Sunday, October 13, 2019

Keterampilan Dasar Dalam Hubungan Konseling


A.    Pemahaman Diri

Suatu cara untuk memahami, menafsirkan karakteristik, potensi atau masalah (gangguan) yang ada pada individu atau sekelopok individu. Maria Antoniete menjelaskan bahwa orang yang memahami diri adalah mereka yang memiliki tujuan hidup, memiliki arah, rasa memiliki kewajiban dan alasan untuk ada (eksis), identitas diri yang jelas dan kesadaran social yang tinggi.

Tujuan Pemahaman Diri

Individu yang memahami diri lebih memiliki peluang yang lebih besar dalam meraih cita-cita dari pada individu yang belum mengenal dengan baik akan diri mereka sendiri. Karena mereka yang memahami diri telah memahami kemampuan, minat, kepribadian, dan nilai termasuk kelebihan dan kekurangan yang ada dalam diri mereka sehingga mereka memiliki arah dan tujuan hidup yang realistis dimana mereka memiliki cita-cita yang sesuai dengan potesi diri mereka.

Ciri-Ciri Individu yang Memahami Dirinya

a.       Percaya Diri
Dalam kamus istilah Bimbingan dan Konseling yang ditulis Thantaway percaya diri adalah kondisi mental atau psikologis diri seseorang yang memberi keyakinan kuat pada dirinya untuk berbuat atau melakukan suatu tindakan.
Menurut Hakim rasa percaya diri yaitu suatu keyakinan seseorang terhadap segala aspek kelebihan yang dimilikinya dan keyakinan tersebut membuatnya merasa mampu untuk bisa mencapai berbagai tujuan di didalam hidupnya jadi dapat dikatakan bahwa seseorang yang memiliki kepercayaan diri akan optimis di dalam melakukan semua aktivitasnya, dan mempunyai tujuan yang realistik, artinya individu tersebut akan membuat tujuan hidup yang mampu untuk dilakukan denga keyakinan akan berhasil atau akan mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Hakim mengemukakan ciri individu yang percaya diri sebagai berikut:
1)      Selalu bersikap tenang di dalam mengerjakan sesuatu.
2)      Mempunyai potensi dan kemampuan yang memadai.
3)      Mampu menetralisasi tegangan yang muncul diberbagai situasi.
4)      Mampu menyesuaikan diri dan berkomunikasi di berbagai situasi.
5)      Memiliki kondisi mental dan fisik yang cukup menunjang penampilan.
6)      Memiliki kecerdasan yang cukup.
7)      Memiliki tindak Pendidikan formal yang cukup.
8)      Memiliki keterampilan lain yang menunjang kehidupannya, misalnya keterampilan berbahasa asing.
9)      Memiliki kemampuan bersosialisasi.
10)  Memiliki pengalaman hidup yang menempa mentalnya menjadi kuat dan tahan di dalam menghadapi berbagai cobaan hidup.
11)  Meiliki latar belakang Pendidikan keluarga yang baik.
12)  Selalu bereaksi positif di dalam menghadapi berbagai masalah, misalnya dengan tetap tegar, sabar dan tabah dalam menghadapi persoalan hidup.

b.      Berfikir Positif, dengan ciri sebagai berikut
1)      Melihat masalah sebagai tantangan.
2)      Menikmati hidupnya.
3)      Pikiran terbuka untuk menerima saran dan ide.
4)      Mengenyahkan pikiran negatif segera setelah melintas di pikiran.
5)      Mensyukuri apa yang dimilikinya, bukan berkeluh kesah.
6)      Tidak mendengarkan gosip dan isu yang tidak tentu.
7)      Tidak banyak excuse, langsung action.
8)      Menggunakan Bahasa positif, optimis.
9)      Menggunakan Bahasa tubuh yang positif.
10)  Peduli pada citra diri sendiri.

c.       Memiliki Kebiasaan yang Efektif, dengan ciri sebagai berikut:
1)      Menjadi proaktif.
2)      Merujuk pada tujuan akhir.
3)      Mendahulukan yang utama.
4)      Berfikir dan bertindak
5)      Berusaha mengerti terlebih dahulu baru dimengerti
6)      Mewujudkan sinergi
7)      Melakukan evaluasi

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemahaman Diri Individu

Pemahaman diri (minat, abilitas, kepribadian, nilai-nilai dan sikap, kelebihan dan kekurangan) dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yang turut mempengaruhi pemahaman diri ditentukan oleh diri terbuka dan tertutup. Kepribadian terbuka berkontribusi positif terhadap pemahaman diri, sedangkan kepribadian yang tertutup adalah faktor penghambat dalam pemahan diri. Faktor eksternal (lingkungan) yang mempegaruhi pemahaman diri antara lain, lingkungan keluarga, teman sebaya, dan sekolah.

