Sunday, September 22, 2019

TUGAS PERKEMBANGAN MASA REMAJA


Masa remaja termasuk masa yang sangat menentukan karena pada masa ini anak-anak mengalami banyak perubahan pada psikis dan fisiknya. Terjadinya perubahan kejiwaan menimbulkan kebingungan dikalangan remaja, mereka mengalami penuh gejolak emosi dan tekanan jiwa sehingga menyimpang dari aturan dan norma-norma sosial yang berlaku dikalangan masyrakat.
“Menurut hukum di Amerika Serikat saat ini, individu dianggap telah dewasa apabila telah mencapai usia delapan belas tahun, bukan dua puluh satu tahun seperti sebelumnya”. Perpangjangan masa remaja, setelah individu matang secara seksual dan sebelum diberi hak serta tanggungjawab orang dewasa mengakibatkan kesenjangan antara apa yang secara populer dianggap budaya remaja dan budaya dewasa. Budaya kawula mudah menekankan kesegaran dan kelengahan terhadap tanggungjawab dewasa. Budaya ini memiliki hirarki sosialnya sendiri, keyakinannya sendiri, gaya penampilannya sendiri, nilai – nilai dan norma perilakunya sendiri.

·         CIRI-CIRI MASA REMAJA
1.      Remaja sebagai Periode yang Penting
 Ada beberapa periode yang lebih penting daripada beberapa periode lainnya, karena akibatnya yang langsung terhadap sikap dan perilaku, dan ada lagi yang penting karena akibat jangka panjangnya. Pada periode remaja,  baik akibat langsung maupun akibat jangka panjang tetap penting. Ada periode yang penting karena akibat fisik dan ada lagi karena akibat psikologis. Pada periode remaja kedua-duanya sama-sama penting.
2.      Masa Remaja sebagai Periode Peralihan
Peralihan tidak berarti terputus dengan atau berubah dari apa yang telah terjadi sebelumnya, melainkan lebih-lebih sebuah peralihan dari satu tahap  perkembangan ke tahap berikutnya.  Artinya,  apa yang telah terjadi sebelumnya akan meninggalkan bekasnya pada apa yang terjadi sekarang dan yang akan datang. Bila anak-anak beralih dari masa kanak-kanak ke masa dewasa, anak-anak harus "meninggalkan segala sesuatu yang bersifat kekanak-kanakan" dan juga harus mempelajari pola perilaku dan sikap baru untuk menggantikan perilaku dan sikap yang sudah ditinggalkan.
3.      Masa Remaja sebagai Periode Perubahan
Tingkat perubahan dalam sikap dan perilaku selama masa remaja sejajar dengan tingkat perubanan fisik. Selama awal masa remaja, ketika perubahan fisik terjadi dengan pesat, perubahan perilaku dan sikap juga berlangsung pesat. Kalau perubahan fisik menurun maka perubahan sikap dan perilaku menurun juga.
Ada empat perubahan yang sama yang hampir bersifat universal.
a.       Meningginya emosi, yang intensitasnya bergantung pada tingkat perubahan fisik dan psikologis yang terjadi. Karena perubahan emosi biasanya terjadi lebih cepat selema masa awal remaja, maka meningginya emosi lebih menoljol pada masa awal periode akhir masa remaja.
b.      Perubahan tubuh, minat dan peran yang diharapkan oleh kelompok sosial untuk dipesankan, menimbulkan masalah baru. Bagi remaja muda, masalah baru yang timbul tarmpaknya lebih banyak dan lebih sulit diselesaikan dibandingkan masalah yang dihadapi sebelumnya. Remaja akan tetap merasa ditimbuni masalah, sampai ia sendiri menyelesaikannya menurut kepuesannya.
c.       Dengan berubahnya minat dan pola perilaku, maka nilai-nilai juga berubah. Apa yang pada masa kanak-kanak dianggap penting, sekarang setelah hampir dewasa tidak penting lagi. Misalnya, sebagian besar. remaja tidak lagi menganggap bahwa banyaknya teman merupakan petunjuk popularitas yang lebih penting daripada sifat-sifat yang diKagumi dan dihargai oleh teman-teman sebaya. Sekarang mereka mengerti bahwa kualitas lebih penting daripada kuantitas.
