A. PENGERTIAN DAN PROSES TERBENTUKNYA
Menurut Forsyth (2010: 3) kelompok adalah hubungan dua orang atau lebih individu dalam suatu hubungan sosial. Untuk memahami kelompok dalam situasi hubungan sosial maka tak lepas kaitannya dengan proses terbentuknya kelompok itu sendiri. Kelompok pada dasarnya didukung dan terbentuk melalui berkumpulnya sejumlah orang. Dalam beberapa situasi tertentu, kumpulan orang-orang itu kemudian menjunjung suatu atau beberapa kualitas tertentu, sehingga dengan demikian kumpulan tersebut menjadi kelompok.
1. Unsur Kuantitas dan Kualitas
Ukuran suatu kelompok dapat dilihat dari unsur kuantitas dan kualitas yang ada pada diri individu/kelompok. Sebagaimana Prayitno (1995) mencontohkan tentang sejumlah orang (misalnya 25 orang) secara bersama-sama berada di suatu tempat, tetapi orang yng satu tidak memiliki hubungan sama sekali dengan prang lainnya, maka sejumlah prang itu dapat di sebut sebagai “kumpulan orang-orang”. Unsur atau ciri yang ada di dalam kumpulan orang-orang itu hanya satu yang “kuantitas”. Jumlah orang (misalnya 25 orang, 30 orang, 39 orang, 40 orang, 100 orang, 500 orang, 1000 orang....dst) tidak membawa dampak terhadap lingkungan kelompok maupun pada dirinya sendiri.
Unsur “kuantitas” dapat meningka secara signifikan apabila diwarnai oleh unsur “kualitas”, yaitu kumpulan orang-orang tersebut di awas mulai tumbuh inisiatif atau dorongan untuk saling berinteraksi satu sama lain. Interaksi antara satu orang dengan orang yang lainnya secara intensif dapat menumbuhkankembangkan rasa kebersamaan. Dengan demikian, diantara orang yang berkumpul itu sudah ada unsur “kualitas” tertentu.
Adanya suatu kelompok tidak harus diawali dengan adanya kerumunan. Suatu kelompok sapat segera terbentuk apabila sebelum orang-orang yang berkumpul terlebih dahulu mereka diberikan informasi tujuan yang akan dicapai dan peranan masing-masing anggota kelompok.
2. Kumpulan Orang Kerumunan dan Kelompok
Berkumpulnya orang-orang pada situasi tertentu tidak serta merta menjadikan “kumpulan orang-orang” tersebut menjadi suatu “kelompok”. Ini dapat terjadi apabila sejumlah orang-orang itu, masing-masing tidak mempunyai hubungan apa-apa atau biasa disebut dengan “kerumunan”. Apabila “kerumunan” tersebut dimasukkan unsur “kuantitas” dan “kualitas” yang mengakibatkan sejumlah orang tersebut saling berkaitan atau berhubungan secara sosial satu sama lain, terjadi saling memahmi satu sama lain, dan secara bersama-sama menetapkan tujuan tertentu yang hendak dicapai demi kepentingan bersama, maka “kerumunan” tersebut dapat membentuk apa yang disebut “kelompok”.
Kelompok pada dasarnya didukung dan terbentuk melalui berkumpulnya sejumlah orang. Kumpulan orang-orang itu kemudian menjunjung beberapa kualitas tertentu sehingga kumpulan tersebut menjadi sebuah kelompk. Seperti halnya dalam kehidupan sehari-hari sering dijumpai peristiwa berkumpulnya sejumlah orang di suatu tempat. Misalnya kecelakaan lalu lintas, pertandingan olah raga, kebakaran, orang-orang yang belanja di pasar, merupakan peristiwa yang menarik perhatian dan mengundang banyak orang datang ke tempat peristiwa tersebut terjadi. Dalam peristiwa tersebut, orang-orang yang datang tidak terlibat satu sama lain. Mereka yang datang ke tempat peristiwa tersebut karena melihat objek yang sama, mereka sama-sama tertarik pada apa dan bagaimana orang-orang itu bertanding olehraga, tertarik pada apa dan bagaimana kecelakaan atau kebakaran terjadi, tertarik pada apa dan bagaimana belanja di pasar itu, tetapi “kebersamaan” yang terdapat pada orang-orang tersebut merupakan “kebersamaan kuantitas”. Diantara orang-orang yanng berkumpul itu belum berkembang kebersamaan dengan “kualitas” tertentu. Pada konsepnya mereka tersebut satu sama lain masih dalam urusan dan tujuannya sendiri-sendiri.
