Sunday, September 29, 2019

TUGAS PERKEMBANGAN DEWASA AWAL




Pengertian Masa Dewasa Awal Definisi Perkembangan Ciri Menurut Para Ahli Hurlock dan Santrock Pengertian Dewasa Awal - Masa dewasa awal dimulai pada umur 18 tahun sampai kira-kira umur 40 tahun. Saat perubahan-perubahan fisik dan psikologis yang menyertai berkurangnya kemampuan reproduktif (Hurlock, 1996). Definisi dewasa awal  merupakan periode penyesuaian diri terhadap pola-pola kehidupan yang baru dan harapan-harapan sosial baru. Orang dewasa awal diharapkan memaikan peran baru, seperti suami/istri, orang tua, dan pencari nafkah, keinginan-keingan baru, mengembangkan sikap-sikap baru, dan nilai-nilai baru sesuai tugas baru ini (Hurlock, 1996).
A.    Karakteristik Dewasa Awal
 Banyak diantara karakteristik penting dalam masa dewasa awal ini merupakan kelanjutan dari karakteristik yang terdapat dalam masa remaja. Namun demikan, beberapa diantaranya menunjukkan penonjolan karakteristik yang membedakan dengan masa-masa sebelumnya yakni masa remaja. Karakteristik yang menonjol dalam masa dewasa awal yang membedakannya dengan masa kehidupan yang lain, nampak dalam adanya peletakan dasar dalam banyak aspek kehidupannya, melonjaknya persoalan hidup yang dihadapi dibandingkan dengan remaja akhir dan terdapatnya ketegangan emosi. Berikut merupakan karakteristik pada masa dewasa awal, yakni:
1.          Usia Reproduktif
 Bagi sebagian besar orang-orang dewasa muda atau dewasa awal, menjadi orang tua atau sebagai ayah / ibu merupakan satu diantara peranannya yang sangat penting dalam hidupnya. Berperan sebagai orang tua, nampak lebih nyata dibandingkan pria, yang walaupun sekarang ini nampaknya pria banyak pula mengambil bagian secara aktif dalam mendidik anak-anak dibandingkan dengan apa yang nampak pada waktu-waktu yang lalu. Apabila seseorang telah mulai memasuki hidup berrumah tangga dalam akhir masa remaja, maka orang dewasa yang bersangkutan menyyiapkan diri mengambil peranannya sebagai orang dewasa sejak usia dua puluh-an sampai akhir usia tiga puluh-an. Ada pula beberapa orang dewasa awal yang tidak kawin sampai mereka menyelesaikan pendidikan dan memulai karier mereka dalam suatu lapangan tertentu. Hal yang demikian nampak sekali terjadi dalam keluarga-keluarga besar, dimana wanita-wanita dewasa yang banyak adik berperan sebagai “orang tua” dalam membimbing adik-adik mereka.
2.          Usia Memantapkan Letak Kedudukan
Jika pada masa kanak-kanak dan remaja disebut sebagai masa pertumbuhan, maka masa dewasa merupakan usia pemantapan letak kedudukan. Sejak seseorang telah mulai memainkan peranannya sebagai orang dewasa, seperti sebagai pemimpin rumah tangga dan sebagai orang tua. Dalam usia pertengahan tiga puluh-an, rata-rata individu telah memiliki kemantapan dalam pola-pola hidup, denga sedikit perubahan-perubahan kecil, yang dijadikan latar sandaran dalam hidup sebagai orang dewasa. Adanya upenyelesaian segera terhadap persoalan hidup seseorang, khusus dalam hal diperolehnya kemantapan kedudukan dalam masa dewasa ini, akan dapat mendatangkan kepuasan sepanjang hidup oran dewasa yang bersangkutan.
3.          Usia Banyak Masalah
Dalam masa dewasa awal banyak persoalan  yang baru dialami. Persoalan-persoalan itu berbeda dengan persoalan yang pernah dialami masa-masa kanak-kanak mereka. Beberapa diantara persoalan tersebut merupakan kelanjutan atau pengembangan  persoalan yang dialami dalam masa remaja akhir. Segera setelah seseorang dewasa awal menyelesaikan pendidikan sekolah mereka, maka menghadang pula persoalan yan berhubungan dengan pekerjaan dan jabatan. Persoalan yang berhubungan dengan pemilihan teman hidup, merupakan satu diantara persoalan sangat penting dalam masa dewasa awal ini. Persoalan lain yang menonjol dirasakan dalam masa dewasa awal ini adalah berbuhungan dengan hal-hal keuangan. Persoalan ini mencakup aspek usaha mendapatkannya dan aspek pegelolaannya dalam pembelanjaan.