d.      Sebagian besar remaja bersikap ambivalen terhadap setiap perubahan. Mereka menginginkan dan menuntut kebebasan tetapi mereka sering takut bertanggung jawab akan akibatnya dan meragukan kemampuan mereka untuk dapat mengatasi tanggung jawab tersebut.
4.      Masa Remaja sebagai Usia Bermasalah
ada 2 alasan bagi kesulitan itu.
a.       Pertama, sepanjang masa kanak-kanak, masalah anak-anak sebagian diselesaikan olen orang tua dan guru-guru, sehingga kebanyakan remaja tidak berpengalaman dalam mengatasi masalah.
b.       Kedua, karena para remaja merasa diri mandiri, sehingga mereka ingin mengatasi masalannya sendiri, menolak bantuan orang tua dan guruguru.
Karena ketidakmampuan mereka untuk mengatasi sendiri masalahnya menurut cara yang mereka yakini, banyak remaja akhirnya menemukan bahwa penyelesaiannya tidak selalu sesuai dengan harapan mereka. Seperti dijeiaskan oleh Anna
Freud, "Banyak kegagalan, yang seringkali disertai akibat yang tragis, bukan karena ketidakmampuan individu tetapi karena kenyataan bahwa tuntutan yang diajukan kepadanya justru pada saat semua tenaganya telah dihabiskan untuk mencoba mengatasi masalah pokok yang disebabkan oleh pertumbuhan dan perkembangan seksuai yang normal
  1. Pada tahun-tahun awal masa remaja, penyesuaian diri dengan kelompok masih tetap penting bagi anak laki-laki dan perempuan. Lambat laun mereka mulai mendambakan identitas diri dan tidak puas lagi dengan menjadi sama dengan temann-teman dalam segaia hal, seperti sebelumnya.
Tetapi status remaja yang mendua dalam kebudayaan Amerika saat ini menimbuikan suatu dilema yang menyebabkan "krisis identitas" ataumasalah identitas-ego pada remaja. Salah satu cara untuk mencoba mengangkat diri sendiri sebagai individu adalah dengan menggunakan simbol status dalam bentuk mobil, pakaian dan pemilikan barang-barang lain yang mudah terlihat. Dengan cara ini, remaja menarik perhatian pada diri sendiri den agar dipandang sebagai individu, sementara pada saat yang sama ia mempertahankan identitas dirinya terhadap kelompok sebaya. Pentingnya simbol status pada masa remaja.
6.      Masa Remaja sebagai Usia yang Menimbulkan ketakutan
Seperti ditunjukkan oleh Majeres, Banyak angnapan populer Tentang remaja yang mempunyai arti yang bernilai, dan sayangnya, banyak di antaranya yang bersitat negatif. Anggepan Stereotip budaya bahwa remaja adalah anak-anak yang tidak rapih, yang tidak dapat dipercaya dan cenderung merusak dan berperilaku merusak, menyebabkan orang dewasa yang harus membimbing dan mengawasi kehidupan remaja muda takut bertanggung jawab dan bersikap tidak simpatik terhadap perilaku remaja yang normal.
Stereotip populer juga mempengaruhi konsep diri dan sikap. remaja terhadap dirinya sendir. Dalam membahas masalah stereotip budaya remaja, Anthony menjelaskan, "Stereotip juga bertungsi sebagai cermin yang ditegakkan masyarakat bagi remaja, yang menggambarkan citra diri remaja sendiri. Ciri yang lambat laun dianggap sebagai gambaran yang asli dan reimaja membentuk perilakunya sesuai dengan gambaran ini". Masa Remaja sebagai Masa yang Tidak Realistik
7.      Masa Remaja sebagai Ambang Masa Dewasa
Dengan semakin mendekatnya usia kematangan yang sah, para remaja menjadi gelisah untuk meninggalkan stereotip belasan tahun dan untuk dewasa. Berpakaian dan bertindak seperti orang memberikan kesan bahwa mereka sudah hampir dewasa ternyata belumlah cukup. Oleh karena itu, remaja mulai memusatkan diri pada perilaku yang dihubungkan dengan status dewasa, yaitu merokok, minum minuman keras, menggunakan obat-obatan, dan terlibat dalam perbuatan seks. Mereka menganggap bahwa perilaku ini akan memberikan citra yang mereka inginkan.

