang telinga kiri dengan tangan kanan melalui atas kepala, atau kalau anak kidal maka tangan kiri harus dapat mencapai telinga kanan melalui kepala. Inilah yang disebut ukuran filipino (di Nederland hal ini sampa sekarang masih merupakan ukuran apakah anak sudah “masak sekolah” atau belum).

Dalam memberikan bimbingan yang lebih baik pada anak dianjurkan untuk memilih istilah “kemampuan sekolah” daripada “kemasakan sekolah”. Kemasakan menunjukkan pada proses yang terjadi dari dalam secara spontan, sedangkan mampu sekolah ditentukan oleh faktor-faktor dari luar seperti lingkungan dan keluarga.

A.    Perkembangan sosial dan kepribadian
Perkembangan sosial dan kepribadian mulai dari usia pra sekolah sampai akhir masa sekolah ditandai oleh meluasnya lingkungan sosial. Meluasnya sosial bagi anak menyebabkan anak menjumpai pengaruh yang sangat besar dalam proses emansipasi. Dalam proses emansipasi dan individu maka teman-teman sebaya mempunyai peran yang besar. Aspek-aspek mengenai perkembangan sosial dan kepribadian, yaitu:
a.       Interaksi dengan anak-anak sebaya
Dalam TK dan SD anak mempunyai kontak yang intensif dengan teman-teman sebaya. Di muka telah dikemukakan bahwa anak-anak saling mempengaruhi satu sama lain. Anak biasanya berusaha untuk menjadi anggota suatu kelompok, kelompok semacam ini terdapat dalam Taman Kanak-kanak.
b.      Perkembangan motivasi prestasi
Setiap tingkah laku tentu mempunyai motif. Setiap perbuatan dan tindakan mempunyai dasar, mempunyai motif. Salah satu aspek kepribadian seseorang yang paling banyak diteliti adalah mengenai motivasi prestasi. Pada umunya perbedaan antara motivasi yang intrinsik dan eksterinsik. Motivasi intrinsik berarti bahwa sesuatu perbuatan memang diinginkan karena seseorang senang melakukannya, motivasi ini datang dari dalam diri orang itu sendiri. Sedangkan motivasi ekstrinsik berarti perbuatan yang dilakukan atas dasar dorongan atau dipaksa dari luar. Suatu motivasi mempunyai 3 macam unsur:
1.      Motif mendorong terus, memberikan energi pada suatu tingkah laku (merupakan dasar energetik).
2.      Motif menyeleksi tingkah laku, menentukan arah, apa yang akan dilakukan dan tidak dilakukan.
3.      Motif mengatur tingkah laku artinya bila sudah memilih salah satu arah perbuatan maka arah itu akan tetap dipertahankan.
c.       Perkembangan identitas jenis kelamin atau tingkah laku sesuai jenis kelamin.

Pendapat psikoanalisis mengatakan bahwa identitas jenis kelamin timbul karena proses-prose yang terjadi selama proses eodipus antara 2-6 tahun, antara 3 dan 4 tahun anak laki-laki ada dalam situasi ini. Anak laki-laki mempunyai keinginan seksual terhadap ibu tetapi ia juga memiliki ketakutan terhadap ayah. Untuk menghindari kesukaran dengan ayahnya, anak sekarang mengadakan identifikasi dengan perintah dan larangan ayah. Sebaagai akibatnya timbul lah tingkah laku yang spesifik jenis kelamin. Pada anak wanita akan juga terjadi proses yang semacam, yaitu anak wanita yang mempunyai keinginan seksual terhadap ayah akan mengadakan identifikasi dengan ibu untuk menghindari kesukaran-kesukaran.


REFERENSI
Hurlock, Elizabeth B.Istiwidayanti.1991.Psikologi perkembangan:Suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan.Jakarta:Erlangga
Monks, F.J.1985.Psikologi Perkembangan:Pengantar dalam berbagai bagiannya.Yogyakarta:Gadjah mada University press
Desmita.2015.Psikologi perkembangan.Bandung:PT Remaja Rosda Karya