4.          Usia Tegang Dalam Hal Emosi
Ketegangan-ketegangan emosi yang terjadi dalam masa dewasa awal, terutama sering dialami dalam parohan awal masa ini. Banyak diantara dewasa muda ini mengalami ketegangan emosi yang berhubungan dengan persoalan-persoalan yang dialaminya seperti persoalan jabatan, perkawinan, keuangan dan sebagainya. Akan tetapi, apabila seseorang dewasa awal memiliki haraoan yang terlalu tinggi, dapat menyebabkannya harus “mendaki” dengan sekuat tenaga untuk mencapai harapan-harapannya itu. bahayanya adalah, jika harapan-harapan yang tinggi tidak selaras dengan kemmapuan individu yang bersangkutan, sehingga individu tersebut mengalami “kapayahan dalam pendakian” dan bahkan kegagalan yang sangat membuatnya kecewa. Kekecewaan itulah yang selanjutnya dapat menimbulkan kekacauan-kekacauan psikologis atatu masalah-masalah psikosomatis. (Andi Mappiare. 1983. 20-26)
5.          Usia Keterasingan Sosial
Dengan berakhirnya pendidikan formal dan terjunnya seseorang ke dalam pola kehidupan orang dewasa yakni karier, perkawinan dan rumah tangga, hubungan denga teman-teman kelompok sebaya masa remaja menjadi renggang, dan berbarengan dengan itu keterlibatan dalam kegiatan kelompok di luar rumah akan terusberkurang. Keterasingan diintensifkan dengan adanya semangat bersaing dan hasrat kuat untuk majudalam karier dan mereka juga harus mencurahkan sebagian besartenaga mereka untuk pekerjaan mereka, sehingga merek hanya dapat menyisihkan waktusedikit untuk sosialisasi yang diperlukan  untukmembina hubungan-hubungan yang akrab. Akibatnya mereka menjadi egosentris dan ini tentunya menambah kesepian mereka.
6.          Usia Perubahan Nilai
Banyak nilai masa kanak-kanak dan remaja berubah karena pengalaman dan hubungan sosial yang lebih luas dengan orang-orang yang berbeda usia dan nilai-nilai itu kini dilihat dari kaca mata orang dewasa. Ada beberapa alasan yang menyebabkan perubahan nilai pada masa dewasa dini, diantaranya yang sangat umum adalah: pertama, jika orang muda dewasa ingin diterima oleh anggota kelompok orang dewasa, maka harus menrima nilai-nilai kelompok ini. Kedua, orang-orang muda itu segera menyadari bahwa kebanyakan kelompok sosial berpedoman pada nilai-nilai konvensional dalam hal keyakinan-keyakinan dan perilaku seperti juga halnya dalam penampilan.
7.          Usia Penyesuaian Diri Dengan Cara Hidup Baru
Diantara berbagai penyesuaian diri yang harus dilakukan orang muda terhadap gaya hidup baru, yang paling umum adalah penyesuaian diri pada polaperan seks tradisional, serta pola-pola baru bagi kehidupan keluarga. Penyesuaian diri merupakan faktor penting dalam kehidupan manusia.
8.          Usia Komitmen
Sewaktu menjadi dewasa orang-orang muda mengalami perubahan tanggung jawab dari seorang pelajar yang sepenuhnya tergantung pada orang tua menjadi orang dewasa mandiri, maka mereka menentukan pola hidup baru, memikul tanggung jawab baru, dan membuat komitmen-komitmen baru.
9.          Usia Kreatif
Orang muda banyak yang bangga karena lain dari yang umum dan tidak menganggap hal ini sebagai suatutanda kekurangan. Bentuk kreatifitas yang akan terlihat sesudah ia dewasa akan tergantung pada minat dan kemampuan individual. (Sunarso. 2007. 51)

