Masa remaja termasuk masa yang sangat menentukan
karena pada masa ini anak-anak mengalami banyak perubahan pada psikis dan
fisiknya. Terjadinya perubahan kejiwaan menimbulkan kebingungan dikalangan
remaja, mereka mengalami penuh gejolak emosi dan tekanan jiwa sehingga
menyimpang dari aturan dan norma-norma sosial yang berlaku dikalangan
masyrakat.
“Menurut hukum di
Amerika Serikat saat ini, individu dianggap telah dewasa apabila telah mencapai
usia delapan belas tahun, bukan dua puluh satu tahun seperti sebelumnya”. Perpangjangan
masa remaja, setelah individu matang secara seksual dan sebelum diberi hak
serta tanggungjawab orang dewasa mengakibatkan kesenjangan antara apa yang
secara populer dianggap budaya remaja dan budaya dewasa. Budaya kawula mudah
menekankan kesegaran dan kelengahan terhadap tanggungjawab dewasa. Budaya ini
memiliki hirarki sosialnya sendiri, keyakinannya sendiri, gaya penampilannya
sendiri, nilai – nilai dan norma perilakunya sendiri.
·
CIRI-CIRI
MASA REMAJA
1.
Remaja
sebagai Periode yang Penting
Ada beberapa periode yang lebih penting
daripada beberapa periode lainnya, karena akibatnya yang langsung terhadap
sikap dan perilaku, dan ada lagi yang penting karena akibat jangka panjangnya.
Pada periode remaja, baik akibat
langsung maupun akibat jangka panjang tetap penting. Ada periode yang penting
karena akibat fisik dan ada lagi karena akibat psikologis. Pada periode remaja
kedua-duanya sama-sama penting.
2.
Masa
Remaja sebagai Periode Peralihan
Peralihan tidak berarti
terputus dengan atau berubah dari apa yang telah terjadi sebelumnya, melainkan
lebih-lebih sebuah peralihan dari satu tahap
perkembangan ke tahap berikutnya.
Artinya, apa yang telah terjadi
sebelumnya akan meninggalkan bekasnya pada apa yang terjadi sekarang dan yang
akan datang. Bila anak-anak beralih dari masa kanak-kanak ke masa dewasa,
anak-anak harus "meninggalkan segala sesuatu yang bersifat
kekanak-kanakan" dan juga harus mempelajari pola perilaku dan sikap baru
untuk menggantikan perilaku dan sikap yang sudah ditinggalkan.
3.
Masa
Remaja sebagai Periode Perubahan
Tingkat perubahan
dalam sikap dan perilaku selama masa remaja sejajar dengan tingkat perubanan
fisik. Selama awal masa remaja, ketika perubahan fisik terjadi dengan pesat,
perubahan perilaku dan sikap juga berlangsung pesat. Kalau perubahan fisik
menurun maka perubahan sikap dan perilaku menurun juga.
Ada empat perubahan
yang sama yang hampir bersifat universal.
a.
Meningginya
emosi, yang intensitasnya bergantung pada tingkat perubahan fisik dan
psikologis yang terjadi. Karena perubahan emosi biasanya terjadi lebih cepat
selema masa awal remaja, maka meningginya emosi lebih menoljol pada masa awal
periode akhir masa remaja.
b.
Perubahan
tubuh, minat dan peran yang diharapkan oleh kelompok sosial untuk dipesankan,
menimbulkan masalah baru. Bagi remaja muda, masalah baru yang timbul tarmpaknya
lebih banyak dan lebih sulit diselesaikan dibandingkan masalah yang dihadapi
sebelumnya. Remaja akan tetap merasa ditimbuni masalah, sampai ia sendiri menyelesaikannya
menurut kepuesannya.
c.
Dengan
berubahnya minat dan pola perilaku, maka nilai-nilai juga berubah. Apa yang
pada masa kanak-kanak dianggap penting, sekarang setelah hampir dewasa tidak
penting lagi. Misalnya, sebagian besar. remaja tidak lagi menganggap bahwa
banyaknya teman merupakan petunjuk popularitas yang lebih penting daripada
sifat-sifat yang diKagumi dan dihargai oleh teman-teman sebaya. Sekarang mereka
mengerti bahwa kualitas lebih penting daripada kuantitas.
d.