·         Perkembangan sosial remaja
Percepatan perkembangan remaja dalam masa remaja yang berhubungan dengan permasalahan seksualitas, juga mengakibatkan suatu perubahan dalam perkembangan sosial remaja. Sebelum masa remaja sudah ada saling hubungan yang lebih erat antara anak-anak yang sebaya. Sering juga timbul kelompok-kelompok anak, perkumpulan-perkumpulan untuk bermain bersama atau membuat rencana bersama, misalnya untuk lemah, atau saling tukar pengalaman, merencanakan aktivitas bersama misalnya aktivitas terhadap suatu kelompok lain. Aktivitas tersebut juga dapat bersifat agresif, kadang-kadang kriminal seperti mencuri, penganiayaan dan lain-lain, dalam hal ini dapat dilakukan kelompok anak nakal.
Sifat yang khas kelompok anak sebelum pubertas adalah bahwa kelompok tadi terdiri daripada sekse yang sama. Persamaan sekse ini daat membantu timbulnya identitas jenis kelamin dan yang berhubungan dengan itu ialah perasaan identifikasi yang mempersiapkan pembentukan pengalaman identitas. Pada usia 5 atau 6 tahun nampak jelas adanya sifat-sifat jenis sekse atau tingkah laku yang khas bagi jenis seksenya sendiri hingga antara usia 8/9-11 tahun anak sering menghindarkan diri dari hubungan dengan sekse yang berlawanan. Suatu sifat yang khas lagi dari kelompok anak pra-remaja ataupra-pubertas ini adalah bahwa mereka tidak menentang orang dewasa melainka justru menirukan mereka dalam olahraga, permainan dan kesibukan-kesibukan yang lain.
Dalam kedua hal tersebut di atas datanglah, sesudah mulai masa remaja, suatau perubahan yang jelas yang memberikan sifat-sifat khusus bahkan suatu kebudayaan sendiri pada kelompok anak remaja (Keniston, 1960; Baacke, 1967). Hal ini memberikan masalah-masalahnya sendiri yang akan di kupas lebih lanut.
1.      Dorongan untuk dapat berdiri sendiri dan krisis originalitas
Dalam perkembangan sosial remaja dapat dilihat adanya dua masam gerak, yaitu:
a.       Memisahkan diri dari orang tua.
b.      Menuju kearah teman-teman sebaya.
Dua macam arah gerak ini tidak merupakan dua hal yang berturutan meskipun yang satu dapat terikat pada yang lain. Hal itu yang menyebabkan bahwa gerak yang pertama tanpa adanya gerak kedua dapat menyebabkan rasa kesepian. Hal ini kadang-kadang dijumpai dalam masa remaja, dalam keadaan yang ekstrim hal ini dapat menyebabkan usaha-usaha unuk bunuh diri (Ausubel, 1963). Juga kualitas hubungan dengan orang tua memegang peranan yang sangat penting. Dalam hal ini sifat sikap lekat anak terhadap orang tua banyak menentukan. Kelekatan yang yang tidak aman (insecure attachment) bila terjadi persamaan dengan kemandirian menimbulkan perhatian yang berlebihan pada kepentingan sendiri, sedangkan kelekatan yang tidak aman bersama dengan ketergantungan menimbulkan orientasi konformistis atau isolasi penuh kecemasan. Dalam masa remaja, remaja berusaha untuk melepaskan diri dari mileu orang tua dengan makasud menemukan dirinya. Erikson menamakan proses tersebut sebagai proses mencari identitas ego. Bosma (1983) yang meneliti 300 anak muda usia 13-21 tahun menemukan adanya commitments dengan sekolah dan pekerjaan, bentuk-bentuk pengisian waktu luang, persahabatan, relasi dengan orang tua, problema politik dan sosial, hubungan yang intim, religi, self, bergaul dengan urang lain, penampilan , kebahagiaan dan kesehatan, kebebasan, uang. Konformitas kelompok remaja
2.      Remaja dalam waktu luang
Pengisian waktu luang baik dengan cara yang sesuai dengan umur remaja, masih merupakan masalah bagi kebanyakan remaja. Kebosanan, segan untuk melakukan apa saja meruapakan fenomena yang sering kita jumpai. Hal ini sering dinilai negatif sebagai tanda disentregrasi dalam diri remaja. Sebetulnya dapat pula dipandang positif. Yaitu bila hal tadi dipandang sebagai suatu tanda tidak puas terhadap tuntutan luar untuk melibatkan diri dengan aktivitas-aktivitas yang dianggapnya tidak ada artinya. Hal ini merupakan sikap penolakan terhadap tuntutan dunia luar untuk datang pada pendapat sendiri dan pada pilihan sendiri menganai kesibukan-kesibukan yang baginya lebih berarti.
3.      Remaja dalam sekolah
Di Indonesia masa remaja masih merupakan masa belajar di sekolah. Hal ini terutama berlaku pada permulaan masa tersebut: remaja pada umumnya duduk di bangku sekolah menengah pertama atau yang setingat. Di desa-desa tertama di plosok-plososk masih saja dijumpai remaja yang sudah tidak sekolah lagi, meskipun mereka pada umumnya dapat menikmati pendidikan sekolah dasar. Sesudah tamat sekolah dasar mereka membantu orang tuanya di sawah atau di ladang atau mereka mencari pekerjaan di kota. Sering juga mereka berdagang keliling. Dengan kemajuan jaman banyak orang tua di desa, yang sudah mengerti manfaat pendidikan di sekolah, banyak yang mengirimkan anaknya ke kota untuk melanjutkan sekolahnya. Berbondong-bondong mereka ke kota untuk melanjutkan pelajaran di Perguruan Tinggi dengan segala macam komplikasinya.
Remaja di kota dari keluarga yang terpelajar atau yang berada biasanya diharpakan (oleh orang tua) untuk melanjutkan sekolah di Perguruan Tinggi. Bagi mereka yang tidak dapat melanjutkan mereka berusaha untuk mendapatkan suatu pekerjaan, tetapi banyak juga yang tidak berhasil mendapatkan suatu pekerjaan hingga kemudian menambah angka pengangguran.