Teknik dan Strategi Pemahaman Diri

Tes dan Non Tes merupakan salah satu intsrumen untuk memahami individu dalam keseluruhan layanan konseling. Masing-masing instrumen tersebut memiliki karakteristik dalam penggunaannya

a.       Teknik Tes
Dalam pelayanan bimbingan dan konseling pada umunya tes yang digunakan untuk memperoleh data klien adalah tes intelejensi, tes bakat,  tes kepribadian (minat, kecenderungan kepribadian), dan tes prestasi belajar. Hasil tes akan mempunyai makna sebagai informasi bagi klien jika tes tersebu di analisis dan interpretasi kan, dalam arti tidak hanya berhenti pada penyajian skor yang diperoleh seorang klien.

b.      Teknik Non Tes
Koselor pada umumnya memahami dan terampil menggunakan teknik non tes dalam melakukan pelaynan bimbingan dan konseling. Teknik non tes dimaksudkan antara lain observasi, kuisioner, wawancara, inventori (DCM, AUM, ITP), dan sosiometri. Konselor sejak kuliah sudah berlatih teknik non tes. Namun teknik tes sangat terbatas karena tes terstandar sudah siap pakai, dan penggunaannya terikat kode etik yang ketat sebagaimana disebutkan dalam kode etik propesi Bimbingan dan Konseling Indonesia.

Adapun strategi dalam pemahan diri:

a.       Memahami karakteristik fisik.
Tercakup kedalam faktor fisik yang perlu dipahami, antara lain tinggi dan berat badan, bentuk tubuh dan kesehatan tubuh.

b.      Memahami kemampuan dasar umum (IQ)
·         Kemampuan seseorang untuk memecahkan masalah dengan cepat.
·    Krativitas mmecahkan masalah secara divergent, menggunakan kemampuan berfikir dari berbagai arah.
·   Kecerdasan dalam arti inteligence memecahkan masaah secara konvegent, memecahkan masalah secara memusat dan mendalam.

c.      Memahami kemampuan dasar khusus (bakat)
Bakat (aptitude) adalah kemampuan bawaan yang berpotensi untuk dikembangkan atau dilatih (Chonny Semiawa. Dkk 1984) dia menegaskan juga bahwa bakat merupakan kemampuan yang inheren telah ada dan menyatu dalam diri seseorang sejak lahir dan terkait dengan struktur otak.

d.      Memahami minat
Berbeda dengan intelegensi dan bakat, determin perkembangan minat adalah faktor lingkungan. Akibatnya minat cenderung berubah-ubah sesuai dengan tuntutan lingkungan, kecuali jika individu sudah memiliki komitmen yang tinggi untuk mengembangkan diri pada objek yang diminatinya.


B.     Petak Johari
Jendela Johari (Johari Window) adalah konsep komuniksi yang diperkenalkan oleh Joseph Luth dan Harry Ingram (karenanya disebut johari). Jendela Johari pada dasarnya mengembangkan tingkat saling pengertian antar orang yang berinteraksi. Jendela Johari ini mencerminkan tingkat keterbukaan seseorang yang dibagi dalam 4 kuadran, kuadran-kuadran tersebut bisa dijelaskan sebagai berikut:

1 Open
2 Blind
3 Hidden
4 Unknow

        
     1.       Open (kita tahu tentang diri kita, begitupun orang lain)
Imformasi tentang diri kita yang diketahui orang lain seperti nama, jabatan, pangkat, status, almamater, dan sebagainya.
2.     Blind (orang lain tahu tentang diri kita, tapi kita tidak tahu)
Diri kita tidak mengetahui sifat-sifat, perasaaan-perasaan dan motivasi-motivasinya sendiri padahal orang lain melihatnya.
3.     Hidden (kita tahu tentang diri kita tapi orang lain tidak tahu)
Berisi infromasi yang kita tahu tentang diri kita tetapi tertutup bagi orang lain.
4.     Unknow (kita maupun orang lain tidak mengetahuinya)

C.    Keterampilan 3M
3M dlaam konseling adalah mendengar dan memperhatikan, memahami dan merespon secara tepat dan positif.