Sebagian
besar remaja bersikap ambivalen terhadap setiap perubahan. Mereka menginginkan
dan menuntut kebebasan tetapi mereka sering takut bertanggung jawab akan
akibatnya dan meragukan kemampuan mereka untuk dapat mengatasi tanggung jawab
tersebut.
4.
Masa
Remaja sebagai Usia Bermasalah
ada 2 alasan bagi
kesulitan itu.
a.
Pertama,
sepanjang masa kanak-kanak, masalah anak-anak sebagian diselesaikan olen orang
tua dan guru-guru, sehingga kebanyakan remaja tidak berpengalaman dalam
mengatasi masalah.
b.
Kedua, karena para remaja merasa diri mandiri,
sehingga mereka ingin mengatasi masalannya sendiri, menolak bantuan orang tua
dan guruguru.
Karena ketidakmampuan
mereka untuk mengatasi sendiri masalahnya menurut cara yang mereka yakini,
banyak remaja akhirnya menemukan bahwa penyelesaiannya tidak selalu sesuai
dengan harapan mereka. Seperti dijeiaskan oleh Anna
Freud, "Banyak
kegagalan, yang seringkali disertai akibat yang tragis, bukan karena
ketidakmampuan individu tetapi karena kenyataan bahwa tuntutan yang diajukan
kepadanya justru pada saat semua tenaganya telah dihabiskan untuk mencoba
mengatasi masalah pokok yang disebabkan oleh pertumbuhan dan perkembangan
seksuai yang normal
- Pada tahun-tahun awal masa remaja, penyesuaian
diri dengan kelompok masih tetap penting bagi anak laki-laki dan perempuan.
Lambat laun mereka mulai mendambakan identitas diri dan tidak puas lagi
dengan menjadi sama dengan temann-teman dalam segaia hal, seperti
sebelumnya.
Tetapi status remaja yang mendua dalam kebudayaan
Amerika saat ini menimbuikan suatu dilema yang menyebabkan "krisis
identitas" ataumasalah identitas-ego pada remaja. Salah satu cara untuk
mencoba mengangkat diri sendiri sebagai individu adalah dengan menggunakan
simbol status dalam bentuk mobil, pakaian dan pemilikan barang-barang lain yang
mudah terlihat. Dengan cara ini, remaja menarik perhatian pada diri sendiri den
agar dipandang sebagai individu, sementara pada saat yang sama ia
mempertahankan identitas dirinya terhadap kelompok sebaya. Pentingnya simbol
status pada masa remaja.
6.
Masa
Remaja sebagai Usia yang Menimbulkan ketakutan
Seperti ditunjukkan
oleh Majeres, Banyak angnapan populer Tentang remaja yang mempunyai arti yang
bernilai, dan sayangnya, banyak di antaranya yang bersitat negatif. Anggepan
Stereotip budaya bahwa remaja adalah anak-anak yang tidak rapih, yang tidak
dapat dipercaya dan cenderung merusak dan berperilaku merusak, menyebabkan
orang dewasa yang harus membimbing dan mengawasi kehidupan remaja muda takut
bertanggung jawab dan bersikap tidak simpatik terhadap perilaku remaja yang normal.
Stereotip populer juga
mempengaruhi konsep diri dan sikap. remaja terhadap dirinya sendir. Dalam
membahas masalah stereotip budaya remaja, Anthony menjelaskan, "Stereotip
juga bertungsi sebagai cermin yang ditegakkan masyarakat bagi remaja, yang menggambarkan
citra diri remaja sendiri. Ciri yang lambat laun dianggap sebagai gambaran yang
asli dan reimaja membentuk perilakunya sesuai dengan gambaran ini". Masa
Remaja sebagai Masa yang Tidak Realistik
7.
Masa
Remaja sebagai Ambang Masa Dewasa
Dengan semakin mendekatnya
usia kematangan yang sah, para remaja menjadi gelisah untuk meninggalkan
stereotip belasan tahun dan untuk dewasa. Berpakaian dan bertindak seperti
orang memberikan kesan bahwa mereka sudah hampir dewasa ternyata belumlah
cukup. Oleh karena itu, remaja mulai memusatkan diri pada perilaku yang
dihubungkan dengan status dewasa, yaitu merokok, minum minuman keras,
menggunakan obat-obatan, dan terlibat dalam perbuatan seks. Mereka menganggap
bahwa perilaku ini akan memberikan citra yang mereka inginkan.