Berikut adalah beberapa tugas-tugas perkembangan remaja menurut Havigrust yang seharusnya dicapai pada periode remaja, yaitu sebagai berikut :
1. Menguasai kemampuan membina hubungan baru dan lebih matang dengan teman sebaya yang sama atau pun berlawanan jenis.
2.Menguasai kemampuan melaksanakan peranan sosial sesuai dengan jenis kelamin
3. Menerima keadaan fisik dan mengaktualisasikan secara efektif
4. Mencapai kemerdekaan emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya
5. Memiliki kemampuan untuk mandiri secara ekonomi.
6.Remaja yang matang memiliki dorongan untuk mencari biaya hidup sendiri. Mereka ingin berbuat sesuatu yang bisa menghasilkan uang, seperti dengan ikut kerja paruh waktu.
7.Memiliki kemampuan memilih dan mempersiapkan diri untuk karier.
8. Berkembangnya keterampilan intelektual dan konsep-konsep yang perlu untuk menjadi warga negara yang baik.
9.Memiliki keinginan untuk bertanggung jawab terhadap tingkah laku sosial.
10.  Memiliki perangkat nilai dan sistem etika dalam bertingkah laku.


REFERENSI
Hurlock, Elizabeth B.Istiwidayanti.1991.Psikologi perkembangan:Suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan.Jakarta:Erlangga
Monks, F.J.1985.Psikologi Perkembangan:Pengantar dalam berbagai bagiannya.Yogyakarta:Gadjah mada University press
Desmita.2015.Psikologi perkembangan.Bandung:PT Remaja Rosda Karya

No comments:

Post a Comment