B.     TUGAS PERKEMBANGAN MASA DEWASA DINI
Tugas-tugas perkembangan masa dewasa dini dipusatkan pada harapan-harapan masyarakat yang mencakup mendapatkan suatu pekerjaan, memilih seorang teman hidup, belajar hidup bersama dengan suami atau isteri membentuk suatu keluarga, membesarkan anak-anak, mengelola sebuah rumah tangga, menerima tanggung jawab sebagai warga negara dan bergabung dalam suatu kelompok sosial yang cocok. Tingkat penguasaan tugas-tugas ini pada tahun-tahun awal masa dewasa akan mempengaruhi tingkat keberhasilan mereka ketika mencapai puncak keberhasilan pada waktu setengahbaya - apakah puncak itu di bidang pekerjaan, pengakuan sosial, atau kehidupan keluarga. Tingkat penguasaan ini juga akan menentukan kebahagiaan mereka saat itu maupun selama tahun-tahun akhir kehidupan mereka. Keberhasilan dalam menguasai tugas-tugas perkembangan masa dewasa dini sangat dipengaruhi oleh jenis dasar yang telah diletakkan sebelumnya. Meskipun demikian, faktor-takor tertentu dalam kehidupan orang dewasa akan mempermudah penguasaan tugas-tugas ini. Faktor-faktor tersebut berupa bantuan untuk menguasai tugas-tugas perkembanga diantaranya:
1.      Efisiensi Fisik
Puncak efisiensi fisik biasanya dicapai pada usia pertongahan 20-an, sesudah mana terjadi nenurunan lambat laun hingga awal usia  40-an. Dengan demikian dalam periode penyesuaian, secara fisik orang mampu menghadapi dan mengatasi masalah-masalah yang selain sukar juga paling banyak jumlahnya dalam periode ini
2.      Kemampuan Motorik
Orang-orang muda mencapai puncak kekuatannya antara usia 20-an dan 30-an. Kecepatan respons maksimal terdapat antara usia 20 dan 25 tahun dan sesudah itu kemampuan ini sedikit demi sedikit menurun. Dalam belajar menguasai keterampilan-keterampilan motorik yang baru, orang-orang muda usia 20-an lebih mampu daripada mereka yang mendekati usia setengah umur. Selain itu orang-orang muda dapat mengandalkan kemampuan motorik ini dalam situasi-situasi tertentu, hal mana tidak dapat mereka lakukan semasa remaja karena pertumbuhan yang cepat dan tidak seimbang saat itu menyebabkan mereka kurang luwes dan kaku.
3.      Kemampuan Mental
Kemampuan mental yang diperlukan untuk nempelajari dan menyesuaikan diri pada situasi-situasi baru, Seperti misalnya mengingat hal-hal yang dulu pernah dipelajari, penalaran analogis dan berpikir kreatif, mencapai puncaknya dalam usia 20-n, kemudian sedikit demi sedikit menurun. Meskipun orang-orang muda ini tidak belajar secepat dulu kualitas belajarnya tidak merosot.
4.      Motivasi
Apabila remaja mencapai usia dewasa secara hukum, mereka berkeinginan kuat untuk dianggap sebagai orang-orang dewasa yang mandiri oleh kelompok sosial mereka. Hal ini menjadi motivasi bagi orang-orang muda untuk menguasai tugas-tugas perkembangan yang diperlukan agar dapat dianggap mandiri.
5.      Model Peran
Remaja yang bekerja setelah menamatkan sekolah lanjutan mempunyai model peran untuk diteladani. Karena berinteraksi dengan orang dewasa mereka memperoleh motivasi untuk mencontoh perilaku sesuai garis-garis yang dianut masyarakat dewasa, agar. mereka sendiri juga dianggap dewasa. Sebaliknya, remaja yang tetap bersekolah atau kuliah sesudah mereka secara hukum dewasa masih berada dalam lingkungan teman-teman sebaya meraka. dan akan terus mengikuti garis-garis perilaku remaja dan bukan pola perilaku dewasa. Jika mereka tetap dalam status kelergantungan ini, mereka hampir tidakmemperoleh kesempatan.  atau motivasi untuk menguasai tugas-tugas perkembangan orang dewasa.
Havighurst (Dalam Mappiare, 1983: 252) menyebutkan bahwa tugas-tugas perkembangan pada masa dewasa awal adalah sebagai berikut:
1.      Memilih teman bergaul (sebagai calon suami atau istri)
Pada umumnya, pada masa dewasa awal ini individu sudah mulai berpikir dan memilih pasangan yang cocok dengan dirinya, yang dapat mengerti pikiran dan perasaannya, untuk kemudian dilanjutkan dengan pernikahan (menjadi pasangan hidupnya)
2.      Belajar hidup bersama dengan suami istri
Masing-masing individu mulai menyesuaikan baik pendapat, keinginan, dan minat dengan pasangan hidupnya. Mulai hidup dalam keluarga atau hidup berkeluarga
3.      Mulai hidup dalam keluarga atau hidup berkeluarga
Dalam hal ini masing-masing individu sudah mulai mengabaikan keinginan atau hak-hak pribadi, yang menjadi kebutuhan atau kepentingan yang utama adalah keluarga
4.      Dituntut adanya kesamaan cara serta faham
Hal ini dilakukan agar anak tidak merasa bingung harus mengikuti cara ayah atau ibunya. Maka dalam hal ini pasangan suami istri harus menentukan bagaimana cara pola asuh dalam mendidik anak-anaknya.
5.      Mengelola rumah tangga
Dalam mengelola rumah tangga harus ada keterusterangan antara suami istri, hal ini untuk menghindari percekcokan dan konflik dalam rumah tangga.
6.      Mulai bekerja dalam suatu jabatan
Seseorang yang sudah memasuki masa dewasa awal dituntut untuk dapat memenuhi kebutuhannya sendiri, yaitu dengan jalan bekerja. Dalam pekerjaannya tersebut, individu dituntut untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
7.      Mulai bertanggung jawab sebagai warga Negara secara layak
Seseorang yang dikatakan dewasa sudah berhak untuk menentukan cara hidupnya sendiri, termasuk dalam hal ini hak dan kewajibannya sebagai warga dari suatu Negara.
8.      Memperoleh kelompok sosial yang seriama dengan nilai-nilai atau fahamnya.
Setiap individu mempunyainilai-nilai dan faham yang berbeda satu sama lain. Pada masa ini seorang individuakan mulai mencari orang-orang atau kelompok yang mempunyai faham yang sama atau serupa dengan dirinya.