Adanya suatu kelompok tidak harus diawali dengan adanya kerumunan. Suatu kelompok dapat segera terjadi, yaitu apabila sebelum orang-orang yang bersangkutan berkumpul terlebih dahulu kepada mereka yang telah diberitahukan informasi (tujuan) yang akan dicapai dan pernan mereka masing-masing. Setelah mereka berkumpul mereka tidak lagi merupakan kerumunan yang anggotannya tidak saling bekaitan, namun segera mengarahkan susana kelompok yang mamsing-masing anggotanya menyadari dan mengetahui sasaran yang akan dicapai dan bertingkah laku sesuai dengan perannya dan peranan itu saling berkaitan.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa kerumunan adalah kumpulan sejumlah orang yang masing-masing tidak mempunyai hubungan satu sama lain, orang-orang tersebut berkumpul karena ada objek yang menarik perhatian mereka. Sedangkan kelompok adalah berkumpulan sejumlah orang yang saling berkaitan satu sama lain (Prayitno, 1995:14).
Kerumunan dapat berubah menjadi kelompok, yaitu unsur-unsur hubungan antara orang-orang yang ada di dalamnya ditingkatkan. Sebaliknya, suatu kelompok dapat berubah menjadi kerumunan apabila unsur-unsur pengikat antaranggota kelompok menjadi sekedar kumpulan orang-oarang saja apabila (objek yang menimbulkan kerumunan) dan unsur pengikat antara orang-orang yang berkumpul (yang menimbulka kelompok) menjadi hilang atau dihilangkah.
3. Karakteristik Kelompok
Hal terpenting sekaligus faktor utama dalam terbentuknya suatu kelompok, yakni adanya unsur/faktor pengikat sebagai norma bersama yang berfungsi untuk mengarahkan/menjembatani suatu kelompok. Faktor pengikat ini dapat pula disebut karakteristik kelompok yang dapat muncul dan berkembang di dalam suatu kelompok.
Prayitno (1995) dan Forsyth, (2010:12) menyebutkan faktor-faktor pengikat dalam suatu kelompok, antara lain:
Terjadinya interasi antara orang-orang yang ada di dalam kumpulan atau kerumunan itu;
Terbentuknya ikatan emosional anataranggota kelompok sehingga pertanyataan senasib, seperjuangan dan kebersamaan;
Anggota memiliki tujuan atau kepentingan bersama yang ingin dicapai;
Terjadi suasana mempengaruhi dan terpenuhi antaranggota kelompok sehingga menimbulkan suasana ketergantungan antaranggota;
Adanya kepemimpinan (leadership) yang dipatuhi dalam rangka mencapai tujuan atau kepentingan bersama dan
Norma yang diakui dan diikuti secara penuh oleh mereka yang terlibat di dalamnya.
Kemantapan dan kekompakan suatu kelompok ditentuka oleh kekuatan-kekuatan faktor-faktor pengikat (karakteristik) tersebut di atas. Kelompok terjelma dari kumpulan sejumlah orang yang di dalamnya diberikan atau ditumbuhkan “kualitas” tertentu sehingga “kumpulan kuantitas” orang-orang itu memiliki “kebersamaan” itu. Faktor-faktor pengikat dalam kelompok menimbulkan “kebersamaan kelitatif” yang selanjutnya menjadi kunci untuk memungkinkan sejumlah orang yang berkumpul itu menjadi “hidup” dan menjalankan kehidupan berkelompok. Surutnya salah satu atau beberapa atau bahkan semua fakrtor-faktor pengikat tersebut akan menurunkan derajat kemantapan kelompok itu sehingga kelompok tersebut menjadi sekedar “kerumunan” atau “sekumpulan orang-orang” atau bahkan bubar sama sekali.
