A. Pemahaman
Diri
Suatu cara untuk memahami,
menafsirkan karakteristik, potensi atau masalah (gangguan) yang ada pada
individu atau sekelopok individu. Maria Antoniete menjelaskan bahwa orang yang
memahami diri adalah mereka yang memiliki tujuan hidup, memiliki arah, rasa
memiliki kewajiban dan alasan untuk ada (eksis), identitas diri yang jelas dan
kesadaran social yang tinggi.
Tujuan
Pemahaman Diri
Individu
yang memahami diri lebih memiliki peluang yang lebih besar dalam meraih
cita-cita dari pada individu yang belum mengenal dengan baik akan diri mereka
sendiri. Karena mereka yang memahami diri telah memahami kemampuan, minat,
kepribadian, dan nilai termasuk kelebihan dan kekurangan yang ada dalam diri
mereka sehingga mereka memiliki arah dan tujuan hidup yang realistis dimana
mereka memiliki cita-cita yang sesuai dengan potesi diri mereka.
Ciri-Ciri
Individu yang Memahami Dirinya
a. Percaya
Diri
Dalam kamus istilah Bimbingan dan
Konseling yang ditulis Thantaway percaya diri adalah kondisi mental atau
psikologis diri seseorang yang memberi keyakinan kuat pada dirinya untuk
berbuat atau melakukan suatu tindakan.
Menurut Hakim rasa percaya diri yaitu
suatu keyakinan seseorang terhadap segala aspek kelebihan yang dimilikinya dan
keyakinan tersebut membuatnya merasa mampu untuk bisa mencapai berbagai tujuan
di didalam hidupnya jadi dapat dikatakan bahwa seseorang yang memiliki
kepercayaan diri akan optimis di dalam melakukan semua aktivitasnya, dan
mempunyai tujuan yang realistik, artinya individu tersebut akan membuat tujuan
hidup yang mampu untuk dilakukan denga keyakinan akan berhasil atau akan
mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Hakim mengemukakan ciri individu yang
percaya diri sebagai berikut:
1) Selalu
bersikap tenang di dalam mengerjakan sesuatu.
2) Mempunyai
potensi dan kemampuan yang memadai.
3) Mampu
menetralisasi tegangan yang muncul diberbagai situasi.
4) Mampu
menyesuaikan diri dan berkomunikasi di berbagai situasi.
5) Memiliki
kondisi mental dan fisik yang cukup menunjang penampilan.
6) Memiliki
kecerdasan yang cukup.
7) Memiliki
tindak Pendidikan formal yang cukup.
8) Memiliki
keterampilan lain yang menunjang kehidupannya, misalnya keterampilan berbahasa
asing.
9) Memiliki
kemampuan bersosialisasi.
10) Memiliki
pengalaman hidup yang menempa mentalnya menjadi kuat dan tahan di dalam
menghadapi berbagai cobaan hidup.
11) Meiliki
latar belakang Pendidikan keluarga yang baik.
12) Selalu
bereaksi positif di dalam menghadapi berbagai masalah, misalnya dengan tetap
tegar, sabar dan tabah dalam menghadapi persoalan hidup.
b. Berfikir
Positif, dengan ciri sebagai berikut
1) Melihat
masalah sebagai tantangan.
2) Menikmati
hidupnya.
3) Pikiran
terbuka untuk menerima saran dan ide.
4) Mengenyahkan
pikiran negatif segera setelah melintas di pikiran.
5) Mensyukuri
apa yang dimilikinya, bukan berkeluh kesah.
6) Tidak
mendengarkan gosip dan isu yang tidak tentu.
7) Tidak
banyak excuse, langsung action.
8) Menggunakan
Bahasa positif, optimis.
9) Menggunakan
Bahasa tubuh yang positif.
10) Peduli
pada citra diri sendiri.
c. Memiliki
Kebiasaan yang Efektif, dengan ciri sebagai berikut:
1) Menjadi
proaktif.
2) Merujuk
pada tujuan akhir.
3) Mendahulukan
yang utama.