·
Perkembangan sosial remaja
Percepatan perkembangan remaja
dalam masa remaja yang berhubungan dengan permasalahan seksualitas, juga
mengakibatkan suatu perubahan dalam perkembangan sosial remaja. Sebelum masa
remaja sudah ada saling hubungan yang lebih erat antara anak-anak yang sebaya.
Sering juga timbul kelompok-kelompok anak, perkumpulan-perkumpulan untuk
bermain bersama atau membuat rencana bersama, misalnya untuk lemah, atau saling
tukar pengalaman, merencanakan aktivitas bersama misalnya aktivitas terhadap
suatu kelompok lain. Aktivitas tersebut juga dapat bersifat agresif,
kadang-kadang kriminal seperti mencuri, penganiayaan dan lain-lain, dalam hal
ini dapat dilakukan kelompok anak nakal.
Sifat yang khas kelompok anak
sebelum pubertas adalah bahwa kelompok tadi terdiri daripada sekse yang sama.
Persamaan sekse ini daat membantu timbulnya identitas jenis kelamin dan yang
berhubungan dengan itu ialah perasaan identifikasi yang mempersiapkan
pembentukan pengalaman identitas. Pada usia 5 atau 6 tahun nampak jelas adanya
sifat-sifat jenis sekse atau tingkah laku yang khas bagi jenis seksenya sendiri
hingga antara usia 8/9-11 tahun anak sering menghindarkan diri dari hubungan
dengan sekse yang berlawanan. Suatu sifat yang khas lagi dari kelompok anak
pra-remaja ataupra-pubertas ini adalah bahwa mereka tidak menentang orang
dewasa melainka justru menirukan mereka dalam olahraga, permainan dan
kesibukan-kesibukan yang lain.
Dalam kedua hal tersebut di atas
datanglah, sesudah mulai masa remaja, suatau perubahan yang jelas yang
memberikan sifat-sifat khusus bahkan suatu kebudayaan sendiri pada kelompok
anak remaja (Keniston, 1960; Baacke, 1967). Hal ini memberikan
masalah-masalahnya sendiri yang akan di kupas lebih lanut.
1.
Dorongan
untuk dapat berdiri sendiri dan krisis originalitas
Dalam perkembangan
sosial remaja dapat dilihat adanya dua masam gerak, yaitu:
a.
Memisahkan
diri dari orang tua.
b.
Menuju
kearah teman-teman sebaya.
Dua macam arah gerak ini tidak
merupakan dua hal yang berturutan meskipun yang satu dapat terikat pada yang
lain. Hal itu yang menyebabkan bahwa gerak yang pertama tanpa adanya gerak
kedua dapat menyebabkan rasa kesepian. Hal ini kadang-kadang dijumpai dalam
masa remaja, dalam keadaan yang ekstrim hal ini dapat menyebabkan usaha-usaha
unuk bunuh diri (Ausubel, 1963). Juga kualitas hubungan dengan orang tua
memegang peranan yang sangat penting. Dalam hal ini sifat sikap lekat anak
terhadap orang tua banyak menentukan. Kelekatan yang yang tidak aman (insecure
attachment) bila terjadi persamaan dengan kemandirian menimbulkan perhatian
yang berlebihan pada kepentingan sendiri, sedangkan kelekatan yang tidak aman
bersama dengan ketergantungan menimbulkan orientasi konformistis atau isolasi
penuh kecemasan. Dalam masa remaja, remaja berusaha untuk melepaskan diri dari
mileu orang tua dengan makasud menemukan dirinya. Erikson menamakan proses
tersebut sebagai proses mencari identitas ego. Bosma (1983) yang meneliti 300
anak muda usia 13-21 tahun menemukan adanya commitments dengan sekolah dan pekerjaan, bentuk-bentuk
pengisian waktu luang, persahabatan, relasi dengan orang tua, problema
politik dan sosial, hubungan yang intim, religi, self, bergaul dengan urang
lain, penampilan , kebahagiaan dan kesehatan, kebebasan, uang. Konformitas
kelompok remaja
2.