B. JENIS-JENIS KELOMPOK
Sebagian besar orang memiliki pandangan berbeda terhadap jenis-jenis suatu kelompok. Penggolongan terhadap suatu kelompok digunakan untuk memudahkan mengenali karakteristik dan jenis dari kelompok yang terbentuk itu, sehingga seseorang dapat memilih sikap dan tindakan yang cocok untuk menghadapi situasi yang berkembang dalam kelompok tersebut.
Jenis-jenis kelompok dapat dibedakan atas beberapa klasifikasi. Adapun cara pengklasifikasian yang umum digunakan adalah pengklasifikasian “dua tipe” atau “dua arah”, yang mana tipe satu merupakan kebalikan dari tipe yang lain.
Prayitno, (1995) mengklasifikasikan kelompok dalam 4 (empat) jenis, yaitu: (1) kelompok primer dan kelompok sekunder, (2) kelompok sosial dan kelompok psikologikal, (3) kelompok terorganisasikan dan kelompok tidak terorganisasikan dan; (4) kelompok formal dan kelompok non-formal. Keempat kelompok tersebut dijelaskan sebagai berikut.
1. Kelompok Primer dan Kelompok Sekunder
Kelompok primer yaitu suatu kelompok yang mana hubungan yang terjalin di dalam kelompok tersebut diwarnai oleh hubungan pribadi yang akrab dan kerjasama terus menerus diantara para anggotanya. Contohnya kelompok primer yang paling mantap dan telah menjadi bagian terpenting dalam sejarah peradaban manusia adalah keluarga. Menurut Forsyth, (2013:3) bahwa keluarga sebagian kelompok karena angotanya terhubung karena adanya kesamaan genetik dan ikatan sosio-emosional yang sangat bermakna bagi setiap anggotanya.
Sementara itu, kelompok sekunder yaitu suatu kelompok yang mana hubungan yang terjalin di dalam kelompom tersebut diwarnai oleh arah kegiatan dan gerak gerik kelompok itu. Contoh dari kelompok sekunder dapat dijumpai pada kelompok politik, kelompok keagamaan, dan kelompok para ahli (profesi) pada bidang tertentu.
Meskipun kelompok sekunder memiliki ikatang yang cukup kuat dalam kelompok, akan tetapi keberadaan dan kegaitan kelompok sekunder tidak bergantung pada hubungan pribadi secara akrab.
2. Kelompok Sosial dan Kelompok Psikologikal
Dalam klasifikasian ini, jenis-jenis kelompok dibedakan tertutama sekali atas dasar yang ingin dicapai. Pada kelompok sosial, tujuan yanghendak dicapai tidak bersifat pribadi (impersonal), melainkan merupakan tujuan bersama dan untuk kepentingan bersama para anggota kelompok. Contoh dari kelompok sosial dapat kita jumpai pada organisasi atau serikat pekerja/buruh.
Sementara itu, kelompok psikologikal yaitu kelompok yang dibentuk atas dasar mempribadi (personal), dimana para anggota kelompok biasanya didorong oleh kepentingan anatarpribadi. Contoh kelompok psikologikal dapat dijumpai pada himpunan para korban kebakaran pada suatu wilayah, atau sekelompok anak perempuan yang duduk dan berkumpul di bawah pohon rindang di sudut pekarangan sekolah setiap waktu istirahat.
Berbeda dengan kelompok primer dan sekunder yang memiliki batasan dan perbedaan yang jelas di anatra keduanya, untuk kelompok sosial dan kelompok psikologikal tidakan demikian. Kelompok sosial dan kelompok psikologikal pada praktiknya kadang “tumpang tindih”, yaitu sulit dibatasi arah perbedaannya manakala sudah terkontaminasi dengan beberapa kepentingan tertentu.