Penelitian secara spesifik memilih wanita bekerja dengan batasan usia 30 tahun ke atas sebagai subyek penelitian karena pada usia tersebut terdapat peningkatan tekanan untuk menikah dan menetap (Santrock, 2004: 123). Usia 30 tahun merupakan masa dimana banyak orang dewasa yang masih lajang membuat keputusan setelah  melalui pertimbangan yang matang untuk menikah  atau tetap melajang (Santrock,2004: 123). Jika seorang wanita ingin mengalami fase menjadi seorang ibu dan mengasuh anak dia akan merasa mulai dikejar waktu ketika mencapai usia 30 tahun. Seperti yang kita ketahui, secara medis kehamilan pada wanita berusia diatas 30 tahun mempunyai banyak sekali resiko. Dan semakin lanjut usia seorang wanita pada waktu hamil semakin meningkat probabilitas terjadinya “bahaya” pada sang jabang bayi nantinya. 

Santrock (2004) dalam bukunya mengutip komentar seseorang laki-laki berusia 30 tahun. Dia mengatakan, “Hal ini adalah kenyataan. Kita memang seharusnya sudah menikah ketika mencapai usia 30, ini merupakan standart di masyarakat. Hal ini merupakan bagian dari hidup, dimana kita harus melakukan apa yang harus kita lakukan menurut standart umum (dalam bahasa ilmiah kita menyebutnya sebagai tugas perkembangan). Kita mulai mempunyai karier dan mempertanyakan siap sebenarnya diri kita pada waktu kita berusia dua puluhan. Pada usia tiga puluhan, seorang individu harus melanjutkannya dengan tugas lain. Agar tetap dianggap berada di jalur, pada usia ini kita harus mulai membuat rencana masa depan, mapan secara financial, dan mulai membentuk keluarga. Tetapi dalam jangka waktu 30 tahun ke depan selanjutnya, menikah menjadi kurang penting dibandingkan membeli rumah atau property lain (Santrock, 2004: 122).

Bagi seorang perempuan yang belum menikah, usia 30an adalah usia kritis dan banyak pilihan seperti di persimpangan jalam. Bila diamati stress lebih sering dialami seorang wanita ketika menginjak usia ini. Sebagian perempuan, malah semakin berkurang keinginannya menikah ketika melewati batas usia 30an, karena mereka semakin pesimis menggapai keinginan mereka yang satu ini. Meski demikian mereka, apalagi perempuan metropolis, masih memiliki keinginan-keinginan yang akhirnya membawa mereka mencari kesibukan lain dalam mengisi masa kesendiriannya (Amanah, Edisi Agustus 2002: 12).
Referensi :
Desmita. 2009. Psikologi Perkembangan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Hurlock, B. Elizabeth. 1980. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga.
Mappiare, Andi. 1983. Psikologi Orang Dewasa. Surabaya: Usaha Nasional.
Monks. 2006. Psikologi Perkembangan. Yogyakarta: GADJAH MADA UNIVERSITY PRESS.
Santrock, W. John. 2002. Life-Span Development. Jakarta: Erlangga.

Hurlock, E. B. (1994). Psikologi Perkembangan, Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta : Erlangga.


No comments:

Post a Comment