Remaja
dalam waktu luang
Pengisian
waktu luang baik dengan cara yang sesuai dengan umur remaja, masih merupakan
masalah bagi kebanyakan remaja. Kebosanan, segan untuk melakukan apa saja
meruapakan fenomena yang sering kita jumpai. Hal ini sering dinilai negatif
sebagai tanda disentregrasi dalam diri remaja. Sebetulnya dapat pula dipandang
positif. Yaitu bila hal tadi dipandang sebagai suatu tanda tidak puas terhadap
tuntutan luar untuk melibatkan diri dengan aktivitas-aktivitas yang dianggapnya
tidak ada artinya. Hal ini merupakan sikap penolakan terhadap tuntutan dunia
luar untuk datang pada pendapat sendiri dan pada pilihan sendiri menganai
kesibukan-kesibukan yang baginya lebih berarti.
3.
Remaja
dalam sekolah
Di
Indonesia masa remaja masih merupakan masa belajar di sekolah. Hal ini terutama
berlaku pada permulaan masa tersebut: remaja pada umumnya duduk di bangku
sekolah menengah pertama atau yang setingat. Di desa-desa tertama di
plosok-plososk masih saja dijumpai remaja yang sudah tidak sekolah lagi,
meskipun mereka pada umumnya dapat menikmati pendidikan sekolah dasar. Sesudah
tamat sekolah dasar mereka membantu orang tuanya di sawah atau di ladang atau
mereka mencari pekerjaan di kota. Sering juga mereka berdagang keliling. Dengan
kemajuan jaman banyak orang tua di desa, yang sudah mengerti manfaat pendidikan
di sekolah, banyak yang mengirimkan anaknya ke kota untuk melanjutkan sekolahnya.
Berbondong-bondong mereka ke kota untuk melanjutkan pelajaran di Perguruan
Tinggi dengan segala macam komplikasinya.
Remaja
di kota dari keluarga yang terpelajar atau yang berada biasanya diharpakan
(oleh orang tua) untuk melanjutkan sekolah di Perguruan Tinggi. Bagi mereka
yang tidak dapat melanjutkan mereka berusaha untuk mendapatkan suatu pekerjaan,
tetapi banyak juga yang tidak berhasil mendapatkan suatu pekerjaan hingga
kemudian menambah angka pengangguran.
Berikut adalah beberapa
tugas-tugas perkembangan remaja menurut Havigrust yang seharusnya dicapai pada
periode remaja, yaitu sebagai berikut :
1. Menguasai
kemampuan membina hubungan baru dan lebih matang dengan teman sebaya yang sama
atau pun berlawanan jenis.
2.Menguasai
kemampuan melaksanakan peranan sosial sesuai dengan jenis kelamin
3. Menerima
keadaan fisik dan mengaktualisasikan secara efektif
4. Mencapai
kemerdekaan emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya
5. Memiliki
kemampuan untuk mandiri secara ekonomi.
6.Remaja
yang matang memiliki dorongan untuk mencari biaya hidup sendiri. Mereka ingin
berbuat sesuatu yang bisa menghasilkan uang, seperti dengan ikut kerja paruh
waktu.
7.Memiliki kemampuan memilih dan mempersiapkan
diri untuk karier.
8. Berkembangnya keterampilan intelektual dan
konsep-konsep yang perlu untuk menjadi warga negara yang baik.
9.Memiliki
keinginan untuk bertanggung jawab terhadap tingkah laku sosial.
10.
Memiliki
perangkat nilai dan sistem etika dalam bertingkah laku.
REFERENSI
Hurlock, Elizabeth B.Istiwidayanti.1991.Psikologi perkembangan:Suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan.Jakarta:Erlangga
Monks, F.J.1985.Psikologi Perkembangan:Pengantar dalam berbagai bagiannya.Yogyakarta:Gadjah mada University press
Desmita.2015.Psikologi perkembangan.Bandung:PT Remaja Rosda Karya
Hurlock, Elizabeth B.Istiwidayanti.1991.Psikologi perkembangan:Suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan.Jakarta:Erlangga
Monks, F.J.1985.Psikologi Perkembangan:Pengantar dalam berbagai bagiannya.Yogyakarta:Gadjah mada University press
Desmita.2015.Psikologi perkembangan.Bandung:PT Remaja Rosda Karya

No comments:
Post a Comment