Contohnya, para anggota butuh pada unit kerja tertentu (sebgau kelompok sosial) “mungkin” tidak memikirkan lagi tujuan ataupun permasalahan yang menyangkut organisasi/unitnya, namun bisa jadi telah berubah menjadi kelompok psikologikal karena mereka senang berkumpul bersama (ngobrol, jalan, nongkrong, dll) dan saling mengadakan hubungan anatarpribadi demi mencapai kesenangan secara pribadi.
3. Kelompok Terorganisasikan dan Kelompok Tidak Terorganisasikan
Kelompok yang terorganisasikan yaitu suatu kelompok yang terbentuk berdasarkan tata aturan yang disepakati secara bersama dan bersifat tegas. Masing-masing anggota pada kelompok terorganisasikan emmainkan peran tertentu. Cara utama pada kelompok terorganisasikan ialah adanya pemimpin (leader) yang secara jelas mengatur dan memberi kemudahan serta mengawasi jalannya perasan masing-masing anggota kelompok. Disamping itu kelompok yang teroganisasikan cenderung memiliki aturan yang ketat, atau boleh dikatakan hanya memberi sedikir ruang bagi adanya fleksibilitas bagi para anggotanya.
Sementara itu, pada kelompok tidak terorganisasikan yaitu kelompok yang terbentuk secara bebas atau keterikatan yang ditumbuhkan oleh para anggota kelompok. Ciri kelompok tidak terorganisaiskan adalah adanya fleksibilitas yang besar di dalam kelompok. Lebih lanjut, peranan pemimpin kelompok tidak menonjol; peranan pemimpin kelompok justru lebih banyak ditentukan oleh selera/kemauan para anggotanya.
4. Kelompok Formal dan Kelompok Informal
Menurut Prayitno, (1995) kelompok formal yaitu suatu kelompok yang terbentuk berdasarkan aturan tertentu yang bersifat resmi (tertulis). Gerak dan ara kegiatan kelompok formal lebih cenderung diatur dan tidak boleh menyimpang dari ketentuan yang telah dibuat untuk itu.
Dalam praktiknya, aturan resmi tertulis tersebut dapat dituangkan pada Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) suatu organisasi/lembaga. Sedangkah kelompok informal, yaitu suatu kelompok yang dibentuk dengan tidak didasarkan pada hal-hal resmi (tertulis) sebagaimana pada kelompok formal. Pada kelompok informal, gerak adan arah kegaitan kelompok lebih didasarkan oleh kemauan, kebebasan, dan/atau selara orang-orang yang terlibat di dalamnya.
Kelompok terorganisasikan dapat muncul hal-hla yang bersifat resmi (formal) maupun tidak resmi (informal). Hal ini terjadi apabila pembagian tugas dan peranan yang dilakukan oleh para anggota kelompok yang terorganisasikan memiliki keterkaitan hubungan antaranggota kelompok yang bersifat resmi. Dalam kelompok yang terorganisasikan dapat muncul pula satuan kelompok yang lebih kecil yang sifatnya informal, seperti Arisan Majelis Tak’lim.
5. Kelompok Sukarela dan Kelompok Tidak Sukarela
Selain keempat jenis kelompok sebagaimana yang telah disebutkan di atas, jenis kelompok dapat juga diklasifikasikan berdasarkan sifat keanggotannya, yaitu dibagi ke dalam kelompok sukarela dan kelompom tidak sukarela. Kelompok sukarela yaitu kelompok yang dibentuk berdasarkan keinginan pribadi masing-masing anggota. Keanggotaan yang bersifat sukarela biasanya lebih bebas dan peranan anggotanya lebih besar di dalam menentukan gerak dan arah kegaitan kelompoknya.
Contoh kelompok yang keanggotaannya secara sukarela dapat dijumpai pada kelompok relawan bencana gempa bumi/banjir. Sebaliknya, kelompok tidak sukarela terbentuk bukan didasarkan pada keinginan pribadi masing-masing anggota. Kelompok tidak sukarela cenderung memiliki hubungan yang sangat kuat. Contoh kelompok tidak sukarela dapat dijumpai pada anggota dalam suatu keluarga.