4) Berfikir
dan bertindak
5) Berusaha
mengerti terlebih dahulu baru dimengerti
6) Mewujudkan
sinergi
7) Melakukan
evaluasi
Faktor-Faktor
yang Mempengaruhi Pemahaman Diri Individu
Pemahaman
diri (minat, abilitas, kepribadian, nilai-nilai dan sikap, kelebihan dan
kekurangan) dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal. Faktor
internal yang turut mempengaruhi pemahaman diri ditentukan oleh diri terbuka
dan tertutup. Kepribadian terbuka berkontribusi positif terhadap pemahaman
diri, sedangkan kepribadian yang tertutup adalah faktor penghambat dalam
pemahan diri. Faktor eksternal (lingkungan) yang mempegaruhi pemahaman diri antara
lain, lingkungan keluarga, teman sebaya, dan sekolah.
Teknik
dan Strategi Pemahaman Diri
Tes
dan Non Tes merupakan salah satu intsrumen untuk memahami individu dalam
keseluruhan layanan konseling. Masing-masing instrumen tersebut memiliki
karakteristik dalam penggunaannya
a. Teknik
Tes
Dalam pelayanan bimbingan dan
konseling pada umunya tes yang digunakan untuk memperoleh data klien adalah tes
intelejensi, tes bakat, tes kepribadian
(minat, kecenderungan kepribadian), dan tes prestasi belajar. Hasil tes akan
mempunyai makna sebagai informasi bagi klien jika tes tersebu di analisis dan
interpretasi kan, dalam arti tidak hanya berhenti pada penyajian skor yang
diperoleh seorang klien.
b. Teknik
Non Tes
Koselor pada umumnya memahami dan terampil
menggunakan teknik non tes dalam melakukan pelaynan bimbingan dan konseling.
Teknik non tes dimaksudkan antara lain observasi, kuisioner, wawancara,
inventori (DCM, AUM, ITP), dan sosiometri. Konselor sejak kuliah sudah berlatih
teknik non tes. Namun teknik tes sangat terbatas karena tes terstandar sudah
siap pakai, dan penggunaannya terikat kode etik yang ketat sebagaimana disebutkan
dalam kode etik propesi Bimbingan dan Konseling Indonesia.
Adapun
strategi dalam pemahan diri:
a. Memahami
karakteristik fisik.
Tercakup kedalam faktor fisik yang
perlu dipahami, antara lain tinggi dan berat badan, bentuk tubuh dan kesehatan
tubuh.
b. Memahami
kemampuan dasar umum (IQ)
·
Kemampuan seseorang untuk
memecahkan masalah dengan cepat.
· Krativitas mmecahkan
masalah secara divergent, menggunakan kemampuan berfikir dari berbagai
arah.
· Kecerdasan dalam arti inteligence
memecahkan masaah secara konvegent, memecahkan masalah secara
memusat dan mendalam.
c. Memahami
kemampuan dasar khusus (bakat)
Bakat (aptitude) adalah kemampuan
bawaan yang berpotensi untuk dikembangkan atau dilatih (Chonny Semiawa. Dkk
1984) dia menegaskan juga bahwa bakat merupakan kemampuan yang inheren telah
ada dan menyatu dalam diri seseorang sejak lahir dan terkait dengan struktur
otak.
d. Memahami
minat
Berbeda dengan intelegensi dan bakat,
determin perkembangan minat adalah faktor lingkungan. Akibatnya minat cenderung
berubah-ubah sesuai dengan tuntutan lingkungan, kecuali jika individu sudah
memiliki komitmen yang tinggi untuk mengembangkan diri pada objek yang
diminatinya.
B. Petak
Johari
Jendela Johari (Johari Window) adalah
konsep komuniksi yang diperkenalkan oleh Joseph Luth dan Harry Ingram
(karenanya disebut johari). Jendela Johari pada dasarnya mengembangkan tingkat
saling pengertian antar orang yang berinteraksi. Jendela Johari ini
mencerminkan tingkat keterbukaan seseorang yang dibagi dalam 4 kuadran,
kuadran-kuadran tersebut bisa dijelaskan sebagai berikut:
|
1 Open
|
2 Blind
|
|
3 Hidden
|
4 Unknow
|
1. Open
(kita tahu tentang diri kita, begitupun orang lain)
Imformasi tentang diri kita yang diketahui
orang lain seperti nama, jabatan, pangkat, status, almamater, dan sebagainya.