1.      Mendengan dan Memperhatikan, yaitu mendengan dan memperhatikan apa yang ditangkap dari:
a.       Isi pembicaraan
b.      Makna pembicaraan, yaitu apa yang terkandung dalam isi pembicaraan
c.       Latar tempat dan latar belakang pembicaraan
d.      Cara klien menyampiakan isi pembicaraan
2.      Memahami
Konselor memahami apa yang didengar dan apa yang dikatakan oleh klien serta mampu mengomunikasikan pemahaman konselor itu kepada klien. Kemampian pendukung dalam memahami ialah:
a.    Empati, yaitu sikap positif klien terhadap klien yang diapresiasikan melaui kesediaan untuk menempatkan diri pada tempat klien, merasa apa yang dirasakan klien dan mengerti dengan pengertian klien.
b.  Sikap menerima (acceptance), yaitu keadaan konselor untuk menerima keberadaan klien sebagaimana adanya.
3.      Merespon Secara Tepat, Positif dan Dinamis
Dalam memberikan tanggapan hendaknya konselor secara tepat merespon permasalahan yang dialami klien, memberikan tanggapan positif kelpada klien sehingga klien merasa ada yang memahami dan mau membantunya. Dalam merespon klien, konselor perlu memperhatikan hal berikut:
a.    Kalimat singkat dan jelas. Artinya mengena kepada yang disampaikan klien, bahasanya tidak tumoang tindih.
b.    Bahasa harus jelas,bahas tidak boleh campur aduk, dan dipahami dengan baik oleh klien
c.     Bermakna
d.      Tidak menggunakan kata “tetapi” dengan kata “namun”    


D.     Latihan Membuka Diri
Sebagian besar kegiatan komunikasi antar pribadi  selalu dimulai dengan kontak disusul dengan interaksi, lalu komunikasi dan terakhir transaksi pesan. Membuka diri adalah awal dari kontak antar pribadi (Allo Liliweri 2002).
Menurut Johnson (dalam supratiknya, 1995) membuka diri atau self disclosure adalah menggunakan reaksi/tanggapan kita terhadap situasi yang sedang kita hadapi serta memberikan informasi tentang masa lalu atau yang berguna untuk memahami tanggapan kita di masa kini. Tanggapan terhadap orang lain atau terhadap kejadian tertentu lebih melibatkan perasaan. Membuka diri berarti membagikan kepada orang lain perasaan kita terhadap sesuatu yang telah dikatakan atau dilakukannya. Atau perasaan kita terhadap kejadian-kejadian yang baru saja kita saksikan.

Manfaat Membuka Diri
Menurut johnson, berikut beberapa dampak dan manfaat membuka diri terhadap hubungan antar pribadi
a.       Dasar bagi hubungan yang sehat antara dua orang
b.    Semakin kita bersikap terbuka pada orang lain, semakin orang tersebut akan menyukai kita.
c.    Orang yang telah membuka diri terhadap orang lain cenderung memiliki sifat: terbuka, kompeten, ekstrovert, fleksibel, adaptif dan intelegensi.
d.   Membuka diri berarti bersikap realistis. Maka pembukaan diri harus jujur, tulus, dan autentik.






Daftar Pustaka :
Conny, Semiawan dkk. 1992. Pendeketan Keterampilan Proses. Jakarta: Rineka Cipta.
Erman, Amti. 1983. Penyuluhan (counseling). Jakarta: Ghalia Indonesia.
Supratiknya. 1995. Tinjauan Psikologi Komunikasi Antar Pribadi. Yogyakarta: Kanisius (Anggota IKAPI).

No comments:

Post a Comment