Prayitno, (1995) mengungkapkan sekurang-kurangnya tiga lasan yang mendasari mengapa seseorang mau memasuki suatu kelompok secara sukarela yaitu:
Dalam kelompok itu dapat dicapai tujuan atau kepentingan pribadi yang penting, misalnya kedudukan dan penghargaan;
Kelompok itu menyajikan kegiatan-kegiatan yang menarik, seperti diskusi, menjelajah alam, darmawisata, olahraga, dan lain sebagainya; dan
Dengan memasuki kelompok itu kebutuhan-kebutuhan tertentu dapat terpenuhi, seperti kebutuhan untuk memiliki dan dimiliki, kebutuhan akan dikenal oleh orang lain, kebutuhan akan rasa aman dan lain sebagainya.
C. DINAMIKA KELOMPOK
Kelompok yang baik yaitu kelompok yang memiliki dinamika kelompok yang mantap. Yang dimaksud dengan dinamika kelompok adalah sutau gambaran berbagai kualitas hubungan yang “positif”, “bergerak”, ”bergulir”, dan ”dinamis” yang menandai kehidupan suatu kelompok. Menurut Kurt Lewin, dalam Forsyth (2010:18) bahwa dinamika kelompok yaitu cara bereaksi individu untuk bertindak atas keadaan yang berubah dalam suatu kelompok.
Sejalan dengan pendapat di atas dinamika kelompok juga bisa diartikan sebagi suasana berinteraksi, saling berbagi, saling bertukar pendapat, saling berbagi pengalaman, menyempurnakan, saling memperkuat, saling mengisi dan saling memahami orang yang satu dengan orang yang lain dalam suatu kelompok.
Dinamika kelompok dapat ditandai dengan munculnya hal-hal sebagi berikut.
a. Kelompok itu diwarnai oleh semangat yang tinggi, dan kerjasama yang lancar dan mantap.
b. Adanya saling mempercayai yang sangat tinggi anataranggota kelompok;
c. Antaranggota kelompok saling bersikap sebagai sahabat dalam arti yang sebernanya, mengerti dan menerima secara positif tujuan bersama;
d. Anggota kelompok merasa kuat, nyaman dan aman sehingga mendorong rasa setia, mau bekerja keras dan berkorban setiap anggota kelompok;
e. Komunikasi yang terjalin antaranggota kelompok merupakan komunikasi yang efektif dan membangun;
f. Anggota kelompok terlibat dalam suasana berfikir, merasa bersikap, bertindak dan bertanggung jawab yang mendorong bagi terciptanya kebaikan bagi kelompok, dan;
g. Jika timbul suatu persaingan antaranggota kelompok, maka persaingan tersebut merupakan persaingan yang kompetiti dan sehat.
Kualitas hubungan dalam kelompok sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor tertentu. Prayitno, (1995) menjelaskan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas hubungan suatu kelompok anatar lain:
a. Tujuan dan kegiatan kelompok;
b. Jumlah anggota;
c. Kualitas pribadi masing-masing anggota kelompok;
d. Kedudukan kelompok, dan;
e. Kemampuan kelompok dalam memnuhi kebutuhan anggota untuk saling berhubungan satu sebagai kawan, kebutuhan untuk diterima secara positif, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan akan bantuan moral, kebutuhan akan kasih sayang, dan lain sebagainya.
Kondisi positif yang ada pada faktor-faktor tersebut akan dapat menunjang terhadap berfungsinya kelompok untuk mencapai tujuan bersama. Faktor-faktor yang disebutkan di atas boleh jadi memang semua ada tetapi apabila dinamika kelompoknya tidak berjalan sebagimana yang diharapkan, makan kinerja kelompok itu diragukan kehandalannya.
Dinamika kelompok merupakan sinergi dari semua faktor yang ada di dalam suatua kelompok; artinya merupakan pengarahan secara serentak semua faktir yang dapat digerakkan dalam klompok itu. Dengan demikian, dinamika kelompok merupakan jiwa yang menghidupkan dan menghidupi suatu kelompok.
No comments:
Post a Comment