2. Blind
(orang lain tahu tentang diri kita, tapi kita tidak tahu)
Diri kita tidak mengetahui sifat-sifat,
perasaaan-perasaan dan motivasi-motivasinya sendiri padahal orang lain
melihatnya.
3. Hidden
(kita tahu tentang diri kita tapi orang lain tidak tahu)
Berisi infromasi yang kita tahu
tentang diri kita tetapi tertutup bagi orang lain.
4. Unknow
(kita maupun orang lain tidak mengetahuinya)
C. Keterampilan
3M
3M
dlaam konseling adalah mendengar dan memperhatikan, memahami dan merespon
secara tepat dan positif.
1. Mendengan
dan Memperhatikan, yaitu mendengan dan memperhatikan apa yang ditangkap dari:
a. Isi
pembicaraan
b. Makna
pembicaraan, yaitu apa yang terkandung dalam isi pembicaraan
c. Latar
tempat dan latar belakang pembicaraan
d. Cara
klien menyampiakan isi pembicaraan
2. Memahami
Konselor memahami apa yang didengar
dan apa yang dikatakan oleh klien serta mampu mengomunikasikan pemahaman
konselor itu kepada klien. Kemampian pendukung dalam memahami ialah:
a. Empati,
yaitu sikap positif klien terhadap klien yang diapresiasikan melaui kesediaan
untuk menempatkan diri pada tempat klien, merasa apa yang dirasakan klien dan
mengerti dengan pengertian klien.
b. Sikap
menerima (acceptance), yaitu keadaan konselor untuk menerima keberadaan klien
sebagaimana adanya.
3. Merespon
Secara Tepat, Positif dan Dinamis
Dalam memberikan tanggapan hendaknya
konselor secara tepat merespon permasalahan yang dialami klien, memberikan
tanggapan positif kelpada klien sehingga klien merasa ada yang memahami dan mau
membantunya. Dalam merespon klien, konselor perlu memperhatikan hal berikut:
a. Kalimat
singkat dan jelas. Artinya mengena kepada yang disampaikan klien, bahasanya
tidak tumoang tindih.
b. Bahasa
harus jelas,bahas tidak boleh campur aduk, dan dipahami dengan baik oleh klien
c. Bermakna
d. Tidak
menggunakan kata “tetapi” dengan kata “namun”
D. Latihan
Membuka Diri
Sebagian besar kegiatan komunikasi
antar pribadi selalu dimulai dengan
kontak disusul dengan interaksi, lalu komunikasi dan terakhir transaksi pesan.
Membuka diri adalah awal dari kontak antar pribadi (Allo Liliweri 2002).
Menurut Johnson (dalam supratiknya,
1995) membuka diri atau self disclosure adalah menggunakan
reaksi/tanggapan kita terhadap situasi yang sedang kita hadapi serta memberikan
informasi tentang masa lalu atau yang berguna untuk memahami tanggapan kita di
masa kini. Tanggapan terhadap orang lain atau terhadap kejadian tertentu lebih
melibatkan perasaan. Membuka diri berarti membagikan kepada orang lain perasaan
kita terhadap sesuatu yang telah dikatakan atau dilakukannya. Atau perasaan
kita terhadap kejadian-kejadian yang baru saja kita saksikan.
Manfaat
Membuka Diri
Menurut
johnson, berikut beberapa dampak dan manfaat membuka diri terhadap hubungan
antar pribadi
a. Dasar
bagi hubungan yang sehat antara dua orang
b. Semakin
kita bersikap terbuka pada orang lain, semakin orang tersebut akan menyukai
kita.
c. Orang
yang telah membuka diri terhadap orang lain cenderung memiliki sifat: terbuka,
kompeten, ekstrovert, fleksibel, adaptif dan intelegensi.
d. Membuka
diri berarti bersikap realistis. Maka pembukaan diri harus jujur, tulus, dan
autentik.
Daftar Pustaka :
Conny,
Semiawan dkk. 1992. Pendeketan Keterampilan Proses. Jakarta: Rineka Cipta.
Erman,
Amti. 1983. Penyuluhan (counseling). Jakarta: Ghalia Indonesia.
Supratiknya.
1995. Tinjauan Psikologi Komunikasi Antar Pribadi. Yogyakarta: Kanisius
(Anggota IKAPI).
No comments:
Post a Comment